4 November 2026

Pabrik Pipa Seamless Pertama Indonesia Resmi Soft Launch di Cilegon

Ketergantungan impor pipa energi mulai dijawab lewat soft launching pabrik seamless di Cilegon yang menargetkan substitusi kebutuhan nasional 600 ribu ton per tahun.

S Sagara Pengelola Rubrik
25 Oktober 2026, 13:55 WIB 3 menit baca 189 pembaca
Pabrik Pipa Seamless Pertama Indonesia Resmi Soft Launch di Cilegon
Proses produksi pipa seamless di pabrik PT Artas Energi Petrogas (Doc by: dunia energi)

Di dalam kompleks industri Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Selasa 20 Oktober 2026, PT Artas Energi Petrogas bersama Inerco menggelar soft launching pabrik pipa seamless pertama di Indonesia. Para undangan menyaksikan langsung proses pembakaran baja billet yang diolah menjadi pipa tanpa kampuh.

Kehadiran fasilitas ini menjawab ketergantungan panjang terhadap impor. Kebutuhan pipa nasional untuk sektor minyak, gas, dan panas bumi mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun, sebagian besar masih dipenuhi dari luar negeri melalui trader Oil Country Tubular Goods yang mengimpor pipa mentah atau green pipe.

Prioritas Pabrikan Lokal

Pakar panas bumi Riki F. Ibrahim, yang juga dosen Magister Energi Terbarukan Universitas Darma Persada serta mantan Direktur Utama PT Geo Dipa Energi periode 2016-2022, menilai pemerintah perlu berpihak pada produsen dalam negeri.

“Pemerintah layak memberikan prioritas atau hak utama kepada Artas untuk memenuhi kebutuhan pipa nasional yang mencapai sekitar 600.000 ton setiap tahunnya. Pabrikan lokal tidak seharusnya diadu dengan trader Oil Country Tubular Goods yang saat ini masih diperbolehkan mengimpor pipa mentah ke Indonesia,” kata Riki.

Ia menambahkan bahwa nilai tambah akan maksimal tinggal di dalam negeri apabila hak impor diprioritaskan kepada entitas yang memiliki pabrik di Indonesia, bukan sekadar trader. Riki yang juga menjabat Anggota Dewan Pakar MKI dan Ketua Pjs Dewan Pengawas METI menyebut kehadiran pabrik ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal Tingkat Komponen Dalam Negeri serta agenda hilirisasi yang digencarkan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Acara dihadiri jajaran pengembang panas bumi se-Indonesia, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, lembaga sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri, serta Staf Ahli Menteri ESDM Anwar. Perusahaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi serta pengembang panas bumi menyambut positif karena kualitas dan ketersediaan pasokan dinilai lebih terjamin dengan supervisi Kementerian ESDM.

Dari Proyek ke Produksi

PT Artas Energi Petrogas yang juga dikenal sebagai Indonesia Seamless Tube telah bekerja sama dengan Inerco Global International sejak penandatanganan kerja sama operasi pada Agustus 2024. Kementerian Perindustrian meresmikan proyek tersebut pada November 2024 dengan investasi dalam negeri. Kapasitas produksi dilaporkan berkisar 250 ribu hingga 300 ribu ton per tahun.

Produk pabrik telah mengantongi sertifikasi standar internasional API 5L, API 5CT, dan API Q1. Manajemen Artas dan Inerco menegaskan agenda jangka pendek adalah memproduksi baja billet secara mandiri. Langkah itu dinilai realistis mengingat ketersediaan bijih besi dan batu bara kokas di dalam negeri, yang berpotensi menaikkan Tingkat Komponen Dalam Negeri dari sekitar 43-50 persen menuju 90 persen.

Kehadiran pabrik seamless ini menjadi langkah konkret substitusi impor sekaligus fondasi penguatan rantai pasok energi nasional. Bagi industri manufaktur baja dan kontraktor energi, peluang mengurangi ketergantungan impor terbuka lebar, sementara proyek panas bumi dan minyak gas mendapatkan opsi produk lokal bersertifikat.

“Kalau dialog seperti ini sering dilakukan, hilirisasi akan tumbuh masif. Pengusaha butuh kepastian bahwa investasinya akan diserap pasar nasional,” ujar Riki menutup.***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.