21 September 2026

Rumah Tanah Cimahi Tahan Gempa, Fakta atau Klaim?

Dinding dari tanah, jerami, dan bambu di Cimahi diklaim tidak retak saat gempa. Siapa yang menguji klaim itu?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
13 September 2026, 11:12 WIB 5 menit baca 112 pembaca
Rumah Tanah Cimahi Tahan Gempa, Fakta atau Klaim?
Rumah Tanah Misbah Dwiyanto di Cibabat, Cimahi Utara, berbahan tanah, jerami, dan rangka bambu. (detikJabar)

Di Cimahi Utara, sebuah rumah dua lantai berdiri tanpa bata. Dindingnya dari tanah, jerami, dan pasir. Rangkanya bambu yang sudah direndam.

Pemiliknya, Misbah Dwiyanto, mengatakan rumah itu tidak retak saat gempa kemarin. Ia juga menghitung kasar: bangunannya bisa berumur 50 tahun. Dua kalimat itu yang membuat rumah ini ramai. Dua kalimat itu pula yang belum ada lembaga resmi yang mengujinya.

Yang menarik bukan nostalgia rumah nenek. Yang menarik: racikan mana yang tidak retak, bambu mana yang tidak dimakan rayap, dan bagian mana yang wajib dirawat kalau teknik ini mau ditiru di kampung.

Tanah yang diinjak, bukan bata yang disusun

Misbah menamai huniannya Rumah Tanah. Letaknya di Jalan Pasantren, Cibabat, Cimahi Utara. Luasnya 92 meter persegi, dua lantai, gaya rumah panggung.

Ia dan istri, Fitria Ivana Pratita, tinggal di situ bersama dua anak. Sejak 2018 ia menguji bangunan kecil 3 kali 5 meter di lahan sendiri. Ia lalu belajar teknik bangunan alami di Thailand dan Austria.

Proyek rumah utama selesai Desember 2024. Pengerjaan berlangsung sekitar satu tahun. Tukang, relawan, dan teman arsitektur dari luar negeri ikut bekerja.

Dinding sampai plafon memakai campuran tanah, pasir, dan jerami. Tanah diinjak sekitar 15 menit sampai merata, lalu menempel pada rangka. Teknik ini dalam dunia bangunan alami disebut dinding cob: tanah basah yang dipadatkan dengan serat tumbuhan, bukan bata yang dilem semen.

Misbah pernah membandingkan dua racikan. Tanah plus pasir saja lebih mudah retak. Tanah plus jerami, menurut ujinya sendiri, lebih aman. Jerami di sini bekerja seperti serat: menahan tarikan supaya dinding tidak pecah.

Bambu menggantikan besi tulangan. Sekitar 300 batang, direndam dulu agar kadar gulanya hilang. Gula itulah yang biasanya mengundang rayap. Tangga memakai rangka bambu yang diisi tanah. Lantai atas memakai kerangka bambu dan papan multipleks.

Satu hal yang sering hilang di judul viral: rumah ini bukan tanpa semen sama sekali. Kaki dan fondasi tetap memakai beton. Kamar mandi tidak memakai dinding tanah. Kusen, pintu, dan jendela memakai kayu jati bagian yang membuat biaya merangkak.

Total pembangunan sekitar Rp 300 juta. Tanah dua truk hanya Rp 1,6 juta, pasir tiga truk Rp 3 juta, jerami 1,5 truk Rp 2,6 juta. Yang mahal justru kayu dan fondasi. Misbah mengklaim material utamanya sekitar 40 persen lebih murah dari rumah bata-semen.

Lolos gempa belum ada yang mengukur

Pada 9 September 2026, Misbah berkata kepada detikJabar: rumahnya aman saat gempa kemarin karena tulangan bambunya fleksibel. Bulan Februari 2026, dalam liputan Deutsche Welle yang dikutip detikProperti, ia memakai kalimat serupa.

