Wamen PU Siapkan Modifikasi Cuaca Isi Bendungan Jawa Defisit
Kemarau panjang dan El Nino ekstrem menyusutkan cadangan air bendungan di Jawa. Kementerian PU bersiap operasi modifikasi cuaca sebagai langkah darurat, sementara 36 persen bendungan dilaporkan defisit.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti memastikan kementerian menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di bendungan Pulau Jawa. Penurunan volume terjadi karena musim kemarau berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino ekstrem sepanjang 2026.
“Sebenarnya kalau bendungan-bendungan karena kemarau ya terus terang aja kan menyusut, ya kan? Masalah air dan sebagainya. Nah, untuk hal ini, kita berharap supaya bisa turun hujan ya, mungkin nanti kita dengan modifikasi cuaca ya,” kata Diana saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan itu muncul usai Rapat Koordinasi Keterpaduan Pengembangan Infrastruktur Wilayah. Kementerian melihat modifikasi cuaca sebagai cara meningkatkan peluang hujan sehingga cadangan air di bendungan yang menyusut dapat kembali bertambah. Operasi ini menjadi bagian penanganan jangka pendek terhadap dampak kekeringan.
36 Persen Bendungan di Jawa Defisit Air akibat El Nino
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memaparkan skala masalahnya. Dalam Rapat Koordinasi Swasembada Air Nasional di Jakarta pada Kamis (15/10/2026), ia menyebut 36 persen bendungan di Jawa mengalami defisit air.
“El Nino, 36% bendungan di Jawa defisit. Kemudian 62 dari 119 kabupaten/kota di Jawa terdampak dan beberapa bendungan lainnya di luar Pulau Jawa mengalami kekeringan,” kata AHY.
Kondisi itu tidak hanya menekan infrastruktur penampungan. Pasokan air bersih di puluhan kabupaten dan kota juga terganggu. El Nino yang berimpit dengan kemarau panjang memicu kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kementerian PU Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca dan Pola Operasi Waduk
Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian PU Adenan Rasyid menambahkan bahwa operasi modifikasi cuaca akan berjalan bersamaan dengan penataan pola operasi waduk. Pola itu mencakup penetapan batas minimum penampungan dan prioritas kebutuhan di wilayah terdampak.
“Seperti Ibu Wamen (PU) sampaikan tadi bahwa kita mengadakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah air melalui kementerian, juga kita membuat pola operasi waduk,” kata Adenan.
Di luar pernyataan resmi itu, operasi modifikasi cuaca sebenarnya sudah berjalan di beberapa tempat. Perum Jasa Tirta I, misalnya, mulai menyemai awan di Daerah Tangkapan Air Sutami sejak 15 Oktober 2026. Kerja sama melibatkan Kementerian PU, BMKG, TNI AU, dan PLN Nusantara Power untuk menambah aliran masuk ke waduk kaskade di Sungai Brantas.
Rencana Pembangunan Bendungan 2027–2028 untuk Ketahanan Air
Selain langkah darurat, Kementerian PU mulai mengidentifikasi kebutuhan pembangunan bendungan yang belum selesai. Pemetaan ini ditujukan untuk program tahun anggaran 2028. Diana menyampaikan alokasi pembangunan bendungan 2027 pada dasarnya sudah tersedia, sehingga kebutuhan lanjutan untuk 2028 disiapkan lebih awal agar tidak tertunda.
Identifikasi kebutuhan itu diharapkan segera tuntas. Proyek prioritas diharapkan memperkuat ketahanan sumber daya air di tengah risiko kekeringan yang meningkat. Dengan demikian, penanganan jangka pendek lewat modifikasi cuaca dipadukan dengan perencanaan infrastruktur jangka panjang.
Hingga berita ini ditulis, rincian lokasi target, jadwal sorti, atau target penambahan volume air untuk operasi khusus bendungan Jawa yang diumumkan Diana belum dirinci lebih lanjut oleh Kementerian PU. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sendiri sebelumnya sudah mengantisipasi perlunya intervensi di waduk utama Jawa sejak Juni 2026.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.