20 September 2026

Kayu Tembus Pandang, Siap Gantikan Kaca Rumah?

BRIN membuat kayu tembus cahaya. Transmitansi baru di atas 50%, jendela rumah sudah bisa pakai ini?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
28 Agustus 2026, 13:35 WIB 5 menit baca 135 pembaca
Kayu Tembus Pandang, Siap Gantikan Kaca Rumah?
Kayu alami (kiri) dan kayu transparan (kanan) setelah diolah. (Ilustrasi AI Generate)

Kayu yang seharusnya buram tiba-tiba diminta berperan seperti kaca. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengumumkan biokomposit hayati yang menembuskan cahaya, lalu menempatkannya sebagai saingan material kaca berbahan pasir kuarsa.

Keterangan itu keluar di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026, dan ANTARA merilisnya malam hari. Yang berbicara bukan kepala lembaga, melainkan Adik Bahanawan, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN.

Klaim utamanya terdengar menggoda. Kayu yang selama ini tidak tembus pandang, setelah rekayasa material, menampilkan transmitansi cahaya lebih dari 50 persen. Transmitansi, dalam bahasa sederhana, mengukur seberapa banyak cahaya yang berhasil melewati sebuah benda.

Kayu buram yang dipaksa “berperilaku” seperti kaca

Kayu tidak tembus cahaya karena lignin zat perekat alami di dinding sel menyerap cahaya. Udara di pori kayu juga memantulkan cahaya ke segala arah. Itulah sebabnya papan tetap gelap meski tipis.

Prosesnya, menurut Adik, berjalan dalam dua tahap. Pertama delignifikasi: lignin diluruhkan agar kayu tidak lagi menyerap cahaya. Kedua, rongga diisi polimer agar kerangka selulosa tetap berdiri, tetapi cahaya bisa lewat. Hasilnya disebut biokomposit: kayu yang sudah berubah sifat karena digabung bahan lain.

“Lignin merupakan salah satu komponen utama di kayu yang bersifat opak atau tidak tembus cahaya,” kata Adik di Jakarta, 22 Agustus 2026. “Jadi, kalau ada cahaya, dia tidak mentransmisikan tapi dia menyerap.”

Hampir semua jenis kayu, daun jarum maupun daun lebar, menurutnya berpotensi. Perbedaannya hanya pada kadar dan tipe lignin. Semangatnya, katanya, green lifestyle: bahan tanpa silika, agar eksploitasi tambang pasir kuarsa tidak terus merangsek.

Angka “lebih dari 50 persen” perlu dibaca tenang. Kaca jendela biasa menembuskan sekitar 90 persen cahaya. Di laboratorium dunia, lembaran kayu transparan setebal kira-kira 1 milimeter memang sering mencapai 80–90 persen. Begitu tebalnya naik mendekati 4 milimeter, angka itu bisa jatuh ke sekitar 40 persen.

BRIN belum merinci ketebalan sampel, jenis kayu, jenis polimer, maupun uji cuaca tropis. Sampai 28 Agustus 2026, rilis teknis lengkap di situs lembaga itu belum muncul.

Bukan sulap BRIN, jalur riset ini sudah berjalan di kampus

Ide kayu tembus pandang bukan barang baru. Siegfried Fink memakainya pada 1992 untuk melihat anatomi kayu. Sekitar 2016, Lars Berglund di KTH Swedia dan Liangbing Hu di University of Maryland mengangkatnya sebagai material bangunan hemat energi.

Di Indonesia, jalur itu sudah lebih dulu berdetak di Universitas Gadjah Mada. Tahun 2022, Laurentius Kevin Hendinata bersama Ahmad Ilham Rokhul Fikri dan Ribka Prilia, dengan bimbingan Dr. Nur Abdillah Siddiq, menulis konsep jendela pintar termokromik berbahan kayu transparan. Simulasi mereka menaksir penghematan energi bangunan sekitar 18,44 persen pada profil cuaca Indonesia.

