17 Oktober 2026

Robot AS Kejar 1.250 Rumah, Program 3 Juta RI Tertinggal

Sementara robot merakit kerangka rumah tipikal dalam delapan jam di pabrik Arizona, realisasi Program 3 Juta Rumah Indonesia baru mencapai 324.213 unit hingga pertengahan Juni 2026.

S Sagara Pengelola Rubrik
17 Oktober 2026, 12:22 WIB 3 menit baca 34 pembaca
Robot AS Kejar 1.250 Rumah, Program 3 Juta RI Tertinggal
Lengan robot Promise Robotics merakit rangka dinding rumah di pabrik, bagian dari sistem yang diklaim mampu menyelesaikan kerangka tipikal dalam sekitar delapan jam. (The Robot Report)

Ramtin Attar, pendiri dan direktur utama Promise Robotics, mengumumkan pada 13 Oktober 2026 bahwa perusahaannya meneken perjanjian multi-tahun dengan D.R. Horton, pembangun rumah volume terbesar Amerika Serikat. Melalui model Pabrik sebagai Layanan, D.R. Horton akan mengakses kapasitas produksi otomatis berbasis kecerdasan buatan dan lengan robot untuk mendukung lebih dari 1.250 rumah, mayoritas tipe satu lantai di kawasan Phoenix, Arizona.

Ihwal sistem tersebut, platform menginterpretasi desain rumah yang sudah ada, menghasilkan instruksi robotik, lalu merakit komponen struktural seperti dinding, lantai, dan tangga di pabrik. Komponen kemudian dikirim ke lokasi untuk perakitan di lapangan. Pabrik baru seluas sekitar 1.500 meter persegi di area Gilbert direncanakan mulai berproduksi awal 2027, menjadi fasilitas ketiga setelah Calgary dan Edmonton.

Attar menjelaskan bahwa homebuilding selama ini kekurangan infrastruktur produksi yang mampu menyesuaikan skala dengan kecepatan dan efisiensi manufaktur modern. “Kecerdasan buatan fisik mengubah itu dengan menciptakan model produksi baru yang dapat memperluas kapasitas di dalam dan lintas pasar,” kata Attar dalam pengumuman resmi perusahaan.

Brad Conlon, wakil presiden senior pertumbuhan strategis dan inovasi D.R. Horton, menyebut perusahaan terus mencari inovasi untuk memperbaiki siklus pembangunan, menambah kapasitas, dan meningkatkan konsistensi. “Platform terintegrasi Promise Robotics memberi kami kemampuan baru untuk mendukung tujuan tersebut,” kata Conlon dalam pernyataan yang sama.

Realisasi Program di Indonesia Masih Jauh dari Target

Sebelumnya, di Indonesia, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyampaikan pada 17 Juni 2026 bahwa realisasi Program Pembangunan dan Renovasi 3 Juta Rumah mencapai 324.213 unit secara nasional hingga 13 Juni 2026 berdasarkan data Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Angka itu tersebar di empat jalur: pengembang 181.291 unit, swadaya 83.210 unit, negara 55.655 unit, dan gotong royong 4.057 unit.

Selain itu, Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat Heru Pudyo Nugroho merinci pada 14 Oktober 2026 bahwa penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan mencapai 459.468 unit sejak 2025 hingga 14 Oktober 2026. Realisasi 2026 hingga tanggal tersebut sekitar 180.600 unit dari target 350.000 unit. “Sektor perumahan bukan hanya mengejar target realisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional untuk pencapaian tiga juta rumah, tetapi juga membangun ekosistem,” kata Heru.

Data Badan Pusat Statistik memperkuat gambaran tekanan hunian. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan pada 13 Agustus 2026 bahwa backlog kepemilikan rumah per Maret 2026 turun menjadi 9,29 juta rumah tangga atau 12,39 persen dari 9,64 juta tahun sebelumnya. Backlog kelayakan hunian tercatat 18,01 juta rumah tangga atau 24,03 persen.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait terus mendorong percepatan melalui koordinasi lahan dan pengawasan kualitas, meski kendala perizinan dan pasokan rumah subsidi masih menjadi tantangan utama di lapangan. Hingga berita ini ditulis, pihak industri konstruksi Indonesia belum memberikan tanggapan spesifik terkait model industrialisasi robotik sejenis.

“Ini baru titik awal,” kata Attar dalam wawancara terpisah. “Kami perlu membangun kepercayaan setiap pelanggan dan benar-benar mengeksekusi.”***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.