Alokasi Bedah Rumah Jabar Melonjak, Metodenya Tetap Tukang
Dari 6.367 unit tahun lalu, Jawa Barat sekarang pegang alokasi bedah rumah terbesar. Cara bangunnya tidak berubah: tetap tukang, rumah per rumah.
Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, mengerek alokasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Jawa Barat dari 6.367 unit pada 2025 menjadi 49.227 unit sampai akhir 2026. Ia menyebut lonjakan itu yang terbesar sepanjang sejarah, dan Jabar yang dapat porsi paling besar.
Angka itu ia sampaikan di Bandung, Selasa, 6 Oktober 2026, saat meninjau perbaikan rumah di Kelurahan Babakan Ciamis, seperti dilaporkan Antara. Naiknya sekitar 7,7 kali, bukan tepat tujuh kali.
Program ini bagian dari target nasional 400.000 unit, anggaran Rp8,57 triliun. Angka triliunan itu untuk seluruh Indonesia, bukan dana khusus Jabar. Di provinsi ini, bantuan per rumah tetap Rp20 juta. Rp17,5 juta untuk bahan bangunan, Rp2,5 juta untuk upah tukang.
Seratus ribu tukang, masih hitungan di atas kertas
Maruarar menghubungkan volume itu dengan lapangan kerja. Asumsinya sederhana: dua tukang per rumah, jadi sekitar 100 ribu orang. Belum dihitung pendamping dan pegawai toko material.
Itu baru perkiraan kementerian. Laporan jumlah tukang yang benar-benar turun ke lokasi belum terbit. Asosiasi kontraktor dan toko bangunan juga belum terdengar memberi tanggapan di keterangan publik.
Cara kerjanya tidak bergeser ke pabrik atau rumah jadi. Bahan dibeli lewat pemilihan terbuka toko, yang pejabat sebut tender rakyat. Perbaikan didampingi tenaga dari kementerian. Di Babakan Ciamis, Toko Bangunan Pakuan 35 menang dengan selisih Rp4,05 juta dari pagu Rp157,5 juta. Uang selisihnya dikembalikan agar manfaatnya bertambah.
Syarat ikut program juga dilonggarkan. Dulu rumah harus rusak di minimal dua bagian. Sekarang cukup satu: lantai, tembok, atau atap. Penghuni kontrakan ikut bisa menerima, asal pemilik tidak menaikkan sewa setelah rumah diperbaiki.
Baru seperempat jalan, sisa dua bulan lebih
Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman, mewakili Gubernur Dedi Mulyadi, memakai angka sedikit lain. Di Desa Gambarsari, Subang, Senin, 5 Oktober 2026, ia menyebut alokasi terakhir 49.299 unit, naik hampir delapan kali dari 6.367.
Dari jumlah itu, baru 13.432 unit yang sudah dikerjakan. Herman menilai prosesnya akuntabel karena lewat tender rakyat, dengan nilai tetap Rp20 juta per unit.
Di lokasi yang sama, Maruarar mengingatkan sisa waktu sekitar 2,5 bulan. Uangnya sudah ada. Yang diminta sekarang adalah penyerapan, jangan sampai mengendap.
Secara nasional, posisinya lebih maju. Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Fitrah Nur menyebut realisasi bedah rumah 46,72 persen dari 400 ribu unit per 30 September 2026. Usulan baru sudah ditutup. Yang dikerjakan hanya daftar yang sudah ada.
Di Kota Bandung, kuota naik dari 110 menjadi 1.458 unit. Saat ditinjau, 717 selesai dan 741 masih berjalan. Wali Kota Muhammad Farhan, Rabu, 7 Oktober 2026, bilang aturan dan pengadaan tidak menghambat. Pemkot siap mengawal program rumah yang diminta presiden.
Dua hari sebelumnya, Maruarar dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengecek calon penerima di Plered, Purwakarta. Alokasi kabupaten itu naik dari 317 menjadi 2.914 unit. Maruarar menegaskan rumah yang masih bagus, milik warga mampu, tidak boleh ikut diperbaiki.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.