Pada 1 April 2026, Siddiq dosen Teknik Nuklir dan Fisika UGM menyebut timnya menguji mahoni, maple, jati, mindi, dan balsa. Kuat tarik mencapai 80 MPa. Transparansi hingga 80 persen. Pada model ruang, selisih suhu terhadap kaca mencapai 10,5 derajat Celsius.

“Kami meneliti telah berbagai jenis kayu, mulai dari mahoni, maple, jati, mindi, balsa, dan saat ini kami tengah meneliti kayu endemik asal Kalimantan,” ujarnya di kanal Fakultas Teknik UGM.

Veneer mahoni dalam riset UGM bahkan menembus 86,03 persen cahaya; maple 81,43 persen. Tesis kayu sonokeling mencatat 77 persen setelah diisi resin epoksi. Semua itu sampel tipis, bukan kaca fasad gedung.

Jadi pengumuman BRIN lebih tepat dibaca sebagai lembaga riset negara yang masuk ke jalur yang sudah terbuka, lalu menambahkan satu narasi politik material: mengurangi ketergantungan pada silika.

Pasir kuarsa tidak habis, yang langka justru nalar substitusi

Kaca konvensional memang lapar silika. Sekitar 70–73 persen adukan leburannya berupa pasir kuarsa, sisanya soda, dolomit, dan pecahan kaca daur ulang. Mineral itu tidak terbarukan dalam umur manusia.

Namun Indonesia tidak kehabisan stok. Raden Sukhyar, dalam wawancara Kompas.id Mei 2026, menaksir sumber daya sekitar 23 miliar ton dan cadangan terukur sekitar 300 juta ton. Kebutuhan kaca, keramik, semen, dan konstruksi disebutnya tidak lebih dari 5 juta ton.

Silika malah masuk daftar mineral kritis. Industri memakainya untuk kaca, keramik, filter, hingga kaca penutup panel surya. Investasi hilirisasi termasuk wacana pabrik kaca skala besar justru mendorong pasir kuarsa ditambang dan diolah, bukan ditinggalkan.

Kayu transparan tidak mematikan pabrik kaca botol, kaca otomotif, atau kaca panel surya. Yang masuk akal hanya menggeser sebagian permintaan kaca partisi, skylight, dan fasad dekoratif.

Bahkan janji daur ulang masih janji. Polimer pengisi seperti epoksi atau PMMA sering sulit terurai. Adik sendiri mengakui arah berikutnya: “Ke depan, kita kembangkan produk yang lebih biodegradable.” Itu target, bukan spesifikasi produk hari ini.

Di iklim tropis, nilainya justru pada cahaya yang “menyebar”

Renovasi rumah tropis jarang kekurangan cahaya. Yang memberatkan justru panas yang ikut masuk lewat kaca. Kayu transparan, karena seratnya masih menghamburkan cahaya sifat itu disebut haze cenderung menyebarkan sinar, bukan menampilkannya sebening jendela toko.

Itu kelemahan jika Anda ingin pemandangan jalan. Itu kelebihan jika Anda ingin partisi yang terang tanpa silau, skylight ringan yang tidak pecah seperti kaca, atau fasad yang masih “terasa kayu”.

Bahan ini juga lebih ringan dan tidak retak seperti kaca. Tim UGM bahkan mengukur kemampuan meredam suara pada frekuensi tertentu. Untuk rumah tinggal, itu terdengar lebih masuk akal daripada klaim “pengganti kaca total”.

Risikonya jangan dilupakan. Skala besar tanpa limbah veneer atau kayu cepat tumbuh bisa menekan hutan. Proses delignifikasi memakai kimia. Ketahanan jamur, rayap, ultraviolet, dan api di iklim basah belum ada data publik dari BRIN. Transmitansi di atas 50 persen di laboratorium tidak sama dengan performa jendela setebal 6 sampai 12 milimeter.

Untuk sementara, yang paling jujur dikatakan begini: kayu sudah bisa dibuat tembus cahaya. Kaca belum kehilangan pekerjaannya.

Kalau partisi ruang tamu Anda harus terang tetapi tidak boleh memanggang sofa di siang hari, maukah Anda memasang “kaca” yang masih kelihatan serat kayunya sekalipun belum sebening jendela toko?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.