3 Oktober 2026

79 Persen Kontraktor Pakai Robot, Benarkah?

Survei bilang 79 persen kontraktor pakai robot, video seribu bata per jam? Itu klaim lama.

HS Heru ST Pengelola Rubrik
3 Oktober 2026, 11:02 WIB 6 menit baca 3 pembaca
79 Persen Kontraktor Pakai Robot, Benarkah?
Mesin merah meratakan screed basah, sementara pekerja mengecek hasil dengan tongkat perata. Laser di tripod dipakai sebagai patokan ketinggian. (Ilustrasi AI Generate)

Tiga kabar robot konstruksi sedang beredar bersamaan. Adopsi disebut naik lebih dari dua kali lipat. Video robot bata menjanjikan seribu bata per jam. Singapura memperluas robot di proyek rumah susun. Kalau disejajarkan, kesannya mesin sudah mengambil alih lapangan. Datanya tidak berkata sejauh itu.

Yang naik adalah pemakaian, bukan seluruh proyek

Laporan BuiltWorlds 2026, yang dikutip Building Design + Construction pada 5 Agustus 2026, membandingkan dua survei kontraktor. Pada 2025, 29 persen responden memakai robot di lokasi sampai taraf tertentu. Pada 2026, angkanya menjadi 79 persen.

Lonjakan paling besar ada di kelompok yang baru mencoba. Sebanyak 32 persen mengaku menguji robot di minimal satu proyek, naik dari 12 persen. Jadi sebagian besar kenaikan masih berupa percobaan, bukan pemakaian rutin di setiap lantai.

Manfaat yang paling sering disebut juga memberi petunjuk. Akurasi berada di atas, disebut 75 persen responden. Mengurangi kerja manual disebut 63 persen. Keselamatan disebut 56 persen. Kontraktor tampak lebih menghargai hasil yang konsisten daripada sekadar mengganti tukang.

Tiga merek yang menonjol punya kerja berbeda. FieldAI paling tinggi nilainya. Boston Dynamics paling banyak dipakai, biasanya lewat robot berkaki yang memantau lokasi. Dusty Robotics paling sering diujicobakan untuk menggambar denah langsung di lantai, supaya tukang tidak mengukur ulang titik demi titik.

Angka 79 persen tetap sempit cakupannya. Itu survei kontraktor umum dan kontraktor spesialis, bukan sensus proyek dunia. Ukuran sampel tidak muncul di liputan sekunder. Memakai mencakup uji coba dan pemakaian sebagian, bukan 79 persen bangunan yang sudah dikerjakan mesin dari pondasi sampai atap.

Ada pula selisih cara menghitung. Construction Dive pada 2 Oktober 2026 merangkum laporan yang sama sebagai kenaikan 45 persen pada pemakaian tingkat tertentu, dengan kelompok uji coba yang hampir tiga kali lipat. Edisi 2025 bahkan mencatat pemakaian aktif turun dari 65 persen ke 46 persen.

Skala uangnya juga masih kecil. Laporan Zacua 2026 menilai pendapatan robot di lokasi proyek masih di kisaran miliaran dolar, tumbuh belasan persen per tahun dari basis sempit. SMS Insider memperkirakan belanja global bergerak dari sekitar USD 1,76 miliar pada 2026 menjadi USD 6,27 miliar pada 2035. Naik, tetapi belum menjadi pos besar di biaya proyek.

Seribu bata per jam adalah janji lama

Video yang ramai di Threads hampir selalu kembali ke Hadrian X, mesin Australia buatan FBR. Dulu perusahaannya bernama Fastbrick Robotics. Lengan teleskopik di atas truk mengambil model tiga dimensi, memotong blok, memberi perekat, lalu menempatkannya.

Angka seribu bata per jam lahir pada 2015, saat penemunya, Mark Pivac, berbicara kepada PerthNow. Ia membayangkan dinding rumah selesai dalam dua hari nonstop, dibanding empat sampai enam minggu oleh kru manusia. Klaim serupa diulang pada 2018 kepada Business Insider.

Kinerja yang terukur lebih pelan. Pada 2020, Popular Mechanics melaporkan Hadrian X baru mencapai sekitar 200 blok per jam. Perusahaan saat itu mengatakan kecepatan itu sudah bisa bersaing biaya di sebagian pasar, tetapi target seribu belum tercapai.

Uji pabrik Oktober 2025 di High Wycombe, Australia Barat, juga tidak mengembalikan angka itu. Hadrian membangun struktur 751 blok dengan laju efektif lebih dari 285 blok per jam. Klaim puncak perusahaan: sampai 360 blok per jam. Operasinya tetap dua orang, satu di robot dan satu di alat pemuat.

