4 November 2026

Robot Maximo Selesaikan 300 Ribu Tugas Panel Surya di AS

Robot otonom Maximo menembus 300 ribu tugas pemasangan panel surya skala utilitas di Amerika Serikat, dengan produktivitas kru 2,5 kali lebih tinggi dibanding metode manual.

S Sagara Pengelola Rubrik
31 Oktober 2026, 12:29 WIB 3 menit baca 41 pembaca
Robot Maximo Selesaikan 300 Ribu Tugas Panel Surya di AS
Robot otonom Maximo menempatkan modul surya dengan presisi milimeter di proyek pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas. (Ilustrasi AI Generate)

Sebuah perusahaan robotika konstruksi asal Amerika Serikat melaporkan pencapaian signifikan dalam pemasangan panel surya skala utilitas. Maximo Robotics mengumumkan sistem robot otonomnya telah menyelesaikan lebih dari 300.000 tugas melalui kontrak robotika sebagai layanan.

Kru yang bekerja bersama platform Max 4.0 mencapai tingkat pemasangan per orang per jam shift 2,5 kali lebih tinggi dibanding metode manual. Kontraktor hanya membayar per tugas yang selesai, bukan membeli mesin secara langsung.

Sistem tersebut kini beroperasi di proyek enam kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi di tujuh negara bagian: California, Illinois, Kansas, Louisiana, New York, Texas, dan Washington. Salah satunya adalah Primoris Services Corporation melalui divisi energi terbarukannya.

Kolaborasi Lapangan yang Terukur

Robot Maximo menempatkan modul surya berat dengan ketepatan milimeter. Platform Max 4.0 menggabungkan model kecerdasan buatan untuk penglihatan dan perencanaan, perangkat keras robotik, serta sistem manajemen armada yang terus belajar dari data lapangan.

Chris Shelton, Direktur Utama Maximo Robotics, menyatakan bahwa pelanggan konstruksi bergantung pada kru yang aman, produktif, dan pelaksanaan yang dapat diandalkan. “Pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas menjadi titik awal yang baik bagi solusi kecerdasan buatan fisik kami,” katanya dalam siaran pers 29 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa perusahaan kini fokus memperluas penyebaran dan memperpanjang layanan ke domain konstruksi lain.

Matt Tetrault, Presiden bisnis energi terbarukan Primoris, menekankan pentingnya menyatukan pengalaman tenaga kerja dengan teknologi baru. “Kolaborasi erat antara tenaga terampil, pimpinan proyek, dan tim Maximo memungkinkan penyempurnaan teknologi secara langsung di lapangan,” ujarnya. Hasilnya, perbaikan praktis pada kinerja pemasangan, keselamatan, dan integrasi alur kerja.

Perusahaan menargetkan pipeline tahap akhir 2027 yang mencakup tambahan sekitar tiga juta tugas, setara dengan 1,5 gigawatt cakupan instalasi. Angka tersebut diklaim sepuluh kali lipat volume tugas yang telah diselesaikan.

Jadwal Ketat Indonesia dan Metode Konvensional

Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 gigawatt peak pada 25 Agustus 2026 di Monumen Operasi Gilimanuk, Bali. Tahap awal mencakup 14 proyek berkapasitas total 5,3 gigawatt peak.

“Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” kata Prabowo dalam peresmian. Ia membandingkan target tersebut dengan total kapasitas pembangkit listrik nasional saat itu yang sekitar 88 gigawatt.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memproyeksikan investasi keseluruhan sekitar USD73 miliar atau Rp1.140 triliun. Program ini diharapkan menghemat subsidi hingga Rp73,9 triliun per tahun serta mengurangi emisi sekitar 140 juta ton karbon dioksida per tahun.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pembangkit listrik tenaga surya terapung Karangkates berkapasitas 133 megawatt peak di Waduk Sutami, Kabupaten Malang. Konstruksi infrastrukturnya telah mencapai 70 persen per akhir Oktober 2026, atau 13 persen lebih cepat dari target.

Ruly Firmansyah, Direktur Utama PLN Nusantara Power, menyatakan capaian tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan menghadirkan pembangkit energi bersih yang andal. “Berdasarkan sistem monitoring kami, progres pembangunan tercatat 13 persen lebih cepat dari target,” katanya pada 27 Oktober 2026. Produksi listrik perdana ditargetkan awal Desember 2026.

Kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi energi terbarukan serta tenaga kerja lapangan di Indonesia menghadapi tekanan jadwal dan keterbatasan tenaga terampil. Model robotika sebagai layanan yang terbukti di Amerika Serikat menawarkan jalur untuk menurunkan hambatan modal sekaligus menaikkan throughput pemasangan, sementara proyek dalam negeri masih mengandalkan metode konvensional.***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.