AI Temukan 253 Ketidaksesuaian Desain Tanpa BIM
Pipeline AI dari SEOULTECH membandingkan dokumen perhitungan struktur dan gambar. Dalam satu studi kasus, sistem menemukan 253 ketidaksesuaian.
AI membandingkan dokumen struktur
Peneliti Seoul National University of Science and Technology di Korea Selatan mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk memeriksa ketidaksesuaian antara dokumen perhitungan struktur dan gambar desain, tanpa menggunakan Building Information Modeling (BIM).
Sistem ini mengekstrak informasi dari beragam dokumen, lalu menyusunnya agar dapat dibandingkan. Untuk membaca dokumen perhitungan, pipeline menggunakan analisis tata letak dan pengenalan karakter optik. Pada gambar desain, sistem memadukan pengenalan karakter dengan visi komputer untuk menemukan tabel dan membaca kode elemen struktur.
Dalam pengujian pada satu proyek residensial di Korea Selatan, akurasi ekstraksi mencapai 95,56 persen untuk dokumen perhitungan dan 90,47 persen untuk gambar.
Ratusan ketidaksesuaian ditemukan
Pemeriksaan menemukan 253 ketidaksesuaian: 224 data hilang, 18 perbedaan detail tulangan, delapan perbedaan dimensi, dan tiga data duplikat. Rincian ini disampaikan dalam keterangan penelitian yang dirilis Seoultech melalui PR Newswire pada 3 November.
“Kerangka kerja AI kami secara otomatis mengekstrak, menyusun, dan membandingkan informasi,” kata Jaewook Jeong, peneliti yang memimpin tim. Menurut Jeong, sistem tersebut dapat membantu proyek yang masih mengandalkan dokumen konvensional, termasuk proyek yang belum mampu menerapkan BIM.
Potensi untuk pemeriksaan di lapangan
Perbedaan antara perhitungan dan gambar dapat luput dari pemeriksaan manual dan baru diketahui saat konstruksi berlangsung. Sistem seperti ini berpotensi membantu konsultan, kontraktor, dan pengawas menemukan masalah lebih awal, sebelum pekerjaan dilanjutkan atau tertutup oleh tahap konstruksi berikutnya.
Relevansinya terlihat pula di Indonesia. Tinjauan literatur dalam Jurnal Spektran pada Januari 2026 menyebut kematangan BIM masih didominasi Level 1; sekitar 11,8 persen organisasi dalam kajian itu mencapai Level 2. Kajian tersebut menganalisis 123 penelitian, sehingga angkanya menggambarkan studi yang ditinjau dan bukan sensus seluruh proyek nasional.
Hasil AI ini masih berasal dari satu studi kasus di Korea Selatan. Pengujian lebih luas diperlukan untuk mengetahui kinerjanya pada dokumen, standar, dan kondisi proyek yang berbeda, serta apakah penggunaannya dapat mengurangi pekerjaan ulang atau keterlambatan di Indonesia.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.