6 November 2026

China Sudah Massal, Barat Masih Pilot: Siapa Kuasa Robot Humanoid?

China menguasai 97 persen pengiriman robot humanoid dunia di semester pertama 2026. Sementara AS melarang, proyek konstruksi Indonesia bisa dapat apa?

S Sagara Pengelola Rubrik
12 Agustus 2026, 06:48 WIB 3 menit baca 192 pembaca
China Sudah Massal, Barat Masih Pilot: Siapa Kuasa Robot Humanoid?
Robot humanoid bekerja di proyek konstruksi — dari layout hingga material handling (Ilustrasi AI Generate)

Saat Amerika dan Eropa masih sibuk menguji coba robot humanoid di laboratorium dan pabrik percontohan, China sudah mengirimkan hampir seluruh unit yang beredar di dunia. Angkanya mengejutkan: lebih dari 97 persen dari total 19.100 unit yang dikirim sepanjang Januari–Juni 2026 berasal dari pabrik-pabrik China.

Laporan Smart Analytics Global yang dirilis 10 Agustus 2026 memaparkan angka itu secara rinci. Pertumbuhannya mencapai 272 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dua perusahaan saja, AGIBOT dan Unitree, sudah menguasai sekitar 75 persen pasar global.

Dari Percontohan ke Pabrik Massal dalam Hitungan Bulan

AGIBOT dari Shanghai menyalip Unitree dan menjadi pemimpin dengan sekitar 8.400 unit atau 44 persen pangsa pasar. Unitree menyusul di posisi kedua dengan 5.900 unit. Sisanya terbagi di antara Galbot, UBTECH, dan Leju.

Yang lebih penting dari angka penjualan adalah pergeseran penggunaannya. Lebih dari 70 persen robot humanoid kini masuk ke aplikasi industri dan komersial manufaktur, logistik, dan gudang. Tahun sebelumnya angka itu baru sekitar 50 persen.

Linda Sui, pendiri sekaligus peneliti utama Smart Analytics Global, menegaskan perubahan itu. “Pengiriman global hampir empat kali lipat, tapi pergeseran yang sama pentingnya terjadi pada cara robot-robot ini dipakai. Aplikasi industri dan komersial kini mendominasi,” katanya dalam laporan resmi 10 Agustus 2026.

Larangan AS dan Peluang yang Terbuka di Asia

Pada akhir Juli 2026, Federal Communications Commission Amerika Serikat memasukkan robot humanoid dan quadruped buatan luar negeri ke daftar barang yang dilarang masuk. Alasan resmi: risiko keamanan siber dan kerentanan rantai pasok. Brendan Carr, ketua FCC, menyebut langkah itu untuk mengamankan rantai pasok kritis Amerika.

China membalas dengan tuduhan proteksionisme. Sementara itu, harga robot humanoid China terus turun. Model seperti Unitree G1 sudah berada di kisaran ribuan dolar, jauh lebih murah dibanding produk Barat yang masih tahap pilot.

Bagi industri konstruksi Indonesia, dominasi ini punya arti praktis. Robot humanoid atau quadruped untuk menandai layout lantai, mengangkut material, atau melakukan inspeksi di lokasi proyek kemungkinan besar akan datang dari rantai pasok Asia. Barat unggul di sisi perangkat lunak dan kecerdasan, China unggul di skala produksi dan harga.

Proyek Konstruksi yang Mulai Siap Menerima

SAG memperkirakan total pengiriman global tahun 2026 bisa mendekati 60.000 unit. Pada 2030 angka itu diproyeksikan mencapai 500.000 unit per tahun. AGIBOT sendiri sudah menembus angka produksi kumulatif 15.000 unit pada akhir Juni 2026 hanya tiga bulan setelah mencapai 10.000 unit.

Dr. Yao Maoqing, presiden unit bisnis embodied AI AGIBOT, menyebut pencapaian itu sebagai tanda industri bergerak dari tahap validasi produk ke penerapan skala besar di dunia nyata.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah robot humanoid akan masuk ke proyek konstruksi Indonesia. Pertanyaannya: seberapa cepat industri kita menyiapkan diri menerima teknologi yang harganya sudah mulai masuk akal, sementara pemasoknya sudah menguasai hampir seluruh pasokan dunia?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.