Kajima Otomatiskan Fondasi Dam untuk Kerja 24 Jam Nonstop
Mesin pengebor dan penyuntik semen Kajima kini bisa terus bekerja saat pekerja berganti shift, menaikkan volume harian 50 persen dan memangkas tenaga hingga 70 persen di Bendungan Naruse.
Di prefektur Akita, Jepang, fondasi sebuah bendungan raksasa tidak lagi berhenti hanya karena pekerja harus istirahat atau berganti giliran. Kajima baru saja merilis teknologi otomasi yang memungkinkan pekerjaan pengeboran dan penyuntikan semen (grouting) berlangsung 24 jam tanpa henti.
Teknologi itu terdiri dari mesin pengebor otomatis dan sistem grouting otomatis. Mesin pengebor menangani seluruh rangkaian kerja, termasuk melepas dan memasang batang bor, dengan kecepatan setara atau lebih cepat dari operator terampil. Sistem grouting mengurus penentuan campuran, pembuatan semen cair, penyuntikan, pengawasan operasi, hingga pembersihan pipa dan pabrik.
Kedua sistem dilengkapi deteksi gangguan yang otomatis menghentikan peralatan dan mengirim peringatan ke petugas lapangan. Hasilnya, satu tahap kerja fondasi yang biasanya memakan sekitar 15 jam kini bisa berjalan terus-menerus, termasuk di luar jam kerja manusia.
Uji di Naruse dan Angka Produktivitas
Kajima menguji dan menerapkan teknologi ini di proyek Bendungan Naruse, bendungan trapezoidal CSG terbesar di Jepang. Di sana, volume konstruksi harian naik sekitar 50 persen dibanding metode biasa. Kebutuhan personel untuk satu siklus kerja turun hingga 70 persen.
Bendungan Naruse memang sudah menjadi laboratorium otomasi Kajima. Sejak 2020, perusahaan itu menjalankan sistem A⁴CSEL yang menggerakkan belasan alat berat tanpa pengemudi untuk menimbun tubuh bendungan. Tiga petugas di ruang kendali berjarak ratusan kilometer mengawasi mesin-mesin yang bekerja siang dan malam.
Pekerjaan fondasi adalah bagian yang lebih rumit dan padat tenaga ahli. Dengan otomasi pengeboran dan grouting, Kajima memperluas pabrikisasi lapangan dari tubuh bendungan ke bagian yang sebelumnya masih sangat bergantung pada keterampilan manusia.
Menurut rilis resmi Kajima tanggal 21 Oktober 2026, mesin bisa terus beroperasi saat pekerja sedang istirahat atau berganti shift. Perusahaan menyatakan akan terus menyempurnakan dan memperluas penerapan teknologi ini pada pekerjaan fondasi bendungan.
Relevansi bagi Proyek Indonesia
Di Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum sedang mempercepat pembangunan dan rehabilitasi bendungan serta jaringan irigasi untuk ketahanan pangan. Di kawasan Wanam, Papua Selatan, jaringan saluran telah mencapai 133 kilometer dari target 180 kilometer per awal Oktober 2026.
Menteri PU Dody Hanggodo saat meninjau kawasan itu menekankan bahwa tugas kementerian adalah memastikan air tersedia melalui irigasi primer dan sekunder. “Kalau kita bicara sawah, porsi PU sebenarnya soal air,” katanya dalam keterangan resmi.
Namun, banyak proyek infrastruktur di dalam negeri masih menghadapi kekurangan tenaga ahli bersertifikat dan tekanan jadwal ketat. Pekerjaan fondasi sering menjadi titik yang memperlambat keseluruhan proyek karena bergantung pada kru bergiliran dengan produktivitas terbatas.
Bagi kontraktor yang mengerjakan bendungan dan irigasi, teknologi semacam ini berpotensi menekan biaya lembur dan risiko kecelakaan pada shift malam. Bagi pemilik proyek, ia membuka peluang menyelesaikan pekerjaan fondasi lebih cepat tanpa menambah jumlah pekerja terampil yang memang sulit dicari.
Kajima belum mengumumkan rencana ekspor atau kerja sama di luar Jepang. Namun, pola yang sudah berjalan di Naruse, mesin bekerja saat manusia istirahat, menunjukkan arah yang berbeda dari praktik banyak proyek bendungan di Indonesia yang masih mengandalkan pergantian kru secara konvensional.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.