27 Juli 2026

Robot Humanoid yang Justru Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikannya

Bayangkan Anda bisa masuk ke tubuh robot di lokasi bencana tanpa meninggalkan tempat aman. Mungkinkah teknologi ini mengubah cara Indonesia merespons gempa dan longsor?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
27 Juli 2026, 14:25 WIB 3 menit baca 2 pembaca
Robot Humanoid yang Justru Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikannya
Operator mengendalikan robot humanoid dari jarak jauh melalui sistem telepresence immersive. Gerakan tubuhnya dipetakan secara real-time ke robot yang sedang memeriksa bangunan rusak pasca gempa. (Ilustrasi AI Generate)


Saat Tubuh Manusia “Pindah” ke Robot

Sistem bernama “Be There Without Being There” bekerja dengan cara memetakan seluruh gerakan tubuh operator secara langsung ke robot humanoid. Saat manusia berjalan, robot ikut berjalan. Saat kepala menoleh, robot ikut menoleh.

Sementara itu, robot mengirimkan citra lingkungan sekitarnya secara real-time dalam bentuk digital twin salinan digital hidup dari lokasi tersebut kembali ke operator. Hasilnya, orang yang mengendalikan merasa seolah-olah secara fisik hadir dan berfungsi di tempat yang jauh.

Cruz-Neira menyebut teknologi ini hampir seperti konsep dalam film Avatar. Ia bahkan menilai sistem ini sebagai salah satu yang pertama kali benar-benar memungkinkan manusia berfungsi secara fisik di lokasi remote melalui robot.

Pengembangan melibatkan mahasiswa UCF sebagai pelaksana utama, dengan bimbingan Cruz-Neira dan asisten profesor Mohsen Rakhshan. Platform Omni One dari Virtuix turut berperan, memungkinkan operator berjalan alami di treadmill khusus sambil mengendalikan robot.

Dari Laboratorium ke Penghargaan Internasional

Proyek ini berawal dari kerja mahasiswa di bawah Institute for Simulation and Training UCF. Pada Mei 2026 sistem masuk finalis Auggie Awards. Kemudian pada 17 Juni 2026, di Augmented World Expo USA di Long Beach, sistem itu dinobatkan sebagai pemenang kategori Best Interaction Product.

Auggie Awards sendiri merupakan penghargaan paling bergengsi di industri realitas tertambah sejak 2010. Tahun ini mereka menerima lebih dari 330 nominasi di 18 kategori. Cruz-Neira sendiri juga menerima penghargaan terpisah sebagai Innovator of the Year 2026.

Dalam rilis resminya, penyelenggara menggambarkan sistem tersebut sebagai teleoperasi immersive yang memungkinkan pengguna “menghuni” robot humanoid secara real-time dengan pemetaan gerakan tubuh penuh, sambil menerima streaming digital twin dari lingkungan sekitar.

Mengapa Ini Penting untuk Indonesia

Cruz-Neira secara terbuka menyebut beberapa aplikasi praktis: robot bisa memasuki bangunan rusak pasca hurricane atau gempa untuk menilai kerusakan struktural dan mencari korban. Tenaga medis bisa memeriksa pasien jarak jauh. Bahkan seseorang yang tidak bisa bepergian bisa “berjalan-jalan” di Paris melalui sudut pandang robot.

Bagi Indonesia yang rawan gempa, longsor, dan banjir, skenario pertama terasa sangat dekat. Inspeksi jembatan atau gedung yang rusak pasca-bencana sering kali menempatkan manusia di zona berbahaya. Teknologi seperti ini menawarkan alternatif: manusia tetap memegang kendali penuh dengan intuisi dan pengalamannya, sementara tubuh robot yang menanggung risikonya.

Tim pengembang masih menyempurnakan sistem. Mereka berencana menambahkan kecerdasan buatan agar robot memiliki otonomi terbatas, serta integrasi rasa sentuhan agar operator bisa merasakan suhu, tekstur, dan memanipulasi objek dari jarak jauh.

Cruz-Neira menekankan filosofi di balik proyek ini. “Pada akhirnya kita tetap memiliki elemen manusia, dan robot membantu memperluas kemampuan manusia melalui teknologi ini. Proyek ini tentang menggunakan teknologi untuk memperkuat kemampuan kita agar bisa melakukan sesuatu dengan lebih aman dan efektif.”

Ia juga menyoroti peran mahasiswa. “Proyek ini sepenuhnya dikerjakan oleh mahasiswa UCF. Merekalah yang menyelesaikan semua masalah teknis hingga mencapai tingkat kecanggihan yang memenangkan penghargaan.”

Sumber utama: rilis UCF, siaran pers AWE, dan halaman resmi CECS UCF.

Apakah Indonesia siap membayangkan masa depan di mana petugas SAR atau insinyur struktur bisa “masuk” ke zona bencana lewat tubuh robot, sambil tetap mengandalkan intuisi manusia yang tak tergantikan?

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.