Dody Hanggodo Pastikan 93 Sekolah Rakyat Rampung dengan Pengawasan Digital
Dari 100 lokasi yang dibangun, 93 sudah selesai. Ribuan anak dari keluarga prasejahtera segera punya tempat belajar baru, sementara pengawasan proyek dilakukan lewat model tiga dimensi.
Dody Hanggodo memastikan sebagian besar Sekolah Rakyat Tahap II sudah rampung. Menteri Pekerjaan Umum itu menyebut 93 dari 100 lokasi di 32 provinsi selesai 100 persen per 27 Oktober 2026. Tujuh lokasi sisanya masih dalam tahap penyelesaian di Papua, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.
Kapasitas total mencapai 122.000 siswa. Angka itu naik setelah Presiden Prabowo Subianto meminta setiap lokasi menampung 1.260 siswa, bukan lagi 1.080 seperti rencana awal. Penambahan dilakukan dengan memperbanyak ruang belajar dan asrama.
Model Tiga Dimensi Mengawasi Lapangan
Pengawasan dilakukan dengan pemodelan informasi bangunan yang terintegrasi lingkungan data bersama. Tim membandingkan desain tiga dimensi dengan kondisi nyata di lapangan. Foto, video, dan kurva S menjadi alat bantu utama.
Informasi jadwal serta kebutuhan biaya ikut dianalisis agar penyimpangan bisa dideteksi lebih awal. Data dan dokumen dikelola dalam satu sistem. Kontraktor, manajemen konstruksi, konsultan, dan auditor dapat melihat, menyetujui, serta mencatat isu secara terukur.
Kementerian PU menetapkan indikator kinerja yang mencakup kelengkapan dokumen, kesiapan personel, keamanan data, serta simulasi jadwal dan biaya. Asesmen mandiri dilakukan setiap dua minggu, lalu divalidasi.
Di Banten, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Astri Paramitha menyebut pendekatan ini meminimalkan kesalahan manusia. Humas pelaksana setempat, Febriansyah, menambahkan bahwa model tiga dimensi memetakan kesalahan desain sejak dini. Perhitungan volume dikirim langsung secara real-time ke pusat.
97.000 Tenaga Kerja Lokal Terserap
Proyek ini menyerap sekitar 97.000 tenaga kerja lokal. Sebagian besar berasal dari desa dan kecamatan sekitar lokasi. Mereka diutamakan bersama penggunaan material lokal serta jasa katering dan angkutan.
Setiap kawasan dilengkapi tiga gedung pendidikan untuk jenjang dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Ada pula laboratorium, asrama putra-putri, rusun guru, kantin, tempat ibadah, serta lapangan olahraga.
“Kami memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan proyek infrastruktur pendidikan,” kata Dody Hanggodo dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa gedung sekolah, asrama, dan fasilitas sanitasi harus layak agar anak dari keluarga miskin ekstrem mendapat akses pendidikan berkualitas.
Program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi kelompok prasejahtera. Setelah Tahap II hampir tuntas, Kementerian PU merencanakan Tahap III di 100 lokasi baru dengan kapasitas lebih besar.
Hingga akhir Oktober 2026, lebih dari 44.000 anak sudah mengikuti pembelajaran di berbagai titik. Proses penerimaan dan persiapan operasional terus berjalan di bawah Kementerian Sosial.***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.