Produksi Naik, Pabrik Justru Kurangi Pekerja
Angka produksi dan pesanan pabrik naik di kuartal III 2026, tetapi jumlah tenaga kerja justru menyusut. Bank Indonesia mencatat pola yang sama berulang.
Kinerja industri pengolahan Indonesia menguat pada kuartal III 2026. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia mencapai 52,28 persen, naik dari 51,43 persen pada kuartal sebelumnya.
Angka di atas 50 persen menandakan ekspansi. Tiga komponen utama mendorong kenaikan itu. Volume persediaan barang jadi tercatat 54,80 persen. Volume produksi 54,31 persen. Volume total pesanan 53,34 persen. Semuanya naik dibanding kuartal II.
Di balik angka itu, dua komponen justru menyusut. Jumlah tenaga kerja berada di 49,58 persen. Kecepatan penerimaan barang input di 48,68 persen. Keduanya masih di zona kontraksi.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan aktivitas industri pengolahan terus berkembang. Ia memproyeksikan kuartal IV masih menguat ke 52,37 persen. Namun komponen tenaga kerja diperkirakan tetap di bawah 50 persen, meski sedikit membaik ke 49,93 persen.
Pola ini bukan baru. Sejak kuartal II 2025, komponen jumlah tenaga kerja PMI-BI hampir selalu berada di zona kontraksi, sementara produksi dan pesanan sering ekspansif. Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia juga mencatat kapasitas produksi terpakai tetap terjaga di 73,75 persen.
Kementerian Perindustrian menargetkan produktivitas tenaga kerja manufaktur naik dari Rp124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp147,7 juta pada 2029. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menekankan bahwa investasi dan teknologi saja tidak cukup.
“Pembangunan industri nasional tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga SDM yang kompeten, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri,” kata Sarmuji dalam keterangan resmi 11 Oktober 2026. Ia mendorong pendidikan vokasi yang link and match dengan kebutuhan industri, termasuk keterampilan digital dan otomasi.
Di sisi lain, ketergantungan pada mesin impor masih tinggi. Industri mesin dan perlengkapan mencatat defisit sekitar USD15,06 miliar pada Januari–Juli 2026. Ekspornya hanya USD2,75 miliar, sementara impor mencapai USD17,81 miliar. Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia Dadang Asikin menyebut sekitar 75 persen peralatan premium masih didatangkan dari luar.
Subsektor yang paling ekspansif pada kuartal III adalah barang galian bukan logam, makanan dan minuman, serta logam dasar. Sementara itu, proyeksi kuartal IV menunjukkan mayoritas subsektor tetap ekspansif, dengan indeks tertinggi diperkirakan pada industri kulit dan alas kaki.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan tambahan dari Kementerian Ketenagakerjaan terkait pola penyerapan tenaga kerja yang tidak sejalan dengan kenaikan produksi.
Ramdan Denny Prakoso menegaskan dalam keterangan resminya bahwa kinerja industri pengolahan diprakirakan terus meningkat hingga akhir 2026. “Pada triwulan IV 2026, kinerja LU industri pengolahan diprakirakan meningkat, tecermin dari PMI-BI sebesar 52,37 persen,” katanya.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.