Kementerian PU Serap 8.011 Pekerja Lokal Lewat PISEW
Hingga 21 Oktober 2026, program padat karya desa menyerap ribuan pekerja dengan progres 46,18 persen, sementara di luar negeri ekskavator sudah beroperasi tanpa operator.
Di desa-desa Indonesia, ribuan tangan masih menggali dan meratakan tanah. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah atau PISEW telah menyerap 8.011 tenaga kerja lokal di 808 lokasi hingga 21 Oktober 2026.
Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp404 miliar. Progres fisiknya sudah menyentuh 46,18 persen. Target akhir tahun ini adalah 10.456 orang atau setara 618.684 hari orang kerja. Data itu diumumkan melalui keterangan tertulis pada 23 Oktober 2026.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menekankan bahwa PISEW bukan sekadar proyek fisik. “PISEW bukan sekadar membangun jalan atau saluran, tetapi membuka ruang bagi masyarakat desa untuk bekerja, berdaya, dan meningkatkan nilai ekonomi di wilayahnya. Melalui pendekatan padat karya, masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan di desanya,” kata Dody di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.
Program ini membangun jalan, jembatan, tambatan perahu, pasar, gudang, hingga lantai jemur. Tujuannya memperlancar distribusi hasil pertanian dan perikanan sekaligus memberi penghasilan langsung kepada warga.
Progres Lebih Cepat di Kalimantan Selatan
Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, progres fisik sudah mencapai 66,11 persen. Warga setempat membangun jalan paving block sepanjang 700 meter di Desa Telaga Langsat dan Lok Binuang, serta meningkatkan jalan penghubung 1.200 meter di Desa Longawang dan Pandulang.
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Kalimantan Selatan Denny Surya Martha menjelaskan, peningkatan akses itu diharapkan memperlancar mobilitas dan distribusi hasil produksi. “Sekaligus membuka peluang pengembangan kawasan ekonomi sesuai potensi desa setempat seperti pertanian dan perikanan,” ujarnya.
Pendekatan padat karya ini memberi pekerjaan sementara kepada kontraktor kecil dan kelompok masyarakat desa. Sementara proyek besar seperti tol, bendungan, dan Ibu Kota Nusantara tetap bergantung pada alat berat yang operatornya terbatas.
Kabin Ekskavator yang Kosong
Kontrasnya tampak di luar negeri. Perusahaan asal San Francisco, Bedrock Robotics, sudah mengoperasikan ekskavator tanpa operator di kabin pada proyek infrastruktur aktif di Amerika Serikat. Sistem retrofit mereka dipasang dalam satu hari dan bekerja di fasilitas pengolahan air di Nevada serta proyek earthwork di Texas.
Sementara itu, Gravis Robotics dari Swiss yang merupakan spin-off ETH Zurich memperoleh pendanaan Series A sebesar USD200 juta dari SoftBank. Kit retrofit mereka memungkinkan ekskavator berbagai merek beroperasi secara otonom atau semi-otonom, dengan klaim peningkatan produktivitas hingga 30 persen pada pekerjaan repetitif.
Di Indonesia, ribuan pekerja desa masih menggunakan tenaga manual untuk membangun akses. Di luar, mesin berat mulai berjalan sendiri. Perbedaan itu mencerminkan dua jalur pembangunan yang berjalan bersamaan: satu berbasis pemberdayaan masyarakat, yang lain berbasis otomatisasi.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.