30 Koperasi RI Adopsi Smart Factory, Bisakah Menyusul Korea?
Indonesia menuntaskan program pabrik pintar bersama Korea Selatan. Sebanyak 30 koperasi dan perusahaan mengadopsi teknologi baru. Mampukah program ini diperluas?
30 Koperasi dan Perusahaan RI Mulai Terapkan Pabrik Pintar
KonstruksiTekno.id – Sebanyak 30 koperasi dan perusahaan Indonesia telah mengadopsi teknologi pabrik pintar atau smart factory melalui program kerja sama dengan Korea Selatan yang berlangsung sejak 2023.
Program Official Development Assistance (ODA) Smart Factory Indonesia–Korea Selatan tersebut ditutup pada Selasa (3/11/2026), menandai berakhirnya tahap pendampingan teknologi manufaktur bagi peserta di Indonesia.
Menurut laporan ANTARA dan Detik pada 3 November 2026, program ini juga menghasilkan Smart Factory Training Center di BINUS Bekasi, yang telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 600 peserta.
Fasilitas tersebut diharapkan membantu menyiapkan tenaga kerja yang memahami otomasi, pengelolaan produksi berbasis data, dan teknologi manufaktur digital.
Korea Selatan Punya 30.000 Pabrik Pintar
Korea Selatan menjadi salah satu rujukan pengembangan industri manufaktur digital setelah membangun sekitar 30.000 smart factory dalam satu dekade terakhir.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana teknologi produksi digital dapat diperkenalkan secara bertahap, termasuk kepada perusahaan berskala kecil dan menengah.
Di Indonesia, Kementerian Koperasi membuka peluang memperluas kemitraan menuju pengembangan smart factory dan smart farm, termasuk bagi koperasi petani sawit.
Langkah ini berpotensi mendukung hilirisasi komoditas sekaligus meningkatkan kemampuan koperasi mengolah produk bernilai tambah.
Namun, keberhasilan tahap awal belum otomatis menjamin perluasan program. Biaya investasi, kesiapan sumber daya manusia, dan kemampuan pemeliharaan teknologi tetap menjadi tantangan.
Dengan baru 30 koperasi dan perusahaan yang mengikuti program, pertanyaan berikutnya adalah apakah Indonesia mampu mereplikasi model Korea Selatan secara luas atau berhenti pada proyek percontohan.
Bagi pelaku UKM manufaktur, koperasi, dan mahasiswa teknik, pengalaman ini membuka peluang mempelajari otomasi industri tanpa harus bergantung pada investasi pabrik berskala besar.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa hasil program perlu diterapkan lebih luas, bukan berhenti setelah kerja sama berakhir.
"Kami harap hasil dan praktek baik tidak berhenti pada kegiatan ini saja tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut," ujar Ferry, sebagaimana dikutip Detik, 3 November 2026.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.