20 September 2026

Tanah Miring, Rumah Naik Turun, Lebih Hemat atau Ribet?

Lahan sempit dan tidak rata sering dianggap susah dibangun, split level justru memanfaatkan selisih tanah itu. Hemat di mana, mahal di mana?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
14 September 2026, 12:07 WIB 5 menit baca 88 pembaca
Tanah Miring, Rumah Naik Turun, Lebih Hemat atau Ribet?
Rumah split level di lahan miring dan terbatas: hunian di atas, servis di bawah, cahaya masuk tanpa sekat masif. (Liputan 6)

Tanah yang rusak justru menjadi denah

Banyak pemilik lahan mengeluh tapaknya miring atau sempit. Refleks pertama biasanya meratakan tanah dulu. Pekerjaan itu memotong dan menimbun tanah dalam bahasa tukang disebut cut and fill, lalu baru menuangkan pondasi.

Konsep rumah split level membalik logika itu. Lantai tidak bertumpuk penuh seperti rumah dua lantai biasa. Tiap zona naik atau turun setengah tingkat, lalu penghuni menaiki tangga pendek sekitar 4 sampai 11 anak tangga, bukan tangga penuh sekitar 24 anak.

Gaya ini membesar di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, ketika keluarga mencari ruang lebih luas di lahan pinggiran yang terbatas. Zona tamu, dapur, dan ruang makan biasanya duduk di level tengah. Kamar naik sedikit. Ruang keluarga atau garasi turun sedikit.

Di Indonesia, arsitek Denny Setiawan menilai konsepnya sudah dikenal, tetapi orang masih jarang menerapkannya. Ia menunjuk Splow House karya Delution sebagai contoh yang sudah jalan. Menurutnya, tapak berkontur dan kawasan padat justru paling cocok.

Mengikuti tanah, bukan memaksa tanah tunduk

Wawancara detikProperti pada Minggu, 3 Mei 2026, merekam alasan teknis yang paling sering orang lewatkan.

“Jadi kalau daerah berkontur kan misalnya bisa turun 1,5 meter, jadi supaya kita mengurangi cut and fill tanah, memadatkan atau menambahkan tanah baru atau mengurangi tanah baru, kita menggunakannya, memanfaatkannya dengan konsep split level itu,” ujar Denny Setiawan.

Artinya, selisih 1,5 meter tidak harus hilang di bawah truk tanah. Selisih itu menjadi anak tangga dan perbedaan lantai. Liputan6 pada April dan Juni 2026 mengulang poin yang sama untuk rumah kampung di lahan menurun: mengikuti kontur mengurangi pengerukan.

Dari luar, rumah sering tampak hanya satu atau dua lantai. Di dalam, levelnya bisa tiga sampai empat. PapanRindhu House di Malang, karya SATURASI PROJECTS yang media arsitektur mengulas pada 10 September 2026, menempatkan program hunian di tapak 9 kali 17 meter. Fasad menghadap jalan terasa satu lantai. Interiornya memecah ruang ke tiga ketinggian berbeda, dengan plafon yang tidak seragam dan cahaya dari atap.

Split Mass Residence di Tangerang karya K-Thengono Design Studio menempuh jalan serupa: volume bangunan terpecah beberapa level, atap miring berumput, tangga dalam dan luar menjadi jalur keluarga.

Sekat dikurangi, udara dan cahaya yang bekerja

Split level tidak hanya menaikturunkan lantai. Ia memisahkan fungsi tanpa dinding masif. H. Didiek Soegiarto, S.Ars., dari Archimax Indonesia menulis pada 5 Februari 2026 bahwa perbedaan elevasi setengah tingkat membuat ruang “terasa lebih terbuka dan mengalir secara visual.”

Dapur dan ruang tengah menjadi lebih dekat secara vertikal. Komunikasi penghuni tidak harus berteriak menembus dua lantai penuh. Void, lubang udara dan pandang antar level, membawa cahaya ke zona yang biasanya gelap.

Denny menyebut void itu “berfungsi untuk memaksimalkan cahaya hingga mengoptimalkan ventilasi udara.” Archimax menambahkan: bukaan di berbagai ketinggian memperbaiki aliran udara karena sekat masif berkurang.

Riset akademik turut menguji klaim itu, bukan hanya brosur interior. Jurnal Ilmu Lingkungan UNDIP (2025, Nugroho dan rekan) merancang rumah di lahan 72 meter persegi dengan bangunan 74 meter persegi, memadukan split level dan ventilasi silang. Simulasi menampilkan kecepatan udara 0,171–1,271 meter per detik dan suhu sekitar 25 derajat Celsius. Angka itu menempatkan tipologi ini di diskusi hunian tropis, bukan sekadar gaya foto.

Hemat di tanah, bisa lebih boros di balok

Di sinilah paradoks biaya muncul. Orang sering mendengar “split level lebih hemat.” Kalimat itu hanya benar di item tertentu.

Hematnya muncul ketika alternatifnya meratakan lahan miring secara besar-besaran. Pekerjaan tanah, dinding penahan, dan pemadatan berkurang. Mahalnya muncul di struktur: tiap loncatan setengah lantai meminta balok tambahan.

Denny menjelaskan kepada detikcom, 3 Mei 2026: “(Penambahan balok struktur) di bagian lantainya. Jadi misalnya kalau dua lantai kan kita cukup buat dua kali sloof ya, dua kali balok. Tapi kalau misalnya satu, satu setengah, dua, dua setengah (lantai), jadi itu akan boros di balok. Tapi itu nilainya paling 10 persen dari keseluruhan total membangun rumah.”

Artikel yang sama merangkum kisaran 10 sampai 15 persen di atas rumah dua lantai biasa. Archimax memberi gambaran ilustratif, bukan harga resmi pasar untuk rumah split level dua lantai di lahan sekitar 5 kali 10 meter, tiga kamar plus ruang keluarga: Rp 200 juta sampai Rp 350 juta, tergantung finishing. Angka itu wajib dicek ulang lewat survei tapak.

Kekurangan lain tidak kalah keras. Banyak tangga pendek menyulitkan lansia dan anak kecil. Denny tegas: konsep ini “nggak cocok karena split level mewajibkan orang untuk naik tangga.” Ramp sebagai pengganti tangga meminta lahan yang sangat luas.

Perencanaan juga lebih rumit. Kontraktor tidak bisa menyalin denah rumah kotak lalu memotong lantai di tengah. Setiap transisi level meminta gambar struktur yang presisi.

Di Amerika Serikat, ekonom senior Realtor.com Hannah Jones, dikutip 9 September 2026, melihat sisi lain: tangga pendek secara alami memisahkan zona kerja dan sekolah di rumah. Di Indonesia, Denny justru mengingatkan penerapannya masih jarang meski artikel properti 2025–2026 sudah menyebutnya tren.

Jadi, split level bukan sulap luas. Ia menukar pekerjaan tanah yang mahal dengan pekerjaan balok yang lebih rumit, menukar sekat dengan void, dan menukar tangga penuh dengan deretan anak tangga pendek.

Di banyak lereng kota dan kampung Indonesia, truk tanah masih lebih dulu datang daripada gambar split level. Padahal selisih kontur yang biasa orang buru-buru ratakan justru bisa menjadi denah.

Kalau hunian di lahan miring makin banyak, kapan split level diterapkan untuk menjadi pilihan standar di meja arsitek dan kontraktor Indonesia?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.