Yang tidak muncul di sumber mana pun: magnitudo gempa itu, tanggal pastinya, dan berita pemeriksaan dari BMKG atau BPBD atas rumah ini. Tidak ada sertifikat SNI. Tidak ada laporan insinyur struktur.

Gempa yang tercatat di sekitar Cimahi tidak menunjuk objek ini. Gempa Garut magnitudo 6,5 pada 27 April 2024 terasa di Cimahi. Kepala Pelaksana BPBD Cimahi Fitriandy Kurniawan saat itu mencatat satu ruang kelas dan dua rumah rusak ringan bukan di alamat Rumah Tanah. Rumah Misbah pun masih dalam tahap bangun.

Gempa magnitudo 2,3 dekat Cimahi pada 21 November 2025, menurut Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, berasal dari sesar dangkal, bukan Sesar Lembang. Tidak ada kerusakan. Gempa magnitudo 3,0 di timur Cimahi pada 6 Februari 2026, menurut Kasi Kedaruratan BPBD Cimahi Thohthoh, juga tanpa laporan rusak.

Jadi yang bisa ditulis dengan aman: pemilik mengklaim dindingnya tidak retak. Belum ada pihak ketiga yang mengukur klaim itu pada gempa yang merusak.

Logika yang ia pakai tidak asing. Rumah panggung, rangka yang bisa lentur, atap yang lebar, dinding yang tidak kaku seperti beton pejal. Itu dekat dengan cara rumah gadang atau joglo merespons guncangan. Arsitek Yori Antar pernah menjelaskan prinsip serupa: fondasi yang tidak tertanam kaku membuat bangunan goyang, bukan patah. Analogi itu membantu. Analogi itu bukan surat izin layak gempa.

Umur 50 tahun juga perhitungan kasar Misbah. Syaratnya ia sebut sendiri: atap harus lebih panjang supaya hujan tidak memukul dinding, lalu dinding diaci ulang dengan tanah. Dinding tidak boleh menempel tanah basah. Kalau ada gumpalan yang lepas, tanah itu dibasahi dan ditempel lagi.

Yang bisa ditiru kampung, yang jangan dijanjikan

Kalau angle-nya renovasi IRT atau kampung, yang berguna adalah daftar kerja, bukan janji tahan setengah abad.

Campuran yang ia unggulkan: tanah, pasir, jerami bukan tanah dan pasir saja. Bambu harus direndam, jangan dipasang mentah. Atap harus menjorok jauh. Kaki bangunan harus terangkat dari tanah basah. Aci tanah harus diulang.

Keunggulan yang ia ukur sendiri: siang 30 derajat di luar, 26 derajat di dalam. Malam 17 derajat di luar, 21–22 derajat di dalam. Dinding tanah menyerap dan melepas lembap, meredam suara, dan tidak memaksa penghuni menyalakan pendingin ruangan.

Keterbatasannya sama pentingnya. Rumah Rp 300 juta bukan rumah murah-meriah. Yang hemat hanya dinding tanah. Lembap menjadi musuh utama jika detail air salah. Pengerjaan butuh banyak tangan; Misbah sempat kekurangan orang. Sistem ini belum masuk standar rumah sederhana tahan gempa seperti SNI 1726 sebagai konstruksi tersertifikasi.

Setelah rumah sendiri jadi, Misbah mulai membuka jasa bangun dan lokakarya, menurut liputan Deutsche Welle. Itu langkah bisnis, bukan stempel kelayakan dari dinas bangunan.

Dinas PUPR Cimahi, Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat, dan laboratorium struktur kampus belum berbicara khusus soal objek ini di sumber terbuka sampai pertengahan September 2026. Rasio campuran yang presisi dan jenis bambu yang dipakai juga belum dipublikasikan angka per angkanya.

Kalau dinding tanah di Cimahi benar-benar bisa menahan guncangan tanpa retak, siapa yang seharusnya mengukurnya dulu: pemilik yang sudah tinggal di dalamnya, atau insinyur yang belum pernah masuk ke rumah itu?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.