Kenapa Ekskavator Listrik Masih Antri Colokan di Lapangan?
Baterainya sudah besar. Yang bikin mesin diam justru antrean ngecas, Hitachi menguji dua unit sekaligus, berhasilkah?
Hitachi tidak menguji tenaga gali. Mereka menguji siapa yang boleh ngecas dulu.
Dua ekskavator baterai ZE85 kelas delapan ton dan ZE135 kelas tiga belas ton bekerja bersamaan di site Shin-Maebashi, Gunma, pada 19–21 Mei 2026. Mitra pelaksananya Konoike Construction. Sumber dayanya bukan trafo site, melainkan Go-ENE, baterai portabel hasil kerja sama Hitachi Construction Machinery dan Kyushu Electric Power.
Rilis Hitachi di Tokyo, 26 Mei 2026, yang menamai Masafumi Senzaki sebagai presiden perusahaan, menyatakan dua unit itu bisa jalan di lingkungan listrik terbatas. Syaratnya satu: jadwal cas diatur sebelum mesin mulai menggali.
Sistem manajemen energi perangkat lunak yang meramal sisa baterai dan mengatur giliran isi daya menyusun rencana kerja harian, memprediksi tren daya, lalu menyesuaikan waktu cas secara langsung. Tujuannya sederhana: tidak ada mesin yang diam karena menunggu colokan.
ZE85 mengerjakan galian timbunan dan urugan. ZE135 memuat material ke dump truck. Yang diukur bukan kedalaman gali. Yang diukur: apakah produksi berhenti karena antrean listrik.
Yang macet bukan motor listriknya
Hitachi sendiri mengakui hambatan adopsi alat berat listrik. Bukan karena bucket lemah. Melainkan karena tiap site punya pola kerja dan kondisi daya yang berbeda, sementara metode operasi belum fleksibel.
Uji Maebashi bukan eksperimen tiba-tiba. Ia menutup rangkaian uji 2025–2026. Pada Juni 2025, ZE85 dan ZE135 dipakai di proyek peninggian rel Tobu dekat Tokyo Skytree. Daya galinya disebut sebanding mesin diesel. Masalahnya muncul saat istirahat: kabel cas pendek, jadi mesin harus didekatkan ke charger. Kalau area itu sedang digali, antrean terbentuk sendiri.
Desember 2025, ZE85 dan Go-ENE masuk proyek Kementerian Lingkungan di Kyoto Gyoen, site yang sulit mendapat sumber cas tetap. Januari–Februari 2026, ZE135 diuji di galangan JMU Kure yang lapangannya luas. Maret 2026, mesin yang sama dibawa ke Kamikochi, ketinggian sekitar 1.500 meter, udara dingin, charger tetap hampir tidak mungkin dipasang. Pola itu berulang. Hitachi menggeser pertanyaan dari “berapa kilowatt-jam di dalam body” ke “siapa boleh ngecas kapan, dari buffer mana, tanpa mematikan produksi.”
Skema operasi: ZE85 dan ZE135 berbagi Go-ENE; yang diatur bukan torsi, melainkan giliran ngecas. (Ilustrasi AI Generate)
Baterai 198 kWh pun kalah oleh satu colokan
ZE85 versi Jepang membawa baterai 99 kWh, output 40 kW, berat operasi 8.910 kilogram. Rata-rata kerja sekitar 5,5 jam. Isi daya biasa 400 volt 63 amper memakan waktu sekitar 105 menit. Mode cepat CCS2 sekitar 45 menit.
ZE135 versi Jepang membawa 198 kWh, output 74 kW, berat 16.010 kilogram. Rata-rata kerja pada beban berat hanya sekitar 3,5 jam. Cas biasa sekitar 120 menit. Cas cepat sekitar 75 menit. Keduanya bisa jalan dari baterai atau sambil tersambung kabel.
Jangan mencampur angka itu dengan ZX135-7EB yang Hitachi Europe rilis Februari 2026. Mesin Eropa itu juga 198 kWh, tapi diklaim runtime indikatif 7–8 jam dan punya mode grid assist: tetap kerja sambil colok listrik tiga fase 400 volt. Electrek, lewat tulisan Jo Borrás pada 22 Februari 2026, menyebut “trik”-nya di situ. Kalau site punya jaringan, kru tidak menunggu baterai habis.
Dua jawaban berbeda untuk satu penyakit. Dual-mode memotong waktu tunggu jika listrik site ada. Sistem manajemen energi plus Go-ENE menjawab soal lain: satu colokan diperebutkan banyak unit.
Go-ENE tipe B, model standar, menyimpan 195 kWh di kotak seberat sekitar dua ton. Bukan powerbank saku. Untuk memindahkannya butuh forklift 2,5 ton, mobil crane empat ton, atau ekskavator kelas 12 ton. Keluarannya mencakup colokan 400 volt 63 amper plus dua saluran 32/16 amper. Hitachi menyatakan unit utama plus unit cas cepat bisa mengisi hingga tiga ekskavator listrik bersamaan.
Kalau ditiru di Indonesia, yang pecah duluan jadwal kerjanya
Perdebatan EV alat berat di sini sering berhenti di satu kalimat: daya PLN di site tidak cukup. Uji Maebashi menuding arah lain. Elektrifikasi bisa gagal karena manajemen energi di lapangan semrawut, bukan karena torsi motor kalah.
Syaratnya keras. Buffer dua ton harus bisa masuk site. Shift, istirahat, dan urutan loading harus bisa diatur. Tanpa itu, software prediksi baterai hanya jadi layar cantik di kabin.
ZE135 Jepang yang rata-rata 3,5 jam per siklus, di site tambang 24 jam, tetap akan antre jika tidak ada colokan grid atau baterai cadangan yang bergiliran. Sampai rilis Mei 2026, Hitachi belum mengumumkan paket sistem ini sebagai solusi siap jual di ASEAN.
Yang belum berbicara juga masih panjang: operator Konoike di Maebashi, Kyushu Electric sebagai rekan pengembang Go-ENE, dan Hitachi Construction Machinery Indonesia.
Besok di site Anda mungkin cuma ada satu colokan untuk tiga mesin. Yang bikin Anda ragu beli ekskavator listrik karena tenaganya, atau takut kru malah nunggu giliran cas?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.
