Rumah Tipe 36 Selesai 3 Pekan? Ini Klaim Teknologi Autoconz
Autoconz mengklaim teknologi cetak 3D mampu membangun rumah tipe 36 dalam tiga pekan dengan potensi penghematan 30%. Seberapa siap teknologi ini diterapkan secara luas?
JAKARTA — Membangun rumah tipe 36 hanya dalam tiga pekan, dengan biaya yang diklaim bisa dipangkas hingga 30 persen, menjadi salah satu janji teknologi konstruksi cetak tiga dimensi yang dikembangkan perusahaan asal Yogyakarta, Autoconz.
Perusahaan bernama resmi PT Berdikari Teknologi Indonesia itu menggunakan teknologi 3D Construction Printing (3DCP), yakni sistem pencetakan material konstruksi secara berlapis melalui mesin yang dikendalikan desain digital.
Teknologi tersebut menawarkan alternatif terhadap pembangunan konvensional yang, menurut perbandingan perusahaan, membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua bulan untuk rumah tipe 36.
Namun, seberapa jauh klaim kecepatan dan penghematan tersebut dapat diterapkan pada proyek perumahan berskala besar?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika pemerintah Indonesia berupaya mempercepat Program 3 Juta Rumah, sementara kebutuhan hunian terjangkau dan efisiensi pembangunan masih menjadi tantangan nasional.
Bagaimana mesin cetak 3D membangun rumah?
Berbeda dari metode pemasangan batu bata satu per satu, teknologi 3DCP menggunakan mesin berstruktur gantry yang bergerak mengikuti rancangan digital bangunan.
Mesin tersebut mengeluarkan material mortar, yakni campuran berbahan dasar semen dan material lainnya, secara bertahap hingga membentuk elemen bangunan seperti dinding.
Sistem ini memungkinkan pengerjaan bagian tertentu dilakukan secara otomatis, mengurangi pekerjaan manual sekaligus memberikan keleluasaan dalam membentuk desain bangunan.
Autoconz menyatakan teknologi yang dikembangkannya mencakup mesin, formulasi material, sistem pengendalian, serta metode konstruksi yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Meski demikian, pencetakan dinding tidak berarti seluruh rumah dapat diselesaikan hanya oleh mesin.
Pekerjaan pondasi, pemasangan atap, instalasi listrik, perpipaan, pintu, jendela, serta penyelesaian akhir tetap membutuhkan tahapan konstruksi tambahan.
Karena itu, waktu pencetakan struktur perlu dibedakan dari waktu penyelesaian keseluruhan rumah hingga siap dihuni.
Dari mana klaim tiga pekan dan penghematan 30% berasal?
Klaim pembangunan rumah tipe 36 dalam waktu maksimal tiga pekan sebenarnya bukan informasi yang sepenuhnya baru.
Dalam pemberitaan Cast Foundation pada 8 Januari 2022, Raja Rizqi Apriandy, yang saat itu disebut sebagai CEO Autoconz, telah menyampaikan perbandingan waktu pembangunan menggunakan teknologi cetak 3D dan metode konvensional.
Ia mengklaim teknologi tersebut dapat mempercepat pengerjaan rumah tipe 36 menjadi maksimal tiga pekan, dibandingkan sekitar 1,5 hingga dua bulan dengan cara tradisional.
Raja juga menyebut potensi penghematan biaya hingga 30 persen.
Angka-angka tersebut kembali menjadi perhatian dalam pemberitaan Viva pada 29 Oktober 2026 mengenai pemanfaatan teknologi cetak 3D untuk pembangunan rumah di Indonesia.
Namun, klaim penghematan dan kecepatan itu masih perlu dibaca secara hati-hati.
Belum tersedia pembandingan biaya proyek secara terperinci dan hasil verifikasi independen yang dapat memastikan bahwa penghematan sebesar 30 persen berlaku konsisten pada berbagai lokasi, desain, dan skala pembangunan.
Biaya mobilisasi mesin, ketersediaan material, kondisi lahan, kebutuhan tenaga ahli, serta pekerjaan noncetak dapat memengaruhi biaya akhir pembangunan.
Mortar lokal Autoconz memiliki TKDN 68,29%
Salah satu perkembangan penting dari Autoconz adalah penggunaan material konstruksi yang dikembangkan di dalam negeri.
Dalam pengumuman bertanggal 20 Desember 2024, perusahaan menyatakan mortar khusus untuk teknologi 3DCP telah memperoleh sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 68,29 persen.
