Hitachi, Develon, dan Samsara Serentak Kejar Otomasi Konstruksi
Diam-diam, tiga raksasa alat berat memacu otomasi dari tambang sampai kantor pusat — tanda pergeseran industri sedang berlangsung serentak.
Selama puluhan tahun, konstruksi dikenal sebagai industri yang enggan berubah. Sebagian besar mesin berat yang dipakai hari ini sebenarnya sudah ditemukan sejak era 1950-an. Tapi dalam rentang sepekan terakhir, tiga nama besar justru bergerak ke arah yang sama: otomasi.
Hitachi Construction Machinery menggandeng startup Pronto untuk mengotomasi tambang. Develon memamerkan sistem keselamatan berbasis AI di ekskavator terbarunya. Samsara, penyedia platform pelacakan armada, bahkan mengubah identitas mereknya demi menegaskan posisi di sektor konstruksi. Ketiganya tak saling terkait, tapi arah geraknya sama.
“Pernikahan Tanpa Wajib Setia” di Tambang
Pada 16 Juli lalu, Hitachi Construction Machinery menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pronto, perusahaan asal Amerika yang mengembangkan sistem pengangkutan otonom atau autonomous haulage system (AHS). Sistem ini memungkinkan truk tambang berjalan sendiri tanpa sopir di kabin.
Yang membuat kerja sama ini beda: sistem Pronto bersifat OEM-agnostic, alias tak terikat satu merek alat berat. Truk Caterpillar, Komatsu, atau Hitachi bisa dipasangi sistem yang sama dalam satu tambang.
Ini penting karena kebanyakan tambang di dunia mengoperasikan armada campuran, hasil akumulasi pembelian selama puluhan tahun dari berbagai merek. Pronto sendiri telah mengoperasikan sistemnya untuk mengangkut jutaan ton material secara komersial di tiga benua, termasuk di tambang milik Heidelberg Materials di Texas.
Hitachi turut mengumumkan rencana mengganti nama perusahaan menjadi LANDCROS Corporation pada April 2027, sebagai bagian dari strategi membuka ekosistem mereka ke lebih banyak mitra teknologi.
Mata Radar di Sekitar Ekskavator
Sementara Hitachi menyasar tambang, Develon menggarap keselamatan di lokasi konstruksi biasa. Produsen alat berat asal Korea Selatan ini akan memamerkan armada Seri 9 mereka di ajang steinexpo, September mendatang di Jerman.
Fitur andalannya bernama E-Stop, sistem yang memakai kombinasi kamera dan radar untuk mendeteksi manusia di sekitar ekskavator. Begitu seseorang masuk zona bahaya sejauh empat meter, mesin otomatis menghentikan gerakan ayun maupun mundurnya.
Develon menyebut sistem ini terinspirasi dari teknologi pengereman darurat di industri otomotif. Bedanya, di lokasi konstruksi yang padat alat berat dan pekerja, jarak pandang operator sering kali terbatas — dan itulah celah yang coba ditutup teknologi ini.
Dari Pelacak Truk Jadi "Otak" Operasional
Cerita ketiga datang dari arah berbeda. Samsara, yang selama ini dikenal sebagai penyedia perangkat pelacak kendaraan (telematika), pekan lalu meluncurkan identitas merek baru untuk pertama kalinya sejak berdiri.
Konstruksi kini menjadi pasar pertumbuhan terbesar Samsara, dengan pendapatan berulang tahunan atau annual recurring revenue (ARR) dari sektor ini mencapai USD 2 miliar. Perusahaan juga baru meluncurkan Agent Studio, semacam ruang kerja yang memungkinkan tim operasional membangun asisten AI mereka sendiri untuk memicu tindakan otomatis — mulai dari permintaan perbaikan alat hingga komunikasi ke pemasok.
Pergeseran ini mengubah cara Samsara dijual ke pelanggan. Dari sekadar penyedia data dan dasbor, kini mereka memposisikan diri sebagai lapisan kecerdasan yang benar-benar mengambil alih sebagian pekerjaan operasional.
Satu Pola di Balik Tiga Berita
Tiga pergerakan ini tampak seperti berita korporat biasa jika dibaca sendiri-sendiri. Tapi disandingkan, semuanya menunjuk ke arah yang sama: otomasi konstruksi tidak lagi menjadi proyek masa depan segelintir startup, melainkan agenda serentak para pemain besar yang sudah punya jaringan distribusi dan pelanggan mapan.
Produktivitas tenaga kerja konstruksi Amerika Serikat tercatat menurun sekitar 0,6% per tahun sejak 1965, sementara ekonomi secara umum tumbuh 1,6% pada periode yang sama. Angka inilah yang kini mendorong kapital, riset, dan strategi merek raksasa industri bergerak ke arah yang sama — mengejar produktivitas yang sudah tertinggal setengah abad.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.