Robot AS Klaim Selesaikan Finishing Dinding Tiga Kali Lebih Cepat
Yogesh Ghaturle menyebut robot Origin mampu menuntaskan finishing dinding dalam satu shift penuh tiga kali lebih cepat dari kru manusia, sementara Indonesia menargetkan 400 ribu unit bedah rumah yang masih mengandalkan tenaga tukang.
Yogesh Ghaturle, Co-founder dan CEO Origin, mengatakan robot OG-1 menyelesaikan pekerjaan finishing dinding tiga kali lebih cepat daripada kru manusia dalam satu shift penuh. Pengukuran itu mencakup waktu setup manusia, pergantian alat, penggantian material, hingga perawatan di akhir hari.
Origin, perusahaan yang berbasis di San Francisco, mengumumkan keluar dari mode tersembunyi pada 15 Oktober 2026 setelah mengantongi pendanaan total USD20 juta. Putaran ini dipimpin bersama Accel dan Zacua Ventures, dengan partisipasi Unilazer Ventures, Schema Ventures, serta angel dari Anduril, Skild AI, 1X, dan Tesla.
Robot OG-1 dirancang mengerjakan aplikasi compound, pengamplasan, dan priming dinding secara otonom. Perusahaan menyebut hasilnya setara dengan kualitas tukang profesional. Menurut Ghaturle, pekerjaan interior yang menyumbang lebih dari 65 persen timeline konstruksi selama ini masih dilakukan secara manual.
“Setiap pelanggan yang kami layani memiliki permintaan dan backlog proyek yang lebih besar dari kapasitas tim mereka,” kata Ghaturle dalam pernyataan resmi perusahaan pada 15 Oktober 2026. Ia menambahkan, Origin ingin menjadi “mesin waktu” bagi industri konstruksi agar pekerjaan selesai lebih cepat.
Ihwal klaim otonomi penuh, Forbes mencatat anggota kru manusia tetap berperan sebagai operator untuk setup dan pengisian material. Perusahaan menargetkan 150 unit robot terdeploy pada akhir 2027, dengan pilot di Amerika Serikat, Eropa, hingga Arab Saudi.
Target Bedah Rumah Melonjak Hampir Sembilan Kali Lipat
Fitrah Nur, Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, menyampaikan bahwa program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya menargetkan 400 ribu unit pada 2026. Angka itu naik dari 45 ribu unit pada 2025, dengan anggaran sekitar Rp8,9 triliun.
Hingga 14 Oktober 2026, program yang juga disebut bedah rumah telah merampungkan 53 ribu unit. Progresnya mencapai 57,70 persen, dengan beberapa provinsi sudah menembus 75 hingga 80 persen. Setiap unit mendapat bantuan Rp20 juta, terdiri dari Rp17,5 juta untuk material dan Rp2,5 juta untuk upah tukang.
“Tahun lalu itu program hanya 45.000 dan pencapaiannya juga sudah 100 persen. Tahun ini ada kenaikan yang sangat signifikan itu menjadi 400.000 atau hampir 8,5 kali lipat,” kata Fitrah dalam konferensi pers di Jakarta, 14 Oktober 2026.
Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, sebelumnya menekankan bahwa lonjakan alokasi di Jawa Barat menjadi 49.227 unit merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Ia menyebut program ini berpotensi menyerap sekitar 100 ribu tenaga tukang di provinsi itu jika dihitung dua orang per rumah.
Selain itu, program tetap bersifat stimulan dan mengandalkan swadaya serta gotong royong. Proses pekerjaan baru berjalan lebih cepat setelah dana masuk ke rekening penerima. Kementerian mencatat sekitar sepuluh provinsi masih memiliki progres rendah dan sedang digencarkan.
“Yang paling rendah itu ada sekitar 10 provinsi yang sekarang sedang kami genjot per hari progresnya, sehingga bisa menyamai teman-teman di provinsi yang lain,” ujar Fitrah.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.