Nilai TKDN tersebut merujuk pada produk mortar yang diumumkan perusahaan, bukan otomatis pada keseluruhan mesin maupun bangunan yang dihasilkan.
Antonius Ali, yang disebut sebagai CEO Autoconz dalam pengumuman tersebut, menyampaikan bahwa sertifikasi itu merupakan hasil pengembangan material konstruksi cetak 3D selama beberapa tahun.
"Kami berharap inovasi ini dapat digunakan secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi banyak pihak serta masyarakat di seluruh Indonesia," kata Antonius dalam pernyataan perusahaan, yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Dalam pengumuman yang sama, perusahaan menyebut rencana mendapatkan sertifikasi TKDN untuk mesin gantry bernama Bimantara pada 2025. Namun, status akhir sertifikasi mesin tersebut belum dapat dipastikan dari informasi yang terverifikasi.
Kandungan lokal pada material membuka peluang bagi produsen mortar, pemasok bahan bangunan, dan industri pendukung konstruksi nasional.
Di sisi lain, nilai TKDN tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah teknologi lebih murah, lebih kuat, atau lebih ramah lingkungan. Klaim tersebut membutuhkan pengujian dengan parameter yang berbeda.
Program 3 Juta Rumah: Apa data terbaru pemerintah?
Potensi teknologi konstruksi yang lebih cepat muncul di tengah upaya pemerintah memperluas penyediaan rumah layak dan terjangkau.
Menurut laporan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang diumumkan pada 23 Oktober 2026, capaian pembangunan dan peningkatan kualitas rumah selama periode 2025 hingga 15 Oktober 2026 telah mencapai 1.790.081 unit.
Jumlah itu terdiri atas 1.103.918 unit pembangunan rumah baru dan 686.163 unit perbaikan atau peningkatan kualitas hunian.
Angka tersebut tidak seluruhnya merupakan pembangunan rumah baru dan mencakup dua tahun pelaksanaan, sehingga tidak bisa langsung dibandingkan sebagai pencapaian tahunan terhadap target tiga juta rumah.
Sementara itu, perkembangan terbaru dari sisi pembiayaan menunjukkan penyaluran Kredit Program Perumahan atau KUR Perumahan mencapai Rp29,1 triliun per 31 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati, sebagaimana dilaporkan kantor berita ANTARA pada Minggu (1/11/2026), menyebut pembiayaan itu telah menjangkau 119.790 debitur.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.120 debitur berada di sisi penyediaan perumahan dan 115.670 debitur di sisi permintaan.
Data ini memperlihatkan bahwa percepatan pembangunan perumahan bukan hanya berkaitan dengan metode konstruksi, tetapi juga dukungan modal, pembiayaan, serta kemampuan pengembang menjalankan proyek.
Apakah 3D printing bisa menjadi solusi perumahan rakyat?
Bagi pengembang dan kontraktor kecil-menengah, teknologi 3DCP berpotensi menawarkan efisiensi terutama pada pekerjaan berulang dengan desain rumah yang relatif seragam.
Penggunaan mesin juga dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja, dari pekerjaan pemasangan material secara manual menuju pengoperasian peralatan, pengawasan proses cetak, serta pengendalian mutu.
Namun, penerapan secara luas masih menghadapi sejumlah persoalan.
Investasi peralatan, biaya pengangkutan dan pemasangan mesin, ketersediaan operator terlatih, serta kesesuaian desain bangunan dengan standar keselamatan merupakan faktor yang perlu diperhitungkan.
Khusus di Indonesia, ketahanan struktur terhadap gempa, kualitas sambungan antarelemen bangunan, dan kepatuhan terhadap persyaratan teknis bangunan menjadi pertimbangan penting.
Teknologi cetak 3D juga tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan pekerja konstruksi. Sebaliknya, penerapannya dapat meningkatkan kebutuhan keterampilan baru di bidang mesin, pemodelan digital, dan pengawasan teknis.
Hingga 1 November 2026, belum tersedia bukti terverifikasi bahwa teknologi Autoconz telah digunakan secara massal dalam Program 3 Juta Rumah.
Meski demikian, pengembangan mesin dan material lokal menunjukkan adanya peluang bagi industri dalam negeri untuk mengambil bagian dalam perubahan metode pembangunan perumahan.
Pada akhirnya, keberhasilan teknologi ini tidak hanya akan diukur dari seberapa cepat sebuah mesin mencetak dinding.
Yang lebih menentukan adalah apakah rumah yang dihasilkan benar-benar aman, terjangkau, memenuhi standar bangunan, dan dapat dibangun secara konsisten dalam jumlah besar.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.