Beton yang Malah Menyerap Karbon, Kok Bisa?
Satu ton material ini menyerap 149 kg CO₂ lebih banyak daripada yang dikeluarkan. Sudah dipakai di Jerman, kapan di Indonesia?
Bayangkan bangunan yang justru membersihkan udara sambil berdiri. Bukan hanya mengurangi emisi, tapi benar-benar menyerap karbon dioksida lebih banyak daripada yang dikeluarkan saat pembuatannya.
Itulah klaim Rebond 300, material tambahan semen dari startup Belanda Paebbl. Satu tonnya punya jejak karbon bersih minus 149 kilogram CO₂. Angka ini sudah diverifikasi lewat Environmental Product Declaration atau EPD, dokumen resmi yang mengukur dampak lingkungan produk.
Industri semen menyumbang sekitar delapan persen emisi karbon global. Proses pembakaran clinker melepaskan karbon dalam jumlah besar. Selama ini solusi hanya sebatas mengurangi. Rebond 300 membalik logika itu.
Dari Batuan Biasa Menjadi Penyerap Karbon
Paebbl meniru proses alami yang biasanya memakan ratusan tahun. Mereka mempercepat pelapukan batuan magnesium silikat di dalam reaktor. Karbon dioksida yang tertangkap diikat menjadi bubuk mineral stabil.
Hasilnya berupa bubuk abu-abu terang hingga hampir putih. Bahan ini disebut Supplementary Cementitious Material atau SCM, yaitu material yang ditambahkan ke campuran beton untuk menggantikan sebagian semen.
Rebond 300 bisa menggantikan hingga 30 persen semen Portland. Pada rasio biasa, embodied carbon beton bisa turun sekitar 40 persen. Yang lebih penting, karbon tersimpan permanen di dalam struktur, bukan sekadar dihitung di atas kertas.
Proses ini tidak membutuhkan peralatan baru. Pabrik ready-mix dan precast bisa langsung memakainya.
Sudah Dicor di Lantai Industri Jerman
Mei 2026 menjadi momen penting. Holcim, Paebbl, dan kontraktor Goldbeck menuangkan slab lantai industri seluas 420 meter persegi di fasilitas logistik Jerman Selatan.
Campuran itu menggantikan 15 persen semen tradisional. Embodied carbon turun 13 persen. Kekuatan beton tetap memenuhi spesifikasi C30/37. Tidak ada perubahan metode pengecoran atau jadwal kerja.
Dari area itu saja, 886 kilogram CO₂ tersimpan secara permanen. Bengt Steinbrecher dari Holcim mengatakan proyek ini membuktikan inovasi bisa berkembang cepat lewat kolaborasi rantai nilai, seperti dilansir di situs resmi Holcim.
Ana Luisa Vaz, Vice President of Products Paebbl, menegaskan, “Hasilnya adalah lantai beton dengan karbon tersimpan permanen. Kami yakin model ini bisa menginspirasi industri.”
Generasi Baru yang Lebih Kuat
Juni 2026 Paebbl resmi meluncurkan Rebond 300. Angka minus 149 kilogram CO₂ per ton merupakan lonjakan sepuluh kali lipat dibanding generasi sebelumnya, seperti diumumkan di rilis resmi mereka dan diliput Carbon Herald.
Pernyataan resmi perusahaan menyebutkan setiap struktur yang memakai material ini menjadi penyimpan karbon permanen. Kontribusi terhadap target Scope 3 datang dari kimia material itu sendiri, bukan penyesuaian akuntansi.
Material ini sudah dipakai di jembatan pejalan kaki bersama Heijmans, infrastruktur pelabuhan, dan lantai ritel di Eropa. Paebbl kini merencanakan pabrik komersial berkapasitas 60.000 hingga 100.000 ton per tahun.
Peluang untuk Proyek Hijau di Indonesia
Industri semen Indonesia termasuk penyumbang emisi besar. Material yang membangun sekaligus menyerap karbon membuka peluang baru untuk sertifikasi hijau, renovasi berkelanjutan, dan infrastruktur pelabuhan.
Tentu masih ada tantangan. Volume produksi belum massal. Rantai pasok karbon tertangkap dan harga masih menjadi faktor kritis.
Tapi fakta di lapangan sudah ada. Beton yang menyerap karbon lebih banyak daripada yang dilepaskannya bukan lagi wacana laboratorium.
Kapan material seperti ini mulai diuji di proyek infrastruktur atau gedung hijau di Indonesia?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.