SANY Capai 1.000 Excavator Listrik, Operator Kerja dari 8.500 Km
SANY tembus 1.000 unit excavator listrik dan sudah menjalankan remote control 5G secara komersial. Image “murah” China mulai retak?
SANY selama ini dikenal sebagai merek China yang menang di harga. Tapi pada 7 Mei 2026, perusahaan ini mengumumkan sesuatu yang jauh melampaui citra itu.
Mereka telah memproduksi unit ke-1.000 excavator listrik. Bersamaan dengan itu, excavator remote control berbasis 5G sudah masuk tahap komersial.
Bukan Sekadar Ganti Baterai
Menurut rilis resmi SANY Group, langkah ini bukan hanya soal mengganti mesin diesel dengan listrik. Perusahaan mengklaim telah menggelontorkan lebih dari RMB 6 miliar per tahun untuk riset dan pengembangan.
Fokusnya dua arah. Pertama, electrification mengurangi emisi, menekan biaya operasional, dan menaikkan efisiensi. Kedua, intelligence teknologi yang membuat mesin bisa dikendalikan dari jauh agar operator tidak perlu berdiri di lokasi berbahaya.
Salah satu model yang mereka soroti adalah SY550HD. Excavator kelas 52–55 ton ini diklaim memiliki latency stabil 120–140 milidetik. Artinya, jeda antara perintah operator dan gerakan mesin sangat kecil.
Lebih mengejutkan lagi: mesin ini bisa dikendalikan secara real-time dari jarak hingga 8.500 kilometer. Teknologi 3D motion dan depth-sensing yang mereka kembangkan diklaim memberi operator gambaran situasi setara seolah berada di dalam kabin.
Bukti di Lapangan Indonesia
Dua bulan setelah pengumuman itu, SANY mengirimkan dua unit SY3000E excavator mining listrik kelas 300 ton ke Jhonlin Baratama di Indonesia. Ini menjadi pengiriman pertama model tersebut ke luar negeri.
Menurut International Mining, mesin tersebut dirancang khusus untuk suhu tinggi dan kelembaban tinggi. SANY mengklaim penghematan biaya energi hingga 40 persen dan biaya perawatan hingga 56 persen dibanding mesin diesel sekelas.
Keputusan Jhonlin Baratama sendiri didorong kebutuhan praktis: jarak hauling yang semakin jauh dan biaya bahan bakar yang terus menekan.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Semua klaim teknis di atas masih berasal dari pernyataan SANY. Belum ada verifikasi independen yang membandingkan performa di lapangan dengan merek lain.
Yang lebih penting bagi kontraktor Indonesia adalah infrastruktur pendukung. Charging station di site tambang atau proyek konstruksi masih jarang. Jaringan 5G yang stabil di lokasi terpencil juga belum merata.
SANY sudah menunjukkan volume dan tekad. Mereka mengubah image dari “merek murah” menjadi pemain yang serius di segmen electric dan remote control.
Pertanyaannya sekarang: kapan infrastruktur di site-site Indonesia cukup matang sehingga teknologi ini benar-benar bisa dipakai secara massal, bukan hanya menjadi cerita dari rilis perusahaan?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.