4 November 2026

Xpanner Rilis Mesin Pemancang Tiang Otonom Satu Sentuhan

Satu operator mengawasi dari jarak jauh, siklus 45 persen lebih cepat, sementara Indonesia mengejar target PLTS 100 gigawatt-peak dengan tenaga terampil yang masih terbatas.

S Sagara Pengelola Rubrik
28 Oktober 2026, 05:23 WIB 3 menit baca 92 pembaca
Xpanner Rilis Mesin Pemancang Tiang Otonom Satu Sentuhan
Xpanner-mesin pemancang tiang otonom X1 Piling R6 di lokasi proyek PLTS. (GlobeNewswire / Xpanner)

Di tengah tekanan membangun pembangkit listrik tenaga surya skala besar dengan cepat, perusahaan otomasi konstruksi Xpanner pada 26 Oktober 2026 meluncurkan X1 Piling R6. Mesin ini mengotomatiskan perjalanan, penyelarasan, dan pemancangan tiang untuk proyek PLTS utilitas serta sistem penyimpanan energi baterai.

Operator cukup mengunggah rencana tiang, memandu mesin ke awal baris, lalu menekan satu tombol. Sistem kemudian bergerak sendiri ke setiap titik, menyelaraskan, memancang, dan menjaga tiang tetap tegak. Semua diawasi dari pengendali jarak jauh. Tidak ada pekerja yang harus berdiri dekat tiang mast.

Menurut perusahaan, siklus kerja di mesin generasi baru ini 45 persen lebih cepat dibanding sebelumnya. Teknologi pemosisian satelit ganda dengan ketelitian sentimeter memastikan setiap tiang terpasang tepat di koordinat yang ditentukan.

Mesin yang Mengurangi Ketergantungan Tenaga Ahli

Henri Lee, co-founder dan CEO Xpanner, menjelaskan dalam siaran pers yang dilansir GlobeNewswire bahwa pembangun PLTS dan penyimpanan baterai sedang berlomba memasok listrik baru ke jaringan dan pusat data kecerdasan buatan, tetapi kesulitan menemukan kru terampil.

“X1 memungkinkan satu operator memancang setiap tiang dengan sekali sentuhan, menjauhkan orang dari mast, dan mencatat setiap tiang saat terpasang,” kata Lee. Ia menambahkan bahwa otomasi yang sudah dipercaya kontraktor pada platform sebelumnya kini diletakkan di mesin yang lebih bertenaga.

Mesin ini menggunakan mesin 130 tenaga kuda dengan palu hidrolik berenergi tinggi. Ia mampu memancang tiang hingga panjang tujuh meter dan kedalaman hampir lima meter, termasuk untuk fondasi penyimpanan baterai, tanpa perlu adaptor tambahan.

Sebelumnya, Xpanner telah menerapkan kit otomasi serupa di lebih dari 67 lokasi proyek di Amerika Serikat. Generasi baru ini ditawarkan melalui model langganan yang mencakup mesin, perangkat lunak, dan dukungan lapangan.

Relevansi bagi Target Solar Indonesia

Di Indonesia, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt-peak dalam waktu sekitar tiga tahun. Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program tersebut pada 25 Agustus 2026 di Jembrana, Bali, dengan kapasitas terpasang saat ini yang masih berada di kisaran 1,5 gigawatt.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang telah mengidentifikasi sekitar 24.000 hektare lahan di Jawa yang potensial untuk mendukung program tersebut. Tahap awal sekitar 5,3 gigawatt-peak di sejumlah provinsi sudah berjalan.

Bagi kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi di tanah air, teknologi semacam ini menawarkan kemungkinan mengurangi ketergantungan pada kru pemancang ahli yang jumlahnya terbatas. Proses survey, penandaan, dan pemancangan yang biasanya melibatkan beberapa orang dapat disederhanakan.

Belum ada informasi bahwa Xpanner telah memasuki pasar Indonesia. Namun, karakteristik lahan luas dan target yang ambisius membuat pendekatan otomasi satu operator menjadi relevan untuk mempercepat fondasi proyek.

Hingga saat ini, klaim kecepatan dan pengurangan tenaga kerja masih berdasarkan pernyataan perusahaan. Verifikasi independen di lapangan Indonesia belum tersedia.

Mesin pemancang yang dijalankan satu orang dari jarak jauh mungkin menjadi salah satu jawaban ketika skala pembangunan melampaui ketersediaan tenaga terampil.***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.