21 September 2026

Kenapa Molinas Lahir Saat Pembeli Motor Listrik Mundur?

Negara mengunci TKDN 60 persen tepat saat penjualan anjlok. Di tapak, yang menang biasanya yang baterainya bisa ditukar cepat.

HS Heru ST Pengelola Rubrik
2 September 2026, 12:21 WIB 4 menit baca 151 pembaca
Kenapa Molinas Lahir Saat Pembeli Motor Listrik Mundur?
Lini perakitan motor listrik Alva di Cikarang, lokasi peluncuran Molinas pada 13 Agustus 2026. (VOI)

Presiden meluncurkan Motor Listrik Nasional di pabrik Alva, Cikarang, pada 13 Agustus 2026. Syaratnya ketat: kandungan dalam negeri di atas 60 persen, desain lokal, baterai nikel.

Pasarnya sedang mundur. Penurunan minat konsumen sudah terlihat sebelum label Molinas resmi menempel.

Pada 2025 hanya 55.059 unit motor listrik yang mengantongi surat uji tipe. Angka itu turun 28,6 persen dari 77.078 unit setahun sebelumnya.

Dari 6,41 juta motor yang terjual di Indonesia, porsi listrik masih di bawah satu persen. Itu bukan cerita showroom. Itu cerita armada pengawas tapak, kurir cat dan fitting, serta material ringan yang setiap hari keluar-masuk lokasi tanpa SPBU.

Negara mengunci kandungan lokal, pembeli mengunci dompet

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi, awal Januari 2026, tidak berputar-putar.

“Ya, pasti turun. Tahun lalu kan 77 ribu unit, tahun 2025 menjadi 55 ribu unit. Tapi menurut saya turunnya ini karena tidak ada subsidi.”

Janji insentif 2025 tidak cair sampai tutup tahun. Konsumen menahan beli. Januari–Agustus 2026 hanya sekitar 25.000 unit yang terserap lebih lesu dari periode yang sama tahun lalu, sebagaimana dicatat telaah Katadata.

Di atas panggung Cikarang, Prabowo menandatangani plakat 20.000 unit produksi kelompok Indika. Ia menjanjikan bunga lebih rendah dan tanpa uang muka. James Riady dilaporkan berkomitmen membeli 20.000 unit.

Tujuh hari kemudian Kemenko Perekonomian merinci empat syarat Molinas: TKDN di atas 60 persen pada powertrain, rangka, dan bodi; desain dalam negeri; baterai nikel; harga yang dianggap terjangkau.

TKDN yakni tingkat komponen dalam negeri itu persentase bagian motor yang benar-benar dibuat atau diolah di Indonesia. Rata-rata motor listrik roda dua per Juli 2026 baru 47,5 persen. Label Molinas lebih ketat daripada peta jalan industri yang masih 40 persen sampai akhir 2026.

Alva dan Gesits sudah disebut sebagai penerima insentif. Len Industri menyaring sekitar sepuluh merek dari 69 pabrikan. Kapasitas terpasang industri justru 2,51 juta unit per tahun. Target Molinas awal hanya 100.000.

Harga nasional bertemu motor China yang sudah bisa ditukar baterainya

Insentif lama Rp7 juta sempat mendongkrak penjualan 2023–2024. Rencana 2026 sempat Rp5 juta, lalu dipangkas menjadi Rp3 juta per unit. Anggaran Rp3 triliun untuk satu juta motor.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, 20 Agustus 2026, sudah menahan harapan: “Saya pikir sampai akhir tahun bisa 100 ribu.” Per 2 September, aturan menteri keuangan masih dalam finalisasi.

Alva N3 beredar di kisaran Rp37,5 juta. Gesits G1 sekitar Rp28 juta. Setelah potongan Rp3 juta, harganya tetap jauh di atas banyak motor rakitan China Rp13–20 juta.

Yadea, produsen motor listrik terbesar dunia, membangun fasilitas riset USD150 juta di Karawang dan sudah merakit di Cikarang. Hendro Sutono dari komunitas Kosmik menyebut rebadge produk China sebagai praktik umum. Harga pabrik di platform grosir bisa Rp8–10 juta.

Volta dan Smoot sudah mengandalkan tukar baterai. Masalahnya, stasiun tukar masih terkunci merek. Tenny Kristiana dari ICCT menegaskan baterai satu merek tidak bisa ditukar di outlet merek lain.

CEO Maka Motors Raditya Wibowo, 1 September 2026, menyebut Molinas sebagai tonggak. Ia juga mengakui pasokan baterai nikel dalam negeri masih menyempitkan jalan menuju TKDN 60 persen.

Pemerintah menjanjikan hemat subsidi BBM Rp82,2 triliun sampai 2037 jika 11 juta unit beroperasi. Nilai ekonomi Rp150 triliun dan 215.000 kerja juga beredar di meja Kemenko. Lompatan itu belum kelihatan di data penjualan 2025 sampai pertengahan 2026.

Di tapak, yang dihitung menit ganti baterai, bukan label nasional

Pengawas tapak, surveyor lapangan, dan kurir material ringan menempuh pola yang sama dengan last-mile kota: jarak pendek-menengah, berhenti-jalan, parkir di lokasi yang listriknya sering pas-pasan.

ITDP mencatat lebih dari 60 persen last-mile perkotaan memakai motor. Kendaraan listrik bisa menekan biaya kepemilikan sekitar Rp395 per kilometer. Hambatannya tetap sama: pengisian daya untuk pemakaian padat dan standar baterai yang belum satu.

Uji pasar sudah ada. Pada Januari 2026 Alva, Kalista, dan Dash Electric menurunkan 500 unit Alva N3 untuk HappyFresh, AlloFresh, Sayurbox, dan DHL. Bukan hobi. Itu armada kerja.

Kalau Molinas dan insentif benar-benar jalan, kontraktor mendapat opsi armada bersubsidi dengan narasi nikel dan kandungan lokal untuk laporan ESG proyek. ESG di sini sederhana: catatan bahwa operasional proyek lebih bersih dan lebih banyak memakai rantai pasok dalam negeri.

Kalau tidak jalan, tapak tetap memilih yang lebih murah dan yang baterainya bisa diganti dalam satu sampai tiga menit. Menunggu cas empat sampai tujuh jam di lokasi yang gensetnya sudah penuh beban adalah biaya tersembunyi yang jarang masuk RAB yakni rencana anggaran biaya, atau daftar belanja proyek dari upah sampai solar.

Asosiasi konstruksi belum berbicara di ruang publik soal pengadaan armada listrik tapak. Lubang itu justru memperjelas soal yang selama ini tertutup angle otomotif: di lapangan, yang menang bukan yang paling nasional di siaran pers, melainkan yang paling cepat kembali ke kerja setelah baterainya habis.

Lalu, kalau pengawas shift siang harus pilih hari ini, mana yang masuk tapak dulu: motor berlabel Molinas yang masih menunggu aturan potongan harga, atau motor rakitan yang baterainya sudah bisa ditukar di ujung jalan?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.