Data Center AI 100 Hari, Kok Proyek Kita Masih Setahun?
Alibaba mengklaim data center AI merakit dalam 100 hari, di sini listrik dan izin yang menahan, Siapa ketinggalan?
Dulu data center dibangun seperti kantor. Galian dulu, cor, pasang listrik, baru pendingin. Sekarang Tiongkok menjual cara lain: modul keluar pabrik, lalu diangkat di tapak.
Alibaba Cloud, dalam liputan 11 Agustus 2026, mengklaim arsitektur CUBE 5.0 menekan siklus serah-terima data center AI menjadi 100 hari. Biaya konstruksi diklaim turun lebih dari 10 persen.
Angka itu mudah menyesatkan. Seratus hari bukan dari tanah kosong sampai server hidup. Itu jendela setelah ada gedung dasar atau tumpukan kontainer, sampai sebelum server dan jaringan masuk.
Pabrik yang mengganti lapangan
CUBE 5.0 dikembangkan sejak 2024. Tingkat modularitas lima sistem inti naik dari sekitar 30 persen menjadi 90 persen. Lima sistem itu: daya, pendingin, keamanan, manajemen cerdas, dan proteksi kebakaran.
Pekerjaan yang dulu berurutan sekarang berjalan bersamaan di pabrik. Di lapangan, modul hanya diangkat dan disambung. Wang Chaoyang, kepala data center global Alibaba Cloud, mengatakan pada tur Ulanqab sekitar 10 Agustus 2026: rekayasa diganti produk, tapak diganti pabrik.
Ulanqab di Mongolia Dalam menjadi panggung klaim itu. Lokasi itu salah satu dari lima data center raksasa Alibaba Cloud. Porsi listrik hijau di sana disebut sekitar 90 persen. China Daily menulis rencana kapasitas modular global lebih dari dua kali lipat pada 2026.
Pembagian 100 hari yang berulang: 30 hari pabrik dan persiapan, 50 hari pasang, 20 hari uji. Setelah itu baru ruang kosong diisi mesin.
PUE, rasio listrik total fasilitas dibanding listrik yang benar-benar dipakai komputer, ditargetkan paling tinggi 1,15 untuk pendingin udara dan 1,10 untuk pendingin cairan. Itu spesifikasi desain. Bukan hasil operasional tahunan di udara basah tropis.
Alibaba juga mengklaim kepadatan komputasi per luas naik lima sampai sepuluh kali. Jumlah trafo hampir setengah. Arsitektur itu disebut menopang minimal tiga generasi chip. Pilot berjalan di Ulanqab dan Zhongwei, plus sertifikat CE Eropa dan akses IEC Asia Tenggara.
Johor sudah lebih dulu, itu bukan CUBE
Rantai lain sering tercampur. CIMC, raksasa kontainer Tiongkok, bukan anak usaha Alibaba. Mereka menjual modul daya, pendingin, dan hall data center.
Proyek Malaysia 2312 di Johor, menurut rilis CIMC November 2024, memakai 833 modul. Beban IT sekitar 60 MW. Kabinet 3.168 unit.
Siklusnya kurang dari setahun. Cara tradisional di Malaysia biasanya butuh sekitar 18 bulan. Itu bukti prefabrikasi hyperscale. Bukan prototipe CUBE 5.0 tahun 2026.
Laporan interim CIMC Group 28 Agustus 2026 mencatat pendapatan bisnis modular naik lebih dari lima kali. Kontrak baru semester I mencapai 200 MW. Hingga akhir kuartal I, layanan CIMC disebut menopang proyek AI dan cloud total lebih dari 300 MW.
Ada rantai ketiga. Pada 7 Juni 2026, Bloomberg merujuk CCTV soal hub daya prefabrikasi di Qingdao milik TGOOD. Itu stasiun listrik siap rakit. Bukan hall server Alibaba.
Klaim Qingdao: lahan turun lebih dari 30 persen, biaya sekitar 20 persen, konstruksi sekitar lima bulan. Zhou Jun, presiden eksekutif TGOOD, menekankan tiga sumber daya independen per perangkat.
Ekspor bangunan prefabrikasi Tiongkok berkode HS 9406 pada semester I 2026, menurut bea cukai, mencapai USD 2,79 miliar. Naik 45 persen. Data center disebut salah satu pendorong, bersama hunian.
Kode itu juga memuat barak, hotel, dan sekolah. Lonjakannya seiring kiriman modul data center. Tidak seluruhnya kelas data center. Januari–Mei 2026, Indonesia masuk tujuan besar sekitar USD 152,5 juta.
Kalau modulnya cepat, yang menahan pindah ke sini
Indonesia sedang mengejar tapak data center. Yang sering menahan bukan dinding. Listrik, pendingin, izin, dan jadwal sipil.
Kalau modul datang sudah diuji pabrik, pertanyaan ke kontraktor berubah. Siapa yang mensertifikasi impor ke SNI dan PUIL. Siapa yang menjamin PUE setelah dirakit di udara basah, bukan di dataran tinggi kering.
Siapa yang menanggung bea, PPN, dan jalan dari pelabuhan ke tapak. Bea HS 9406 di Indonesia masih sekitar 12,5 sampai 15 persen. Modul 100 hari tidak menolong jika sambungan 150 kV masih butuh 18 sampai 36 bulan.
Nilai tambah juga bergeser. Pabrik di Tiongkok mengerjakan yang mahal. Sisa di tapak menyusut: angkat, sambung, uji. TKDN dan tenaga kerja sipil harus menghitung ulang peran mereka.
Yang belum terbukti tetap ditulis apa adanya. Tidak ada audit pihak ketiga publik yang mengukur 100 hari di luar kampus Alibaba. Potongan biaya 10 persen berlaku versus generasi CUBE sebelumnya, bukan versus anggaran proyek Indonesia.
Pemerintah dan PLN belum merespons CUBE 5.0 secara spesifik sampai 11 September 2026. Malaysia sudah punya bukti 60 MW dalam kurang dari setahun. Indonesia belum punya kasus hyperscale prefab yang terdokumentasi setara.
Kalau data center mulai dijual seperti produk pabrik, siapa yang pertama menyesuaikan di sini: pemilik tapak, kontraktor, atau PLN?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.