6 November 2026

Bekisting Kayu Masih Dibongkar Berhari-hari, Beton Ini Bangkit Sendiri dalam 14 Detik

Sementara tukang masih merakit papan bekisting berhari-hari, struktur beton 2,36 meter di laboratorium Technion sudah berdiri sendiri hanya dalam 14 detik. Mungkinkah cara membangun kita yang terlalu lambat?

S Sagara Pengelola Rubrik
11 Agustus 2026, 06:54 WIB 3 menit baca 175 pembaca
Bekisting Kayu Masih Dibongkar Berhari-hari, Beton Ini Bangkit Sendiri dalam 14 Detik
Sistem bekisting self-deploying Technion: tabung fleksibel mengembang otomatis saat beton dicor, membentuk struktur dalam 14 detik. (Ilustrasi AI Generate)

Bayangkan proyek di pulau terpencil atau lokasi pascabencana. Bekisting kayu datang dulu, dirakit manual, dicor, lalu dibongkar lagi. Proses itu memakan waktu, biaya, dan menyisakan tumpukan limbah. Di Technion, Israel, proses itu diganti dengan tabung fleksibel yang datang dalam bentuk lipat. Begitu beton dicor, tekanan cairan membuat tabung itu mengembang sendiri ke bentuk yang sudah dirancang.

Peneliti dari Faculty of Mechanical Engineering Technion bersama Columbia University menyebutnya self-deploying formwork. Sistem ini memakai tabung multistable berisi kabel baja. Polymer shell di sekelilingnya ikut mengeras dan menjadi bagian permanen struktur, sekaligus menambah kekuatan.

Dari bentuk lipat menjadi kolom dalam hitungan detik

Demonstrasi yang dirilis 9 Agustus 2026 menunjukkan struktur beton bertulang setinggi 2,36 meter dengan diameter dasar 2,4 meter fully deployed hanya dalam 14 detik. Tekanan beton yang dicor memicu tabung untuk membuka diri. Tidak ada lagi pekerja yang harus berdiri di atas tangga merakit papan satu per satu.

Prof. Amir Gat dan mahasiswa doktoral Ezra Ben-Abu dari Technion memimpin riset ini bersama Dr. Anna Zigelman serta Prof. Hod Lipson dari Columbia. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Communications Engineering dan disorot di Nature Cities.

Pernyataan resmi Technion yang dikutip Xinhua pada 10 Agustus 2026 menyatakan sistem ini “bisa secara signifikan mempercepat konstruksi sambil memangkas biaya dan emisi karbon.” Mereka menambahkan bahwa teknologi ini berpotensi dipakai untuk bangunan, infrastruktur, hunian darurat, dan lokasi terpencil.

Angka yang menggiurkan, tapi masih di meja laboratorium

Menurut estimasi peneliti, biaya material formwork bisa turun sekitar 94 persen dibanding bekisting kayu biasa. Emisi karbon terkait produksinya diperkirakan berkurang 50 persen. Polymer shell yang ikut mengeras juga meningkatkan kapasitas dukung kolom beton sekitar tiga kali lipat.

Angka-angka itu menggoda. Di Indonesia, bekisting masih menjadi salah satu item biaya dan waktu yang paling sulit ditekan, terutama di proyek infrastruktur daerah atau perumahan massal. Tenaga kerja terampil untuk merakit formwork sering langka, dan limbah kayu menumpuk di setiap site.

Namun data lapangan skala penuh belum ada. Belum ada laporan bagaimana sistem ini bertahan di iklim tropis lembap, bagaimana ia berinteraksi dengan getaran, atau apakah ia kompatibel dengan standar beton dan tulangan yang dipakai di sini. Ilustrasi bangunan bertingkat modular masih berupa konsep.

Pertanyaan yang lebih besar dari sekadar kecepatan

Kalau struktur sederhana bisa berdiri dalam hitungan detik, mengapa proyek-proyek kita masih menunggu berhari-hari hanya untuk menyiapkan cetakan? Apakah kita terlalu terbiasa dengan cara lama, atau memang belum ada dorongan untuk menguji teknologi seperti ini di lapangan nyata?

Sistem ini membuka kemungkinan baru untuk lokasi yang sulit dijangkau dan situasi darurat. Tapi ia juga memaksa kita bertanya ulang: seberapa siap industri konstruksi Indonesia menguji dan mengadaptasi inovasi yang datang dari luar, sebelum backlog perumahan dan infrastruktur terus menumpuk?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.