Tiga Orang Cetak Desa Mahasiswa, Kok Lolos Plafon?
Di Denmark, printer beton dan tiga orang menembus batas harga yang sering menggagalkan rumah sosial. Apa yang sebenarnya dicetak?
Di Holstebro, Denmark, desa mahasiswa tidak tumbang karena desainnya. Yang sering menumbangkan rumah sosial di sana justru plafon harga. Proyek Skovsporet justru lolos batas itu, dengan dinding yang dicetak tiga orang.
Nama Skovsporet berarti Jejak Hutan. Enam gedung, 36 apartemen, sekitar 1.650 meter persegi, berdiri di bekas lahan rumah potong hewan di samping kampus VIA University College. Penghuni pertama masuk awal September 2026.
COBOD menyebut ini proyek perumahan cetak tiga dimensi terbesar di Eropa. Klaim itu diulang media, tetapi belum diaudit lintas proyek. Mikkel Brich, salah satu pendiri dan direktur utama 3DCP Group, membedakannya dalam wawancara Global Construction Review: ada gedung cetak tunggal yang lebih besar. Yang baru di sini adalah penerapan di seluruh kawasan hunian, bukan prototipe.
Plafon harga yang sering menggagalkan rumah sosial
Perumahan bersubsidi di Denmark dibatasi maksimumsbeløb, yaitu plafon anggaran resmi. Rumusnya bukan harga per meter tunggal. Negara menghitung kron per unit dikali jumlah unit, lalu menambah kron per meter persegi dikali luas.
Holstebro masuk kelompok kabupaten lain. Tabel Social- og Boligstyrelsen kuartal III 2026 memasang 418.620 kron per unit dan 20.320 kron per meter persegi. COBOD menulis total proyek nyaman di bawah batas itu. Jarak pastinya tidak dibuka.
Angka €1.880 per meter persegi hanya biaya bangunan. Desain, rekayasa, sambungan utilitas, tapak, dan taman tidak masuk. Jadi angka itu tidak boleh disandingkan langsung dengan plafon.
Untuk penghuni, COBOD menyebut sewa mulai €670 per bulan untuk unit 50 meter persegi. Unit yang lebih kecil lebih murah. Perbandingan dengan kamar sewa lain di Holstebro dari data independen belum tersedia.
Yang dicetak cuma dinding, bukan seluruh rumah
Printer COBOD BOD3 menyemprot beton lapis demi lapis mengikuti gambar digital. Mesin itu tidak memasang atap, jendela, listrik, atau finishing. Bagian itu tetap dikerjakan cara biasa. Foto lapangan di New Atlas menunjukkan atap miring berlapis kayu, bukan rumah lengkung bertutup gelombang.
Satu mesin dan kru yang sama mencetak seluruh proyek. Gedung pertama butuh beberapa minggu. Gedung terakhir, enam unit seluas 275 meter persegi, selesai dalam lima hari kerja. Brich menyebut tempo tercepat untuk dinding enam apartemen sekitar empat hari.
Bentuk lengkung tidak menambah ongkos cetak dibanding garis lurus. Pada bata atau bekisting, setiap lengkung biasanya menaikkan biaya. Di sini nozzle hanya mengikuti koordinat yang berbeda.
Beton utamanya memakai campuran D.fab dengan FUTURECEM dari Aalborg Portland. Semen itu diklaim memangkas emisi produksi hingga 30 persen dibanding semen biasa. Angka 84 persen jangan dilekatkan ke apartemen. Itu untuk elemen tanpa semen MEVOcem di gudang sepeda, uji skala bangunan yang didukung Innovation Fund Denmark.
Pohon tapak yang dibiarkan berdiri disebut 90 persen pada rilis selesai. Rilis fase cetak pada 6 November 2025 menulis 95 persen.
Bukan demo, dan belum bebas aturan
Brich menegaskan bahwa ini perumahan sosial permanen, dalam kerangka uang yang sama dengan rumah sosial biasa. Ia juga menyebut beton cetak lebih kuat daripada bata, tetapi aturan Denmark belum mengizinkannya menjadi penopang beban. Syarat struktur, kebakaran, energi, dan dokumen tetap harus dipenuhi seperti bangunan biasa.
Philip Lund-Nielsen, salah satu pendiri dan direktur komersial COBOD, mengatakan pada 2 September 2026 bahwa mahasiswa yang masuk mendapat sewa lebih rendah, dan teknologi ini mulai berskala. Henrik Lund-Nielsen, pendiri COBOD, pada 6 November 2025 menyoroti kenaikan kecepatan dari gedung ke gedung.
Anders Vestergaard, direktur NordVestBO, pada Juni 2025 berkata pertemuan dengan Brich dan Hasan Alsofi pada 2021 berawal dari rasa ingin tahu. Saat itu ia berharap rumah cetak suatu saat lebih cepat dan lebih murah. Kutipan itu diucapkan saat proyek masih berjalan.
Amalie Hvas, mahasiswa penghuni baru, dikutip COBOD dan liputan DR: ia suka karena bangunan punya karakter. Bayangannya tentang cetak tiga dimensi sebelumnya mesin kecil yang membuat plastik, bukan satu apartemen.
Sebastian Aristotelis, arsitek utama SAGA Space Architects, pada Desember 2025 menyebut proyek ini berada di batas apa yang mungkin. Desain digarap bersama MS+. Konstruksi total disebut 12 bulan. Dokumentasi arsitekturnya terbit di ArchDaily.
Untuk rusunawa dan asrama, pertanyaan yang bisa diuji bukan apakah printer sanggup membuat ikon. Pertanyaannya apakah metode yang memangkas tenaga dinding bisa masuk plafon tanpa menyembunyikan pekerjaan atap, instalasi, dan aturan struktur.
Kalau plafon harga memang sering membunuh pasokan, apakah yang perlu diubah dulu teknologinya, atau cara negara menghitung biaya sebuah rumah?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.