Satu hal sering hilang di video. Yang dipasang adalah blok besar, bukan bata kecil yang biasa dihitung orang. Satu blok bisa setara belasan bata. Seribu bata per jam kadang hanya konversi, bukan hitungan bata yang benar-benar diletakkan.

Model jualnya pun bukan mesin di setiap kontraktor. FBR menawarkan dinding jadi per proyek. Harga mesin yang beredar di liputan sekitar 7,8 juta dolar Australia, terlalu mahal untuk dibeli sebagian besar pembangun rumah.

Pembanding yang sudah bekerja di Amerika Serikat, SAM100 dari Construction Robotics, lebih lambat dan tetap butuh manusia. Kecepatannya sekitar 300 bata per jam, atau sampai 3.000 bata per hari. Ada operator, pengisi bahan, dan tukang yang merapikan hasil. Cocok untuk dinding panjang yang lurus, bukan untuk setiap sudut rumah.

Singapura mempercepat pekerjaan yang paling berulang

Kabur yang paling bisa dicek datang dari Singapura, dan mesinnya bukan pemasang bata. Pada 25 September 2026, Menteri Pembangunan Nasional Chee Hong Tat meminta Housing and Development Board memperluas alat yang sudah diuji ke lebih banyak proyek Build-to-Order, rumah susun yang dibangun sesuai pesanan.

Menurut CNA, yang diperluas adalah lift sementara otomatis dan robot perata lantai. Lift itu bisa dipanggil pekerja ke lantai yang dibutuhkan. Satu orang mengawasi sampai tiga unit lewat kamera, sementara lift biasa butuh satu operator per unit. Di contoh enam lift, dua pekerja menggantikan enam. HDB menyebut kenaikan produktivitas sekitar 200 persen, tetapi hanya untuk pekerjaan angkut itu.

Robot perata lantai diuji di Bukit Merah dan Ghim Moh, sekitar 80 unit di dua proyek. Satu flat empat kamar bisa diratakan dalam sehari, tergantung denah dan keahlian operator. Pelatihan operator hanya beberapa hari, dibanding berbulan-bulan untuk meratakan lantai dengan tangan. Uji akan masuk minimal empat proyek lagi pada 2027. Lift pintar ditargetkan di sekitar setengah lokasi yang ditender mulai 2027, dengan harapan kelak masuk semua lokasi baru.

HDB juga menjaga ekspektasi harga dan waktu tunggu. Biaya awal sedikit lebih tinggi, tetapi tidak otomatis menaikkan harga flat. Pekerjaan tertentu lebih singkat, sementara jadwal proyek tetap bergantung pada desain dan kondisi lahan.

Jejak ini sudah dimulai sebelum 2026. Sejak 2025, sekitar setengah lokasi baru direncanakan memakai robot cat dan sebagian plester. Uji di Yishun sejak Agustus 2023 menaikkan produktivitas pekerjaan itu sampai 30 persen. Target besarnya tetap perbaikan produktivitas lokasi sebesar 40 persen pada 2030.

Proyek percontohan Garden Waterfront II @ Tengah, yang selesai Juni 2026, berada di jalur kenaikan 25 persen dari patokan 0,6 meter persegi per orang per hari. Di acara yang sama, HDB juga menstandarkan komponen pracetak, bagian bangunan yang dicetak di pabrik lalu dipasang di lokasi. Perkiraan resminya, jam kerja proyek bisa terpangkas sampai 20 persen, tanpa membuat semua blok terlihat sama.

Pola yang sama muncul di ketiga kabar. Robot paling berguna di pekerjaan berulang: menggambar titik, mengawasi lokasi, mengangkat material, meratakan lantai, mengecat dinding panjang. Begitu pekerjaan berubah sudut, bahan, atau cuaca, manusia tetap memegang keputusan.

Kalau angka adopsi dan cuplikan mesin terus disejajarkan tanpa keterangan, batas antara uji coba, target lama, dan alat yang sudah masuk lokasi jadi kabur. Pembaca bisa mengira robot sudah menggantikan tukang, padahal yang naik baru sebagian pekerjaan dan sebagian responden survei.

Kontraktor yang disebut memakai robot bisa baru mencoba di satu lantai. Video yang viral bisa membawa janji dari satu dekade lalu. Proyek rumah susun di Singapura mempercepat angkut dan perataan lantai, bukan memasang bata sendirian.

Jadi, mana yang sedang diukur saat kabar robot konstruksi beredar: jumlah perusahaan yang pernah mencoba, kecepatan mesin di pabrik, atau pekerjaan yang benar-benar berpindah dari tangan ke alat?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.