Kenapa Beton Ampas Kopi Kuat di Lab, Kalah di Trotoar?
Lima ton ampas jadi trotoar di Australia. Di lab kuatnya naik 29 persen. Di jalan, keunggulannya hilang. Kenapa?
Di meja laboratorium, ampas kopi bikin beton jauh lebih kuat. Di trotoar yang benar-benar diinjak orang, keunggulan itu tidak ikut keluar dari cetakan.
Bukan karena resepnya batal. Tungku komersial tidak mampu meniru panas yang dipakai di lab.
RMIT University di Melbourne mengolah ampas menjadi biochar, arang berpori hasil pemanasan tanpa udara. Bahan itu menggantikan sebagian pasir sungai. Proyek besar pertama ada di trotoar McGregor Road, Pakenham, Victoria, bagian dari program Big Build. Major Road Projects Victoria, kontraktor BildGroup, dan pengolah limbah Earth Systems mengerjakannya. RMIT dan Big Build mengumumkannya pada 1 Oktober 2024.
Earth Systems membakar 5 ton ampas, kira-kira 140.000 cangkir, sampai tersisa 2 ton biochar. Bahan itu masuk ke 30 meter kubik beton. Pasir sungai yang tidak terpakai lebih dari 3 ton.
Ampas tidak boleh dituang mentah. RMIT menegaskan sisa organik akan membusuk di dalam beton, lalu merapuhkan pelat.
Beton Ampas Kopi 29 Persen Lebih Kuat, Cuma di Lab?
Riset intinya terbit di Journal of Cleaner Production pada 2023. Rajeev Roychand dan tim RMIT memanaskan ampas tanpa oksigen pada 350 derajat Celsius. Biochar itu mengganti 15 persen pasir.
Pada umur 28 hari, kuat tekan naik 29,3 persen dibanding campuran biasa. RMIT di rilis publik sering membulatkan angka itu menjadi 30 persen.
Panas yang lebih tinggi justru merusak hasil. Biochar 500 derajat lebih berpori dan retak mikro, sehingga betonnya lebih lemah.
Roychand, peneliti pascadoktoral RMIT dan penemu utama campuran ini, pernah memperkirakan kenaikan kekuatan bisa memangkas pemakaian semen sampai 10 persen. Itu taksiran, bukan hasil tuangan Pakenham. Trotoar uji coba tidak mengurangi dosis semen.
Skala limbahnya besar. RMIT menyebut Australia menghasilkan 75 juta kilogram ampas per tahun, sebagian besar masuk tempat pembuangan. Secara teori, aliran itu bisa mengganti 655 juta kilogram pasir. Di dunia, ampasnya 10 miliar kilogram per tahun.
Profesor Jie Li, ketua tim, menempatkan pemakaian pasir konstruksi global pada 50 miliar ton per tahun. Sebagian besar pasir itu dikeruk dari dasar dan tepi sungai.
Kenapa di Trotoar Kekuatannya Justru Hilang?
Uji trotoar pertama berjalan pada Mei 2024 di Gisborne, bersama Macedon Ranges Shire Council. Panel kopi panjangnya sekitar 11 meter, berdampingan dengan panel biochar serpihan kayu dan panel beton biasa.
Shane Walden, direktur aset dewan itu, mengatakan uji coba berjalan baik. Warga tidak melihat atau mencium perbedaan.
RMIT lalu menjelaskan penyebabnya. Tungku skala dagang tidak mampu menjalankan proses energi rendah pada 350 derajat. Beton kopi di Gisborne akhirnya berkekuatan mirip beton standar.
Makalah lapangan tim pada 2025 memperjelas angkanya. Biochar dibuat pada 450 derajat. Kuat tekan turun 6 persen pada umur 7 hari dan 9,3 persen pada 28 hari. Kuat lentur, ketahanan terhadap gaya lengkung, justru naik 18,9 persen. Sampel yang dibor dari pelat pada umur 54 hari relatif lebih baik.
Roychand, dalam wawancara Create Digital pada 13 Maret 2025, memisahkan dua uji. Di Gisborne, biochar 450 derajat masih basah saat masuk adukan. Air bawaan itu menggeser perbandingan air dan semen, sehingga campuran lebih sulit dikerjakan dan lebih lama mengeras.
Di Pakenham, suhu naik ke 400 derajat. Masih di bawah angka optimum, tetapi biochar dikeringkan dulu. Menurut Roychand, penguji yang ditunjuk BildGroup mencatat kenaikan kuat tekan 52 persen pada 7 hari dan 21 persen pada 28 hari.
Angka itu belum muncul di rilis MRPV atau RMIT. Belum ada laporan independen yang mengonfirmasinya. Beberapa media pada September 2026 menempelkan penurunan kekuatan Gisborne ke trotoar McGregor Road. Pengaitan itu tidak didukung rilis resmi.
140.000 Cangkir Ampas, Berapa Pasir yang Terhemat?
Yang terukur di Pakenham tetap nyata. Lima ton ampas tidak masuk tempat pembuangan. Dua ton biochar duduk di 30 meter kubik trotoar. Lebih dari 3 ton pasir sungai tidak terpakai.
Stephen Hill, direktur utama BildGroup, mengatakan tuangan itu mengalihkan sekitar 140.000 cangkir dari tempat pembuangan dan menghemat lebih dari 3 ton pasir. Brendan Pauwels, direktur program MRPV, menyebut Pakenham sebagai proyek Big Build pertama yang memakai beton kopi.
Pengurangan jejak karbon 15 sampai 26 persen datang dari hitungan daur hidup pada November 2025, bukan dari audit trotoar itu. Pakenham Roads Upgrade juga memakai tanah urugan bekas, aspal busa, dan pembatas dari ban. Beton kopi hanya satu bagian.
Biochar jauh lebih ringan daripada pasir, sekitar 350 kilogram per meter kubik dibanding 2.700 kilogram. Itu memudahkan angkut, tetapi dosisnya wajib dihitung dari volume, bukan dari timbangan saja.
Bagi kota kopi seperti Jakarta atau Bandung, pelajaran Victoria cukup keras. Ampas warung tidak bisa langsung masuk molen. Harus dibakar tanpa udara, dekat 350 derajat, lalu dikeringkan sebelum ditimbang. Mutu trotoar tetap harus lolos uji tekan lokal, bukan meminjam 29,3 persen dari Melbourne.
Di lab, ampas kopi mengalahkan pasir. Di trotoar, ia baru berhasil menggantikan pasir. Kalau tungku kota tidak bisa menahan 350 derajat, layakkah kita tetap menyebutnya beton yang lebih kuat?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.