Bangun Dinding dari Sisa Sarapan dan Panen Padi, Kok Bisa?
Cangkang telur dan abu sekam padi diubah jadi blok struktural tanpa semen. Limbah dapur yang biasanya dibuang, kini bisa menahan beban rumah.
Setiap pagi kita membuang cangkang telur. Setiap musim panen, tumpukan sekam padi menggunung. Ironisnya, dua limbah itu sekarang bisa menjadi dinding rumah yang cukup kuat.
Tim peneliti di Brazil berhasil membuat blok ringan tanpa semen Portland sama sekali. Mereka menggabungkan abu sekam padi sebagai sumber silika, kapur dari cangkang telur yang dikalsinasi, dan larutan natrium hidroksida sebagai aktivator.
Dari Limbah Jadi Pengikat Kuat
Abu sekam padi kaya silika amorf. Cangkang telur setelah dikalsinasi menjadi sumber kalsium. Keduanya digiling halus, dicampur, lalu diaktifkan dengan larutan alkali.
Campuran itu dimasukkan ke cetakan dan ditekan. Setelah dicur pada 60 derajat Celsius selama sehari, blok siap diuji. Tidak ada pembakaran suhu tinggi seperti bata konvensional.
Hasilnya mengejutkan. Porositas menjadi penentu utama. Jika porositas dijaga di bawah 55 persen, blok memenuhi standar kekuatan tekan dan penyerapan air untuk penggunaan struktural, sebagaimana diuraikan dalam penelitian yang diterbitkan di Materials and Structures.
Angka yang Membuat Penasaran
Spesimen dengan densitas kering minimal 10 kilonewton per meter kubik sudah lolos uji sebagai blok struktural menurut standar Brazil dan ASTM.
Tekanan pencetakan di atas 2 megapascal umumnya dibutuhkan agar porositas cukup rendah. Blok ini juga lebih ringan dibanding bata biasa.
Tim peneliti menegaskan dalam jurnal tersebut, “A finely ground rice husk ash-eggshell lime blend can successfully create an alkali-activated cement. Furthermore, it was possible to produce bricks/blocks based on this AAC using industrial wastes that are normally disposed of in solid waste landfills.”
Peluang di Negeri Produsen Beras dan Telur
Indonesia menghasilkan beras dan telur dalam jumlah besar. Limbah sekam padi dan cangkang telur tersedia melimpah. Jika teknologi ini bisa diskalakan, renovasi rumah sederhana bisa menjadi lebih murah dan rendah emisi.
Tantangannya masih ada. Penelitian ini baru tahap laboratorium. Biaya aktivator dan proses kalsinasi cangkang telur perlu dikaji lebih jauh untuk kondisi lokal.
Bayangkan dinding rumah yang sebagian besar berasal dari sisa panen dan sisa sarapan. Seberapa siap kita memanfaatkan limbah yang selama ini hanya dibuang?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.