29 September 2026

Kenapa Dermaga Kita Masih Hidraulik Saat Crane Kapal Listrik?

Order crane kapal dunia sudah 80 persen listrik. Di jetty proyek kita, oli hidraulik masih menetes, siapa yang tertinggal?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
29 September 2026, 17:01 WIB 5 menit baca 15 pembaca
Kenapa Dermaga Kita Masih Hidraulik Saat Crane Kapal Listrik?
Crane geladak kapal mengangkat muatan di sisi lambung. Jenis alat ini yang di pasar global mulai beralih ke penggerak listrik. (MacGregor)

Di pasar kapal dunia, penggerak hidraulik mulai kehilangan kursi. Semester I 2026, MacGregor mencatat lebih dari 80 persen order crane barunya memakai tenaga listrik.

Angka itu bukan peta seluruh dermaga. Itu peta satu pabrikan di Helsinki yang baru saja berpindah ke Triton pada 31 Juli 2025.

Yang dipesan pembeli: hoist, slew, dan luffing, tiga gerakan dasar crane kapal. Bukan skuter listrik. Bukan juga gantry di lapangan penumpukan.

Order baru sudah listrik, oli lama masih menetes

Rilis 25 Agustus 2026, yang kemudian diangkat Electrek empat hari kemudian, menyebut mayoritas order datang dari kapal heavy-lift dan multipurpose. Kapal kontainer menyusul setelah beberapa tahun sepi.

MacGregor tidak membuka nilai order maupun jumlah unit di balik klaim 80 persen itu. Yang dibuka hanya arah pasar.

Penggeraknya disebut VFD generasi kedua: pengatur putaran motor listrik agar gerakan halus dan hemat daya. Electrek menyebutnya servo. Intinya sama bagi operator: torsi datang segera, tanpa menunggu tekanan oli.

Klaim pabrik: hemat energi hingga 60 persen dibanding hidraulik sebanding, presisi lebih rapat, dan risiko tetesan oli hilang. Seri HCE untuk angkat berat, seri MCE untuk kontainer.

Installed base sering kacau di pemberitaan. MacGregor menulis lebih dari 800 crane listriknya sudah beroperasi setelah dua dekade riset. Electrek menulis lebih dari 600 kapal kontainer sudah memakai crane listrik mereka. Satu hitungan unit alat. Satu hitungan kapal. Jangan disatukan.

Penjualan 2025 sekitar 830 juta euro. Di kuartal II 2026, order masuk 351,2 juta euro, naik 82 persen dari tahun sebelumnya. Buku order menyentuh 1.228,3 juta euro.

Magnus Sjöberg, wakil presiden eksekutif Merchant Solutions MacGregor, pada 25 Agustus 2026 mengatakan penggerak listrik menjadi standar industri baru karena pelanggan melihat penghematan operasi dan jejak lingkungan yang lebih tipis.

Tiga crane yang sering tertukar dalam satu kalimat

Kalimat crane pelabuhan di Indonesia biasanya menumpuk tiga alat berbeda.

Pertama, crane di geladak kapal. Itulah pasar MCE, HCE, dan TCE.

Kedua, crane darat terminal: STS atau QCC di dermaga, RTG di lapangan, HMC yang berjalan. Itu milik Pelindo dan operator terminal.

Ketiga, crane jetty proyek: ponton, fixed crane, alat material IKN, nikel, dan smelter. Di sini hidraulik masih nyaman duduk.

Lapisan kedua sudah bergerak. Terminal Petikemas Semarang mengoperasikan enam QCC listrik; tujuh RTG masih solar dan tiga unit sedang dielektrifikasi dengan investasi 30,7 miliar rupiah. Kepala terminal I Nyoman Sutrisna, Oktober 2025, menyebut hanya sebagian kecil alat yang masih minum BBM.

Di Surabaya, dua belas QCC sudah listrik sejak 2016. Dua puluh dua RTG menuju konversi penuh. Direktur Utama TPS Wahyu Widodo mengklaim biaya BBM turun 60 sampai 70 persen. Sekretaris perusahaan Erika A. Palupi, 18 April 2025, merinci satu RTG solar menghabiskan sekitar 400 liter per hari, setara 1.072 kilogram karbon dioksida.

Banjarmasin menambah empat RTG listrik pada 2026. Kijing menerima dua RTG hibrida baterai Sany pada 4 Juli 2026. Sibolga mengelektrifikasi fixed crane pada November 2025. JICT Priok menyiapkan lima RTG listrik dan sepuluh traktor terminal listrik.

PLN dan Pelindo juga menyalakan listrik darat ke kapal di Tanjung Priok pada September 2026. Dua unit OPS masing-masing 500 kVA. Darmawan Prasodjo menyebut ini bagian dari pemangkas emisi saat kapal sandar.

Yang belum ikut irama itu justru crane di kapal feeder, ponton, dan jetty material. Pasar yang berbeda. Jadwal belanja yang berbeda.

Jejak listrik sudah ada di galangan kita, belum jadi standar jetty

Desember 2022, PT Karya Teknik Utama memesan sepuluh crane heavy-duty MacGregor untuk ponton floating crane buatannya. Dua unit pertama bertipe TCE listrik, crane transloading tanpa oli di sistem penggerak.

Winarto Asnim, CEO KTU saat itu, menyebut dirinya pembeli perdana TCE dan ingin alat itu menjadi perintis di industri alih muat. Pengiriman dijadwalkan 2023–2024. Itu bukti rantai pasok Indonesia sudah menyentuh crane kapal listrik. Bukan bukti jetty IKN atau smelter sudah berganti standar.

Kebocoran oli bukan slogan brosur. Skripsi PIP Semarang mendokumentasikan oil seal silinder hidraulik yang bocor di MT Sanana. Tahun 2024, tekanan pompa hidraulik turun di MV Meratus Sibolga karena seal dan poros aus; bongkar muat tersendat.

Jurnal Saintara edisi Maret 2022 mencatat tumpahan oli hidraulik crane di dek MV Sinar Bima, dengan kerangka MARPOL. KN SAR 224 Basudewa pernah kehilangan fungsi crane karena rumah silinder bocor. Di Kendari, studi FMEA pada crane kapal curah menempatkan kawat, bantalan, dan pelumas sebagai titik rawan.

Tidak ada statistik nasional berapa liter oli menetes ke perairan pelabuhan setiap tahun. Yang ada pola yang berulang: seal aus, perawatan tertunda, operasi tersendat, dek basah.

Pelabuhan rakyat Bumi Harapan di Sepaku, yang disinggahi sekitar 200 kapal material IKN, justru masuk pemberitaan karena dugaan penyelewengan tarif bongkar muat 5 miliar rupiah pada Januari 2026. Itu jetty material, bukan terminal otomatis. Di Kolaka, empat portal crane 40 ton beroperasi pada Mei 2026 di Pelabuhan IPK.

Elektrifikasi tambang sering lebih ramai dibicarakan. Padahal di pasar kapal niaga global, geladak sudah lebih dulu pindah ke motor.

Jonas Gustavsson, CEO MacGregor, pada Juli 2026 di proyek SEAMLESS Uni Eropa mengatakan bukti konsep crane pintar sudah ada. Yang belum selesai: regulasi dan kerangka keselamatan. Listrik membuka jalan otomatisasi. Aturan belum mengejar.

Kalau hemat energi 60 persen itu benar di laut, dan analog darat Pelindo sudah memotong opex BBM puluhan persen.

Teknologinya sudah dipesan orang lain. Dermaga mana di sini yang masih menunggu oli menetes dulu, baru ganti mesin proyek?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.