6 November 2026

Kenapa Excavator Listrik Ini Klaim Lebih Murah dari Diesel?

LiuGong 924FE janji lebih baik di semua sisi, termasuk biaya. Spek sudah siap shift, tapi cas 300 kW di Indonesia masih langka, siapkah kita?

S Sagara Pengelola Rubrik
26 Agustus 2026, 13:14 WIB 3 menit baca 127 pembaca
Kenapa Excavator Listrik Ini Klaim Lebih Murah dari Diesel?
LiuGong 924FE excavator listrik 25–28 ton di lokasi proyek terowongan. (Ilustrasi AI Generate)

Di tengah hiruk-pikuk proyek terowongan, IKN, dan pelabuhan, muncul mesin yang menolak label “hijau”. LiuGong membawa 924FE ke Amerika Utara Agustus lalu dan bilang tegas: ini bukan alternatif diesel. Ini mesin yang lebih baik di semua sisi termasuk biaya.

Pernyataan resmi perusahaan yang dikutip Equipment World bunyinya blak-blakan: “The 924FE isn't just an alternative to diesel, it's an upgrade in every sense.”

Mesin yang dirancang untuk terowongan, bukan panggung hijau

924FE punya berat operasi 25,3 sampai 28,1 ton. Motor magnet permanennya 115 kW di pasar Amerika, atau 165 kW di versi Eropa. Baterai LFP (lithium iron phosphate, jenis baterai yang lebih stabil dan tahan lama) tersedia 423 atau 528 kWh.

Gaya gali bucket mencapai 153–165 kN. Bucket standar 1 meter kubik. Runtime diklaim 8–10 jam continuous untuk versi baterai besar. Cas dari 15 persen ke penuh butuh kurang dari tiga jam. Versi 528 kWh bahkan sekitar 120 menit di charger 300 kW. Ada opsi battery swap (penggantian baterai utuh).

LiuGong memperkuat boom dan arm, melebarkan chassis, dan memasang sistem hidrolik full elektronik. Kabin dilengkapi layar sentuh 10 inci, kursi air-suspension berpemanas, dan kebisingan internal di bawah 69 desibel. Garansi baterai dan motor lima tahun atau 10.000 jam.

Semua ini dirancang khusus untuk terowongan berbatu, kadar oksigen rendah, dan batasan emisi ketat. Bukan sekadar pamer zero emission.

Klaim biaya yang bikin diesel harus waspada

Di pasar Amerika, LiuGong mengklaim biaya operasional heavy-duty electric mereka turun 40 sampai 50 persen dibanding diesel setara. Situs global bahkan menyebut konsumsi energi 60–70 persen lebih rendah.

Alasannya sederhana: tidak ada solar, lebih sedikit suku cadang bergerak, perawatan jauh lebih ringan. Data internal perusahaan dari ratusan jobsite model sejenis menunjukkan pengurangan biaya operasional hingga 70 persen dan perawatan hingga 50 persen dalam lima tahun.

Jurnalis Electrek Jo Borrás menambahkan satu hal yang jarang dihitung di brosur: operator lebih nyaman, lebih sedikit sakit karena asap dan bising, serta rekrutmen lebih mudah. Itu juga uang.

Paradoks di tanah air: spek sudah siap, cas belum

Indonesia punya proyek yang pas banget untuk mesin ini terowongan, kawasan urban Jakarta, IKN, pelabuhan. LiuGong sendiri sudah aktif di sini. Mereka meluncurkan seri F termasuk varian listrik, mengirimkan unit untuk proyek energi baru, dan Juli 2026 meletakkan batu pertama pabrik electric heavy equipment pertama di Karawang senilai USD 317 juta.

Pabrik itu ditargetkan beroperasi 2027 dengan kapasitas awal 5.000 unit per tahun. Luo Guobing, Wakil Ketua dan Presiden LiuGong Machinery, menyebutnya platform hijau dan cerdas yang juga mencakup riset serta kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada.

Tapi di tapak proyek, charger 300 kW masih sangat langka. Kapasitas jaringan listrik dan perizinan menjadi hambatan nyata. Spek 924FE sudah “shift-ready”. Infrastrukturnya belum.

Perbandingan langsung dengan PC200 atau ZX200 diesel yang mendominasi rental masih butuh data lokal soal harga listrik, jam perawatan, dan ketersediaan cas. Independent test publik khusus 924FE juga belum muncul sampai Agustus 2026.

Apakah Indonesia akan menunggu infrastruktur cas dulu, atau justru memaksa infrastruktur itu datang karena mesinnya sudah siap?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.