21 September 2026

Kenapa Beton Romawi 2000 Tahun Lebih Awet dari Beton Kita?

Beton modern retak dalam puluhan tahun, sementara Pantheon masih berdiri. Apa rahasia Romawi yang baru saja masuk pasar?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
23 Agustus 2026, 12:32 WIB 3 menit baca 150 pembaca
Kenapa Beton Romawi 2000 Tahun Lebih Awet dari Beton Kita?
Aditif beton self-healing ala teknik Romawi kini dipakai di infrastruktur modern Eropa. (Ilustrasi AI Generate)

Beton modern biasanya mulai retak dan rusak dalam puluhan tahun. Karbonatasi, korosi tulangan, dan reaksi kimia di dalam material membuatnya rapuh. Sementara itu, Pantheon di Roma masih berdiri kokoh setelah lebih dari 2000 tahun.

Rahasianya ternyata bukan bahan ajaib, melainkan cara mencampur. Orang Romawi memakai teknik hot-mixing: kapur tohor dicampur kering dulu dengan abu vulkanik, baru ditambah air. Proses itu menghasilkan partikel kapur reaktif yang bisa “menyembuhkan” retakan sendiri.

Saat retak muncul, air masuk, kalsium di dalam partikel itu larut, lalu mengkristal kembali dan menutup celah. Inilah yang disebut self-healing kemampuan material memperbaiki dirinya tanpa campur tangan manusia.

Dari Lab MIT ke Pasar Eropa

Admir Masic, profesor di MIT, meneliti beton Romawi selama bertahun-tahun. Ia bahkan menganalisis sisa-sisa konstruksi di Pompeii yang terawetkan abu vulkanik. Pada 2023, studinya di jurnal Science Advances membuktikan mekanisme self-healing itu.

Setahun sebelumnya, Masic bersama Paolo Sabatini mendirikan DMAT. Perusahaan ini tidak membuat beton baru sama sekali. Mereka mengembangkan aditif atau filler yang bisa dicampur ke beton dan mortar biasa. Hasilnya mudah diadopsi industri tanpa mengubah pabrik besar-besaran.

Pada Oktober 2025, DMAT mengantongi pendanaan 4,5 juta USD. Uang itu dipakai untuk mempercepat penjualan dan ekspansi ke Amerika Serikat. Kini produknya sudah dipakai di tangki air bawah tanah, pembatas jalan, dan perkerasan di Italia serta Swiss.

Hasil Nyata di Lapangan

Menurut MIT News edisi 19 Agustus 2026, aditif DMAT memperpanjang umur struktur hingga 50 persen. Emisi karbon dioksida juga turun hingga 40 persen dibanding beton biasa.

Salah satu aplikasi menarik terjadi di Swiss. Dinding penahan sepanjang 40 meter di jalan tol N13 yang sudah rusak akibat reaksi alkali-agregat berhasil diperbaiki dengan mortar DMAT. Otoritas jalan federal Swiss memilih solusi ini agar tidak perlu membongkar total. Klaimnya: emisi CO₂ turun 60 persen, biaya material hemat hampir 59 persen, dan retakan kecil bisa menutup sendiri.

Paolo Sabatini, CEO DMAT, menjelaskan pendekatan mereka. “Kami melihat beton sebagai ekosistem. Agar diadopsi, solusi harus masuk ke sistem yang sudah ada soal harga, sertifikasi, dan cara kerja pekerja di lapangan.”

Masic menambahkan, “Kami menawarkan produk self-healing yang harganya kompetitif dan mudah dipakai di mana saja. Yang menarik, material ini bisa menjadi standar industri tanpa memaksa perusahaan mengubah cara kerja mereka.”

Apa Artinya untuk Indonesia?

Di iklim tropis dan zona gempa, beton kita biasanya lebih cepat retak. Kelembaban tinggi, hujan deras, dan getaran mempercepat kerusakan. Aditif yang bisa “menyembuhkan” retakan kecil berpotensi memperpanjang umur jembatan, jalan, tangki air, dan bangunan tanpa biaya perawatan yang membengkak.

Karena berbentuk filler, produk ini bisa dicampur di batching plant lokal. Tidak perlu investasi mesin baru. Tapi sampai sekarang belum ada data aplikasi di Indonesia. Validasi di kondisi tropis dan kesesuaian dengan SNI masih harus dilakukan.***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.