Kenapa Motor Listrik Off-Road 55 kW China Dipamerkan?
Bukan skuter ojek, ini motor listrik off-road 119 kg yang diklaim 55 kW. Kalau masuk Indonesia, siapa yang siap merawatnya?
Di pameran motor Chongqing minggu ini, yang paling ramai bukan skuter pengantar paket. Dua motor listrik off-road dari submerek TLG milik TAILG Y7 dan Y9, justru menempati urutan pertama daftar e-motor baru China versi MEGA CHINAMOTOR.
Itu yang membuat banyak orang salah baca. Pameran 19–22 September 2026 itu etalase pembeli internasional, bukan malam pertama Y9 lahir ke dunia.
Mesin yang sama sudah diluncurkan 11 Juni 2026 di Dongguan. Tiga bulan kemudian baru dibawa ke CIMAMotor supaya importir dari Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa bisa melihat dari dekat.
Motor Listrik Off-Road 55 kW yang Bukan Skuter Ojek
Y9 diposisikan sebagai flagship. Pabrikan mengklaim ini motor listrik off-road produksi massal pertama China dengan daya puncak 55 kilowatt. Dalam bahasa lapangan: setara motor bensin kelas menengah yang sedang digeber penuh, tapi torsi datang langsung saat gas diputar.
Torsi di roda diklaim sekitar 1.000 newton-meter. Satu materi peluncuran bahkan menulis 1.054. Bobot 119 kilogram. Jarak tanah ke rangka 320 milimeter. Akselerasi 0–50 km/jam diklaim 1,8 detik. Kecepatan puncak 120 km/jam.
Baterainya 144 volt 35 amper-jam, jenis semi-padat. Artinya elektrolitnya campuran cair dan padat, bukan baterai skuter 72 volt yang biasa dilihat di dealer pinggir jalan.
Y7 lebih rendah posisinya: trail ringan untuk jalur hutan dan pengendara yang baru belajar medan rusak. Angka lengkapnya belum seterbuka Y9.
Semua angka itu masih klaim merek. Belum ada tes dyno independen, belum ada laporan medan dari media Barat, belum ada sertifikat internasional yang dipublikasikan.
Harga Y9 Di Atas Kertas Lebih Murah dari Stark
Di kertas, Y9 mendekati Stark Varg yang berkisar 60 kilowatt, dan jauh di atas Sur-Ron Ultra Bee yang sekitar 24,5 kilowatt. Bedanya, Stark dan Sur-Ron sudah punya bengkel aftermarket, suku cadang, dan orang yang sudah jatuh-bangun di lintasan.
Y9 baru sampai tahap pameran plus janji sudah divalidasi di lintasan off-road profesional.
Harga di China diklaim di bawah 50.000 yuan, kira-kira Rp 110 juta. Itu bukan harga dealer Indonesia. Itu bahasa pemasaran.
TAILG sendiri bukan pendatang baru. Perusahaan ini berdiri 2003, menjual skuter dan e-bike ke puluhan negara, dan sudah punya jaringan di Indonesia. Masalahnya, yang beredar di sini selama ini mesin 1–3 kilowatt. Bukan mid-motor 144 volt.
CIMAMotor 2026 sendiri menampung lebih dari seribu peserta pameran. Chongqing memproduksi 7,78 juta motor pada Januari–Agustus 2026, naik 50,5 persen dari tahun sebelumnya, menurut Wang Han dari komisi industri kota itu.
Risiko Y9 Masuk Proyek: Homologasi, Suku Cadang, Hujan Tropis
Untuk kontraktor, tambang kecil, atau kebun, ide kendaraan site yang lebih kencang dari skuter listrik terdengar menggiurkan. Lebih sunyi dari trail bensin. Lebih murah, di atas kertas, dari impor merek Eropa.
Yang belum siap justru ekosistemnya.
Daya 55 kilowatt dan 120 km/jam menempatkan unit ini di kelas sepeda motor, bukan kendaraan listrik L1. Butuh uji tipe, SNI, pelat, dan SIM yang sesuai.
Suku cadang inverter, pack 144 volt, dan linkage suspensi kompetisi tidak sama dengan part Tailg yang dijual di marketplace. Bengkel skuter rumahan juga jarang siap mengutak-atik tegangan setinggi itu.
Baterai semi-padat diiklankan lebih aman dan lebih kuat menahan arus besar. Data siklus, uji panas, dan ketahanan hujan tropis untuk pack Y9 belum muncul ke publik.
Sampai 24 September 2026, TAILG Indonesia belum mengumumkan Y7 atau Y9 masuk lineup. Kemenhub dan AISI juga belum bicara.
Jadi yang dipamerkan di Chongqing itu sinyal industri: China tidak lagi hanya mengekspor motor listrik untuk ojek. Mereka mulai merambah kategori dirt bike yang selama ini diisi Sur-Ron, Stark, dan mesin bensin.
Kalau China sudah membawa dirt bike listrik 55 kW ke etalase pembeli dunia, siapa yang lebih dulu menyiapkan bengkel, uji tipe, dan standar lapangan, sebelum unit semacam ini benar-benar masuk tapak proyek?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.