Danantara Gelar Forum Teknologi Global, Infrastruktur Masuk Prioritas
Danantara Indonesia mengundang lebih dari 1.500 peserta, termasuk 131 CEO teknologi global, ke Fairmont Jakarta akhir Oktober untuk menjalin kesepakatan di enam sektor, termasuk transportasi dan infrastruktur.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia akan menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 pada 26–28 Oktober di Fairmont Jakarta. Forum perdana ini dirancang sebagai jembatan antara prioritas industri strategis nasional dan teknologi serta modal global jangka panjang.
Tema yang diusung berbunyi “Berinvestasi untuk Masa Depan: Memajukan Teknologi, Inovasi, dan Pertumbuhan Berkelanjutan”. Penyelenggara menargetkan lebih dari 1.500 peserta. Jumlah itu mencakup 170 inovator global, 131 CEO perusahaan teknologi, 67 pusat riset, serta lebih dari 50 badan usaha milik negara.
Enam sektor yang menjadi fokus pembahasan meliputi energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; serta kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan telekomunikasi. Kehadiran Google dan Microsoft sebagai pembicara telah dikonfirmasi, bersama perwakilan senior pemerintah serta peraih Nobel.
Chief Technology Officer Danantara sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa menegaskan tujuan forum ini dalam konferensi pers di Wisma Danantara pada Senin, 19 Oktober. “Ke depan, harapan kami Danantara akan menjadi pionir, menjadi penggerak industri berbasis teknologi di Indonesia, sekaligus juga investasinya,” katanya.
Sigit menilai industri berbasis teknologi dan inovasi sebagai satu-satunya jalan untuk menghasilkan dampak ekonomi yang lebih tinggi. Ukuran keberhasilan forum, menurutnya, terletak pada jumlah kesepakatan yang berhasil dibangun. “Jadi ukuran keberhasilan kita adalah berapa banyak kesepakatan yang kita jalankan pada saat forum ini,” ujarnya, baik berupa nota kesepahaman, head of agreement, maupun perjanjian yang bisa segera diaktifkan.
Infrastruktur di Tengah Agenda Teknologi
Penempatan transportasi dan infrastruktur sebagai salah satu dari enam sektor prioritas menjadi relevan di tengah aktivitas pembangunan fisik yang sedang berjalan. Pada 14 Oktober, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Basuki Hadimuljono menandatangani komitmen kerja sama pemerintah dan badan usaha serta investasi swasta senilai sekitar Rp3,74 triliun di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.
Dari jumlah itu, Rp2,629 triliun dialokasikan untuk delapan menara rumah susun aparatur sipil negara, sementara sisanya untuk lima proyek swasta di sektor pangan hingga fasilitas komersial. Basuki menyatakan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara tidak hanya mengandalkan anggaran negara, melainkan juga skema kerja sama dan investasi swasta.
Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum mencatat realisasi anggaran hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp69 triliun atau 52,14 persen dari pagu Rp132,38 triliun, dengan progres fisik 57,56 persen. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan angka tersebut dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI pada 2 September, dengan fokus utama pada irigasi pertanian dan konektivitas wilayah.
Forum DTIIF diharapkan memberi saluran langsung bagi badan usaha milik negara infrastruktur, kontraktor, dan konsultan untuk bertemu mitra teknologi serta sumber modal global. Sigit sebelumnya menekankan bahwa keberhasilan yang sesungguhnya diukur dari apa yang terbangun setelah forum berakhir, termasuk proyek yang berdampak dan lapangan kerja berkualitas.
Managing Director Global Relations and Communications Danantara Pahala Nugraha Mansury menambahkan bahwa forum ini juga menjadi ajang membangun kepercayaan pemangku kepentingan global terhadap kapasitas inovasi Indonesia. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Otorita Ibu Kota Nusantara terkait peluang konkret yang bisa dihasilkan dari forum tersebut.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.