Tesla Setop Model S dan X, Total Alih ke Robot Optimus
Tesla resmi menghentikan produksi Model S dan Model X, mengubah total pabrik Fremont jadi lini perakitan robot humanoid Optimus dengan target satu juta unit per tahun.
Tesla resmi menghentikan produksi dua model mobil ikoniknya, Model S dan Model X. Bukan karena penjualan anjlok drastis, meski tren permintaan memang terus menurun dibanding Model 3 dan Model Y, melainkan karena perusahaan memilih mengalihkan seluruh kapasitas pabrik untuk sesuatu yang jauh lebih berisiko: robot.
Pabrik Fremont, California, yang selama ini jadi rumah bagi dua sedan dan SUV premium tersebut, kini dikonversi total menjadi lini perakitan robot humanoid Optimus. Elon Musk menargetkan kapasitas produksi awal mencapai satu juta unit robot per tahun dari fasilitas ini saja.
Dari mobil mewah ke robot pekerja
Keputusan ini bukan proyek sampingan. Tesla benar-benar mengorbankan lini produk yang selama bertahun-tahun jadi simbol status mobil listrik premium demi bertaruh pada teknologi yang belum teruji di pasar massal.
Hasilnya sudah mulai terlihat. Optimus Gen-3, model produksi massal pertama Tesla, telah keluar dari jalur perakitan dan menjalani uji coba internal. Robot setinggi 173 sentimeter dengan bobot 57 kilogram ini dirancang membawa beban hingga 20 kilogram, dengan baterai yang mendukung operasi terus-menerus selama 10 jam.
Di Shanghai, langkah lebih jauh sudah diambil. Sebanyak 50 unit Optimus Gen-3 dikerahkan langsung ke bengkel perakitan mobil, bertugas memasang kursi, merakit interior, memindahkan komponen, hingga inspeksi kualitas — bukan sekadar demo laboratorium, tapi kerja nyata di lini produksi.
Ekspansi berikutnya sudah dipetakan. Tesla merencanakan lini produksi generasi kedua di Gigafactory Texas dengan target jangka panjang mencapai 10 juta unit per tahun, mengintegrasikan Optimus dengan infrastruktur embodied AI dan sistem pelatihan Full Self-Driving yang selama ini dipakai untuk mobil otonom Tesla.
Kenapa ini penting buat manufaktur?
Tesla bukan satu-satunya pemain. Kompetisi datang dari Figure AI, Boston Dynamics, hingga sejumlah produsen asal China yang juga mengejar pasar robot humanoid. Analis Bank of America memproyeksikan pengiriman robot humanoid global bisa menembus 1,2 juta unit pada 2030 dan melonjak hingga 10 juta unit pada 2035.
Yang membuat langkah Tesla berbeda adalah skala taruhannya. Ini bukan sekadar menambah lini produk baru, melainkan menghapus lini lama yang sudah mapan demi memberi ruang penuh untuk teknologi yang taruhannya masih besar.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah robot akan masuk ke pabrik, melainkan seberapa cepat perusahaan-perusahaan lain, termasuk di Indonesia, mulai menghitung ulang kalkulasi serupa: kapan biaya mempertahankan tenaga kerja manual jadi lebih mahal ketimbang berinvestasi pada robot pekerja.
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.