20 September 2026

Bagaimana Rumah 30 m² di Jateng Bisa Dibangun Cuma Rp60 Juta?

Rumah bantuan tipe 30 meter persegi selesai dalam 1,5 bulan dengan biaya Rp60 juta. Apa yang membuatnya jauh lebih hemat dari biasanya?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
14 Agustus 2026, 11:33 WIB 2 menit baca 322 pembaca
Bagaimana Rumah 30 m² di Jateng Bisa Dibangun Cuma Rp60 Juta?
Rumah bantuan tipe 30 m² berbahan bata interlock yang diresmikan di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. (detiknews)

Di Desa Jaten, Wonogiri, sebuah rumah 30 meter persegi berdiri hanya dengan anggaran Rp60 juta. Biasanya, tukang menghitung Rp3 juta per meter persegi. Totalnya bisa tembus Rp90 juta. Hematnya hampir sepertiga.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meresmikan rumah itu pada 13 Agustus 2026. Ia bekerja sama dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Teknologi yang dipakai disebut bata interlock.

Dari Bongkahan yang Saling Mengunci

Bata interlock bekerja seperti balok mainan anak-anak. Setiap bata saling mengait tanpa banyak adukan semen. Pemasangan jadi lebih cepat dan hemat material.

Produk ini dikembangkan SIG sejak sekitar 2019. Perusahaan menyebutnya turunan semen hijau. Uji di laboratorium menyatakan dindingnya tahan gempa. Pengalaman sebelumnya di Kendal dan IKN menunjukkan waktu pengerjaan bisa jauh lebih singkat.

Di Wonogiri, dua rumah menjadi lokasi uji coba pertama untuk program bantuan Pemprov. Salah satu penerimanya Isnano Dalhari Nuryanto. Ia buruh tani berpenghasilan Rp1–2 juta sebulan. Sebelumnya keluarganya menumpang. Kini rumah itu siap ditempati.

“Layak banget (rumahnya),” kata Isnano pada hari peresmian.

Angka yang Membuat Pemerintah Tertarik

Taj Yasin menjelaskan perhitungannya secara terbuka. “Kalau dihitung oleh tukang, biasanya satu meter persegi itu Rp 3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi habisnya Rp 90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp 60 juta.”

Ia mendorong penerapan bata interlock khusus untuk bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah. Uji coba masih terbatas dua unit. Hasilnya akan dievaluasi dulu sebelum diperluas.

Pada 2026, APBD Jateng mengalokasikan perbaikan 5.111 unit rumah tidak layak huni. Di Wonogiri saja ada 235 unit. Pemerintah juga menyiapkan 120 unit rumah baru, termasuk 20 unit di kabupaten yang sama.

Apa yang Bisa Berubah Jika Diperluas

Pengalaman pengembang di Kendal sebelumnya mencatat efisiensi biaya sekitar 35 persen. Waktu pengerjaan bisa dua kali lebih cepat dibanding metode biasa. Dindingnya terlihat rapi dan ruangan terasa lebih sejuk.

Namun skala uji coba di Wonogiri masih kecil. Ketersediaan material di lapangan, keterampilan tukang setempat, dan ketahanan jangka panjang masih perlu diuji lebih lanjut. Laporan Detik pada 13 Agustus 2026 mencatat langkah ini sebagai bagian upaya menekan backlog perumahan.

Jika evaluasi berjalan baik, metode ini berpotensi mempercepat program rumah bantuan dan renovasi rumah tidak layak huni di Jawa Tengah. Biaya yang lebih rendah berarti anggaran bisa menjangkau lebih banyak keluarga.

Apakah inovasi sederhana seperti bata yang saling mengunci ini akan mengubah cara pemerintah membangun rumah untuk warga berpenghasilan rendah?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.