Kenapa Bangunan Roboh justru dari Hal Tak Terlihat?
QC sering dianggap cap stempel di ujung proyek. Padahal keputusan kecil hari ini yang menentukan apakah struktur itu aman puluhan tahun, siapa yang berani menanggungnya?
Bangunan yang tampak kokoh di hari serah terima bisa menyimpan retak yang belum kelihatan. Bukan karena tiang yang miring mencolok. Melainkan karena slump beton, jarak tulangan, atau kepadatan tanah yang lolos tanpa pemeriksaan teliti.
Itulah sebabnya sebuah naskah yang beredar di kalangan praktisi menolak mereduksi quality control atau pengendalian mutu menjadi “sekadar memastikan pekerjaan sesuai standar”. QC, dalam narasi itu, menjadi penjaga mutu di setiap proses. Di balik struktur yang tampak tegak, ada ketelitian yang tidak terlihat mata awam.
Dua kalimat kuncinya merangkum pergeseran itu. Kualitas tidak lahir dari kebetulan. Kualitas dibangun lewat ketelitian, dikendalikan sejak awal, dan dibuktikan di setiap tahap. QC hari ini menjaga mutu agar keamanan dan kepercayaan masih berdiri di masa depan.
Petugas lapangan mengukur tulangan dan menguji adukan beton; keputusan QC diambil sebelum pengecoran, bukan sesudah bangunan berdiri. (Ilustrasi AI Generate)
![]()
Bukan cap di ujung, melainkan jaring di setiap tahap
ISO 9000 menempatkan QC sebagai bagian manajemen mutu yang memenuhi persyaratan mutu. Di lapangan konstruksi Indonesia, itu berarti pemeriksaan material masuk, pengujian di proses, dan verifikasi hasil jadi bukan hanya daftar periksa menjelang serah terima.
Kegagalan struktural jarang meledak dari satu kesalahan spektakuler. Ia tumbuh dari detail: mutu beton, cover tulangan, kualitas las, CBR tanah. Yang “tak terlihat” itulah yang menentukan apakah gedung bertahan lima puluh tahun atau goyah di tahun ketiga.
Ide itu tidak baru. John Ruskin, pemikir Inggris abad ke-19, menulis bahwa kualitas bukan kebetulan, melainkan hasil usaha yang cerdas. Versi lapangan masa kini menambah satu syarat: kendali sejak awal, bukti di setiap proses.
Joseph M. Juran merumuskan mutu sebagai fitness for use kelayakan pakai. Kaoru Ishikawa menuntut seluruh organisasi terlibat, bukan hanya petugas yang memegang alat ukur.
Aturan sudah ada, yang sering terlambat justru pemeriksaan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mewajibkan keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan. Peraturan pelaksananya ada di PP Nomor 22 Tahun 2020, yang kemudian diubah PP Nomor 14 Tahun 2021.
Kementerian PUPR memperjelas tata cara mutu lewat Surat Edaran Menteri Nomor 15/SE/M/2019. Lalu Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi mengikat Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi, rencana pemeriksaan dan pengujian, serta kendali terhadap sub penyedia dan pemasok.
Di pedoman lapangan, QC berarti rangkaian pemeriksaan, pengujian, dan pengawasan agar hasil sesuai spesifikasi, gambar kerja, dan kontrak. Tujuannya menemukan penyimpangan dini, bukan menstempel pekerjaan yang sudah terlambat diperbaiki.
QC tradisional menunggu cacat di ujung. QC yang menempel pada SMKK dan ISO 9001 berusaha mencegah cacat sejak material, metode kerja, kompetensi tukang, dan dokumentasi.
Yang lolos hari ini bisa ditagih sebagai nyawa dan biaya
Kajian industri yang merujuk 25 proyek menyebut biaya kegagalan mutu cacat, pengerjaan ulang, gangguan bisa menembus lebih dari 12 persen total biaya proyek jika pengendalian mutu lemah. Materi kontraktor dan konsultan bahkan menyebut pengerjaan ulang akibat QC lemah mencapai 15 hingga 25 persen biaya. Klaim bahwa audit ketat memangkas risiko kegagalan struktur 30 hingga 50 persen tetap harus dibaca sebagai angka industri, bukan statistik resmi pemerintah.
Risikonya tidak berhenti di anggaran. Data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip jurnal mencatat kecelakaan kerja nasional 298.137 kasus pada 2022, 370.747 pada 2023, dan 462.241 pada 2024. Porsi jasa konstruksi sekitar 0,92 persen pada 2024, atau sekitar 4.233 kasus. Persentasenya kecil. Fatalitasnya tidak.
Ilustrasi paling keras datang dari luar naskah. Pada 29 September 2025, bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, roboh. Pemberitaan The Guardian mencatat puluhan korban jiwa. Polisi menduga penambahan lantai tanpa izin dan pengecoran yang tidak memenuhi standar.
Mudji Irmawan, pakar konstruksi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dikutip media itu pada 6 Oktober 2025: konstruksi tidak mampu menahan beban saat pengecoran lantai tiga karena tidak memenuhi standar, lalu runtuh.
Keputusan mutu atau absennya pemeriksaan pada hari pengecoran menjadi soal nyawa dan kepercayaan publik bertahun-tahun kemudian.
PT Tricipta Karya Konsultama, dalam materi 30 Oktober 2025, menyebut QC sebagai jantung proyek dan fondasi manajemen risiko. Struktur yang sesuai spesifikasi menahan beban mati, beban hidup, angin, dan gempa. Kesalahan yang ditemukan di awal jauh lebih murah daripada membongkar beton atau memperbaiki las cacat di ketinggian.
Keputusan QC juga bersifat hukum. Dalam kerangka UU Jasa Konstruksi dan Undang-Undang Perseroan Terbatas, kelalaian pengawasan mutu dapat menyeret tanggung jawab pengurusan, bahkan risiko pidana dan perdata jika berujung kecelakaan fatal.
Kepercayaan publik bersifat kumulatif. Satu kegagalan mutu menghapus puluhan proyek yang “lulus inspeksi di atas kertas”.
Lalu, jika ketelitian yang tak terlihat itu yang menahan struktur, berapa banyak keputusan QC hari ini yang kita biarkan lolos hanya karena tidak ada yang melihatnya?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.
