4 November 2026

Hilirisasi Dorong Ekspor, Impor Tumbuh Lebih Cepat

Ekspor Indonesia naik 11,87% pada September, ditopang produk nonmigas. Namun, impor tumbuh lebih cepat dan surplus perdagangan menyusut.

S Sagara Pengelola Rubrik
4 November 2026, 12:27 WIB 2 menit baca 18 pembaca
Hilirisasi Dorong Ekspor, Impor Tumbuh Lebih Cepat
Pemuatan tembaga olahan untuk ekspor. (Ilustrasi AI Generate)

Ekspor nonmigas menjadi penopang

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, naik 11,87% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Kenaikan terutama berasal dari ekspor nonmigas, yang tumbuh 12,39% menjadi US$26,64 miliar. Sebaliknya, ekspor migas turun 0,99% menjadi sekitar US$951,7 juta. 


Industri pengolahan menyumbang US$23,27 miliar atau 87,36% dari total ekspor nonmigas. Angka ini menunjukkan besarnya peran produk manufaktur dalam kinerja ekspor bulan tersebut. Namun, kenaikan tidak terjadi merata pada semua komoditas utama.


Ekspor tembaga dan barang daripadanya melonjak 165,97% secara tahunan. Lemak dan minyak hewani atau nabati naik 89,04%, sementara mesin dan perlengkapan elektrik tumbuh 24,37%. Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan ekspor nonmigas terutama didorong oleh komoditas-komoditas tersebut.


Secara kumulatif, ekspor Indonesia selama Januari hingga September 2026 mencapai US$221,23 miliar, atau naik 5,58% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Capaian ini memberi gambaran bahwa penguatan pada September ikut menopang ekspor sepanjang tahun, meski belum menunjukkan pertumbuhan yang sama di seluruh kelompok barang. 


Hilirisasi menjadi agenda jangka panjang

Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai salah satu cara meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. 


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut target investasi hilirisasi sebesar Rp3.800 triliun dalam empat tahun, yang mencakup 28 komoditas di delapan sektor. 


Danantara juga menyatakan tengah menggarap 26 proyek hilirisasi dengan nilai investasi Rp225 triliun, termasuk proyek di sektor logam, energi, dan pangan.


Besarnya kontribusi industri pengolahan terhadap ekspor nonmigas sejalan dengan arah kebijakan tersebut. Meski begitu, data ekspor satu bulan belum cukup untuk memastikan seberapa besar kenaikan komoditas tertentu berasal dari hasil hilirisasi. Dampak program itu perlu dinilai dari perkembangan produksi, investasi, dan ekspor dalam periode yang lebih panjang.


Impor Indonesia Naik Lebih Cepat daripada Ekspor

Kinerja ekspor yang meningkat juga diikuti kenaikan impor yang lebih tinggi. BPS mencatat impor September mencapai US$24,23 miliar, naik 18,41% dibandingkan setahun sebelumnya. Dengan ekspor sebesar US$27,59 miliar, neraca perdagangan masih mencatat surplus US$3,36 miliar.


Namun, surplus tersebut lebih kecil dibandingkan US$4,55 miliar pada September 2025. Selisih laju pertumbuhan ekspor dan impor menjadi salah satu hal yang perlu dicermati ketika menilai kekuatan perdagangan Indonesia. Data itu menunjukkan bahwa peningkatan ekspor berjalan bersamaan dengan kenaikan kebutuhan barang dari luar negeri.***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.