2 Oktober 2026

China Borong Robot Pabrik, Bengkel Kita Masih Ngitung Las?

Stok robot pabrik dunia menyentuh 5 juta unit. China mengambil 59 persen pemasangan baru.

HS Heru ST Pengelola Rubrik
2 Oktober 2026, 11:58 WIB 4 menit baca 20 pembaca
China Borong Robot Pabrik, Bengkel Kita Masih Ngitung Las?
Lengan las mengerjakan balok baja di bengkel fabrikasi. Mesin seperti ini yang dihitung dalam laporan robot industri. (Ilustrasi AI Generate)

Lengan lasnya sudah antre di luar negeri. Di bengkel baja dan precast, tukang lasnya masih dihitung satu per satu.

International Federation of Robotics (IFR) merilis World Robotics 2026 pada 24 September 2026 di Frankfurt. Stok robot industri yang beroperasi di pabrik dunia naik 9 persen dan menyentuh rekor 5 juta unit pada 2025. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibanding tujuh tahun sebelumnya.

Pabrik dunia memasang lebih dari 600.000 unit baru, naik 11 persen. Setahun sebelumnya IFR masih memproyeksikan 575.000 unit. Realisasinya melewati proyeksi itu. Manufacturing Dive kemudian mengangkat angka yang sama pada 28 September 2026.

Yang timpang bukan jumlahnya. Yang timpang adalah peta pembelinya.

Satu negara mengambil hampir tiga dari lima lengan baru

China memasang 354.000 unit pada 2025, naik 20 persen. Itu 59 persen dari seluruh pemasangan global, dan hampir 60.000 unit di atas rekor tahunannya sendiri. Pangsa ini menghitung instalasi baru, bukan stok yang sudah terpasang bertahun-tahun.

Amerika Serikat baru menyalip Jepang di peringkat dua, dengan hampir 38.500 unit, naik 12 persen. Jepang memasang 36.219 unit dan turun 19 persen. Jerman memasang kurang dari 25.000 unit dan turun 8 persen.

China memasang lebih dari sembilan kali lipat Amerika Serikat. Seluruh Uni Eropa, menurut olahan The Next Web atas data IFR, hanya sekitar 60.500 unit dan turun 11 persen. Satu negara Asia memasang lebih banyak daripada gabungan pasar lama di Eropa.

Jane Heffner, Presiden IFR, mengatakan otomatisasi industri bergerak dengan kecepatan tinggi. Ia menambahkan pertumbuhan terkuat berlangsung di Asia, disusul Amerika, sementara Eropa bergerak lebih lambat. Pernyataan itu ia sampaikan di siaran pers 24 September 2026.

Bukan humanoid, melainkan lengan untuk baja dan mesin

Yang dibeli pabrik-pabrik itu bukan robot mirip manusia. Yang mereka pasang adalah lengan industri: mesin berengsel yang mengelas, mengangkat, dan merakit di dalam sel kerja.

Di China, pembeli terbesar tetap industri listrik dan elektronik, 96.400 unit, naik 16 persen. Otomotif mencatat rekor 78.900 unit, naik 38 persen. Logam dan permesinan, kategori yang paling dekat dengan fabrikator baja serta bengkel alat berat, memasang 78.700 unit dan naik 44 persen. Nilainya hampir menyamai otomotif.

Susanne Bieller, Sekretaris Jenderal IFR, mengatakan kepada Xinhua pada 24 September 2026 bahwa perusahaan China tumbuh jauh lebih kompetitif dalam sepuluh tahun terakhir. Pangsa pemasok domestik di pasar sendiri mencapai 55 persen, atau 195.000 unit. Pemasok asing justru tumbuh lebih kencang, 27 persen. Bieller juga menyebut pemasok China belajar membuat robot yang pas untuk satu kegunaan, bukan mesin serbaguna yang mahal.

Di luar Asia, kejutan datang dari pasar yang lebih kecil. India memasang hampir 10.500 unit, naik 15 persen. Brasil hampir 4.300 unit, naik 38 persen, dan IFR menilai lonjakan itu kemungkinan besar didorong investasi produsen mobil China. 

Indonesia tidak disebut di rincian negara pada siaran pers itu. Laporan berbayar IFR tetap memuat bab Indonesia, tetapi angkanya tidak terbuka untuk publik. Jadi absen di rilis bukan berarti IFR tidak mencatat. Artinya redaksi belum punya angka yang aman dikutip.

Dari pabrik baja China ke bengkel fabrikasi

Untuk fabrikator baja, precast, dan bengkel alat berat, laporan ini belum berbicara tentang robot mirip manusia. Yang paling dekat adalah kategori logam dan permesinan. Di China, kategori itu memasang 78.700 unit pada 2025 dan naik 44 persen, hampir menyamai otomotif.

Angka itu baru sinyal permintaan. Harga sel otomasi, suku cadang lengan las, dan waktu kedatangan ke kawasan industri Indonesia tidak ada di rilis IFR. Jadi lonjakan di China belum otomatis menjadi penawaran yang bisa dibandingkan di bengkel fabrikasi sini.

IFR juga memisahkan volume pembelian dari densitas, yaitu jumlah robot per 10.000 pekerja pabrik. Siaran pers September 2026 tidak merilis densitas baru. Data publik terakhir menempatkan Korea di 1.220 unit. China sempat di papan atas, lalu turun menjadi 166 setelah data jumlah pekerjanya direvisi. China juara membeli. Belum tentu juara merapatkan robot di setiap lini.

Proyeksi berikutnya tetap menghitung lengan dan sel kerja konvensional. IFR memperkirakan pemasangan global naik menjadi 655.000 unit pada 2026, lalu 806.000 pada 2029.

Kalau kategori logam dan mesin di China sudah naik 44 persen, kapan bengkel fabrikasi di negara kita yang maju ini mulai menghitung kebutuhan otomasi dari lantai produksinya sendiri?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.