6 November 2026

Kenapa Raksasa Konstruksi Dunia Akui Cara Lama Sudah Tidak Cukup?

Bechtel menciptakan jabatan baru khusus AI dan robot. Apakah kontraktor Indonesia masih cukup dengan menambah aplikasi?

S Sagara Pengelola Rubrik
18 Agustus 2026, 11:21 WIB 2 menit baca 236 pembaca
Kenapa Raksasa Konstruksi Dunia Akui Cara Lama Sudah Tidak Cukup?
Bechtel membentuk jabatan baru SVP EPC Transformation untuk memimpin integrasi AI, otomasi, dan robotika dalam model kerja proyek. (Ilustrasi AI Generate)

Perusahaan konstruksi sebesar Bechtel baru-baru ini mengakui satu hal yang jarang diucapkan keras-keras: cara lama membangun megaproyek sudah tidak memadai lagi.

Mereka tidak hanya membeli perangkat lunak baru. Mereka menciptakan jabatan baru dan menempatkan teknologi sebagai pengubah model kerja, bukan pelengkap.

Veteran Lapangan, Bukan Sekadar Ahli Teknologi

Pada 9 Februari 2026, Bechtel mengumumkan pengangkatan John Platt sebagai Senior Vice President EPC Transformation.

Platt bergabung tahun 2000 sebagai insinyur listrik. Ia telah memimpin proyek-proyek besar, termasuk fasilitas pengolahan uranium milik pemerintah Amerika Serikat dan pabrik kimia raksasa.

Jabatan barunya memusatkan semua inisiatif kecerdasan buatan, otomasi, dan robotika. Tujuannya satu: mengubah cara perusahaan menjalankan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi.

Craig Albert, Presiden dan Direktur Operasi Bechtel, mengatakan pelanggan terus menuntut lebih cepat dan lebih banyak. Teknologi memberi peluang untuk meningkatkan produktivitas.

Bukan Tambah Aplikasi, Tapi Ubah Proses Inti

Banyak perusahaan konstruksi, termasuk di Indonesia, sudah memakai BIM (model informasi bangunan tiga dimensi yang menyatukan data desain dan konstruksi) atau sistem manajemen proyek.

Masalahnya, perangkat lunak itu sering hanya ditambahkan di atas cara kerja lama. Proses inti tetap sama.

Bechtel memilih jalan berbeda. Mereka menskalakan teknologi ke dalam model eksekusi. John Platt menjelaskan dalam wawancara pendekatan mereka: mulai dari masalah nyata di lapangan, uji coba di proyek hidup, lalu perluas yang berhasil.

Salah satu contohnya pekerjaan tanah. Mereka menguji excavator, dozer, dan mesin pemadat yang bisa berjalan sendiri. Satu operator mengawasi beberapa mesin sekaligus, bukan mengganti manusia.

Contoh lain, kecerdasan buatan yang mengotomatiskan laporan dan menghubungkan alat perencanaan yang sebelumnya terpisah-pisah. Hasilnya jadwal lebih cepat tersusun dan masalah terdeteksi lebih dini.

Media industri seperti Construction Dive memberitakan langkah ini sebagai overhaul metode delivery.

Pelajaran yang Sulit Diabaikan Kontraktor Indonesia

Bechtel sudah menyelesaikan lebih dari 25.000 proyek di 160 negara. Pendapatan mereka pada 2025 mencapai sekitar USD 19,5 miliar.

Mereka menilai kecerdasan buatan kini cukup matang untuk dipakai secara luas, bukan lagi percobaan.

Di Indonesia, kontraktor besar seperti Wijaya Karya, Hutama Karya, atau Waskita sudah mengadopsi BIM karena diwajibkan aturan. Namun implementasi sering berhenti di pemodelan atau pelaporan.

Sistem masih terpisah. Perubahan proses inti berjalan lambat. Padahal megaproyek seperti Ibu Kota Nusantara, fasilitas gas alam cair, dan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan cara kerja yang lebih gesit.

Jika hanya menambah perangkat lunak tanpa mengubah cara kerja, risiko tertinggal semakin nyata.

Apakah kontraktor Indonesia akan terus menambah aplikasi, atau mulai mengubah cara mereka membangun?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.