Benarkah Panel Surya Bisa Potong Tagihan Listrik Hingga 90 Persen?
Tagihan listrik anjlok separuh, bahkan hampir nol. Tapi di balik angka menggiurkan itu, ada aturan baru yang mengubah segalanya.
Di tengah tarif listrik yang stabil di angka Rp1.352–Rp1.444,70 per kWh untuk golongan rumah tangga, satu janji terus bergema: pasang panel surya, tagihan bisa potong hingga 90 persen. Bahkan ada yang bilang bisa jadi nol rupiah.
Angka itu bukan sekadar brosur. Data lapangan 2026 menunjukkan 1 kilowatt-peak panel surya di Indonesia rata-rata menghasilkan 110–150 kWh per bulan. Cukup untuk menekan konsumsi PLN secara nyata, asalkan pola pakai listrik rumah disesuaikan.
Tapi ada satu perubahan besar yang jarang disebut lantang. Sejak Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024, skema net-metering dihapus untuk rumah tangga. Kelebihan listrik yang dikirim ke jaringan PLN tidak lagi mengurangi tagihan. Nilainya nol.
Ketika self-consumption jadi penentu utama
Penghematan sekarang bergantung pada satu kata kunci: self-consumption. Artinya, seberapa banyak listrik dari matahari yang langsung dipakai di rumah saat siang hari.
Rumah type 36 dengan daya 900–1.300 VA yang memasang 1 kWp on-grid bisa hemat 40–65 persen. Kalau ditambah baterai menjadi hybrid, angka itu naik ke 65–85 persen. Rumah type 45 atau 70 yang punya AC dan sering menyalakan mesin cuci atau pompa air di siang hari bisa mencapai 70–90 persen dengan sistem 2–3 kWp hybrid.
Off-grid lepas total dari PLN memang bisa mendekati 100 persen. Tapi biayanya melonjak karena baterai harus berukuran besar. Investasi awal 1 kWp on-grid sekarang berkisar Rp12–22 juta. Hybrid menambah Rp20–40 juta lagi.
Angka yang berbicara di lapangan
Kapasitas PLTS atap residensial sudah tumbuh dari 146 megawatt pada 2024 menjadi sekitar 1,3 gigawatt di 2026. Animo masyarakat tinggi, bahkan sempat melebihi kuota, kata Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia Mada Ayu Habsari.
Namun Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengingatkan: tanpa net-metering, investasi rumah tangga jadi kurang menarik. “Konsumsi listrik rumah lebih banyak di malam hari,” ujarnya. Self-consumption rendah membuat payback period memanjang.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan tarif listrik tetap untuk menjaga daya beli. Sementara Sekjen ESDM Dadan Kusdiana menyebut penghapusan biaya tertentu sebagai “insentif” bagi pemasang PLTS atap.
Realita di atap rumah type 36 sampai 70
Satu kilowatt-peak menghasilkan 120–150 kWh per bulan di kondisi baik. Dua kilowatt-peak menghasilkan 240–300 kWh. Tiga kilowatt-peak mencapai 360–450 kWh. Semakin banyak beban yang dijalankan siang hari AC, mesin cuci, pompa air semakin tajam potongan tagihannya.
Studi pada 25 rumah tangga 900 VA ke atas menunjukkan penghematan 57–100 persen dengan masa balik modal 4,5–10 tahun. Tapi angka ekstrem itu hanya muncul bila sistem dirancang tepat dan kebiasaan listrik berubah.
PLTS bukan lagi sekadar gaya hidup hijau. Ia sudah menjadi instrumen ekonomi rumah tangga. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah hemat?”, melainkan seberapa siap kita menyesuaikan pola konsumsi agar matahari benar-benar bekerja maksimal di atas atap?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.