9 Oktober 2026

Robot Las Cina Geser Tukang, Impor Mesin RI Tetap Bengkak

Bengkel baja Cina sudah memindahkan tukang las ke meja pengawas. Indonesia masih membeli mesin premium, dan defisitnya lewat USD15 miliar dalam tujuh bulan.

HS Heru ST Pengelola Rubrik
9 Oktober 2026, 12:56 WIB 3 menit baca 41 pembaca
Robot Las Cina Geser Tukang, Impor Mesin RI Tetap Bengkak
Robot las mengerjakan balok baja di bengkel, sementara operator mengawasi dari samping. (Financial Times)

Robot di pabrik anak usaha China State Construction Engineering Corporation sekarang yang mengelas di ketinggian, membersihkan karat, dan mengangkut material berat. Tukang yang dulu memegang obor beralih mengawasi alat dan mengecek mutu.

Laporan itu terbit di People's Daily Online pada 9 Oktober 2026. Angkanya berasal dari CSCEC Science and Industry, sesama anak usaha grup konstruksi itu.

Robot disebut jalan tanpa henti dan menaikkan efisiensi seluruh lini 22–40 persen. Kamera laser tiga dimensi menahan selisih posisi dalam 1 milimeter. Las yang lolos sekali jalan di atas 99,5 persen.

Angka itu data perusahaan yang dikutip media, bukan hasil uji pihak luar. Tim pabrik pintarnya dibentuk pada 2015. Platform robot industri baru resmi jalan pada Juni 2025.

Tukang las pindah ke meja pengawas

Di pabrik baja Wuhan, perubahannya sudah kelihatan di lantai kerja. Sejak awal 2025, hampir sepertiga stasiun las manual diganti robot, menurut Jimu News pada 21 September 2026.

Zhou Zhizhou, tukang las dengan masa kerja 15 tahun, kini menjalankan enam senapan las pintar. Lempeng 12 meter dengan enam jalur las selesai satu jam. Tiga orang dengan las manual butuh sedikitnya empat jam.

Ia menggambarkan pergeseran itu sederhana: dulu makan dari keahlian tangan, sekarang dari kemampuan mengatur alat. Kutipan itu dimuat Caidian News pada 25 Agustus 2026.

Di bengkel jembatan pabrik yang sama, efisiensi las naik 30 persen dan kelulusan sekali jalan stabil di 99 persen. Tahun ini 61 mesin las dan potong pintar masuk. Satu komponen baja jembatan yang dulu 35 hari kini 15 hari.

Mesin tetap butuh pengawas. Li Wei, ketua grup mutu, pernah menghentikan robot karena arus dan tegangan goyang. Pelat uji yang dilas ulang meleset 3 milimeter.

Jimu News mencatat kelulusan sekali jalan di Wuhan naik sekitar 30 persen dibanding las manual. Pekerjaan yang harus diperbaiki turun 55 persen dalam setahun. Angka pabrik itu tidak sama dengan klaim lini 22–40 persen.

Di luar bengkel, pasarnya juga bergeser. Wang Jun, Wakil Kepala Bea Cukai Cina, pada 14 Januari 2026 mengatakan ekspor robot industri 2025 naik 48,7 persen dan sudah melewati impor. Cina menjadi penjual bersih.

Impor mesin RI lewat USD15 miliar

Di dalam negeri, mesin perkakas presisi, mesin kendali numerik, otomasi, dan robotik masih banyak didatangkan. Dadang Asikin, Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia, mengatakan sekitar 75 persen peralatan premium masih impor.

Ia menyampaikannya kepada Kompas pada 7 Oktober 2026. Pabrik lokal sudah bisa membuat rangka, struktur, dan sebagian komponen mekanik. Komponen presisi dan sistem kendali tertentu masih dibeli dari luar.

Januari–Juli 2026, ekspor industri mesin dan perlengkapan di luar kategori lain tercatat USD2,75 miliar. Impornya USD17,81 miliar. Selisihnya sekitar USD15,06 miliar.

Itu hitungan industri, bukan golongan mesin mekanis Badan Pusat Statistik. Impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya pada periode yang sama USD23,77 miliar, naik 16,31 persen. Angka itu disampaikan Deputi BPS Ateng Hartono pada 1 September 2026.

Muhammad Sarmuji, yang menerima jabatan Menteri Perindustrian pada 2 Oktober 2026, menaruh industri permesinan di daftar awal. Setia Diarta, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, mengatakan menteri ingin sektor ini tumbuh agar ketergantungan impor berkurang.

Dadang, kepada Kontan pada hari yang sama, menilai saingan bukan cuma harga. Yang dihadapi adalah teknologi, mutu, kecepatan kirim, pembiayaan, dan daftar produsen yang disetujui, yang masih diisi merek luar negeri.

Menurutnya, penggantian impor tidak bisa serentak. Mesin yang dibangun di dalam negeri harus yang paling dibutuhkan pasar dan layak secara usaha.***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.