24 September 2026

Kenapa Robot Cat Ini Sudah Dibeli Berkali-kali?

Developer besar India sudah pesan robot finishing untuk kedua kalinya. Kalau tapaknya mirip kita, kenapa kita masih merayakan uji coba?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
23 September 2026, 14:10 WIB 4 menit baca 29 pembaca
Kenapa Robot Cat Ini Sudah Dibeli Berkali-kali?
Dua unit robot finishing interior di ruang tapak. Satu menghadap dinding, satu menunggu giliran kerja. (Ilustrasi AI Generate)

India tidak menunggu upah mahal dulu baru berani memakai robot di tapak.

Pada 21 September 2026, startup Bengaluru bernama Pace Robotics mengumumkan hal yang masih jarang terdengar di Asia Tenggara. Robot cat interior mereka sudah dibeli ulang. Bukan demo. Bukan uji coba. Pembelian kedua di proyek yang benar-benar berjalan.

Namanya Centa Painter. Robot beroda yang mengerjakan putty, pengamplasan, primer, dan pengecatan dinding serta plafon. Putty di sini artinya adukan perata dinding sebelum dicat.

Pelanggannya bukan laboratorium kampus. Sobha, salah satu developer besar India, awalnya membeli dua unit. Setelah dipakai di tapak, mereka pesan lagi.

Dari Demo ke Pembelian Ulang Robot Cat di India

Pace merilis angka yang mereka sebut sebagai tanda pasar sudah bergerak.

Dalam enam bulan sejak penjualan komersial dimulai Desember 2025, buku pesanan mereka mencapai ₹5 crore setara sekitar Rp9,3 miliar. Lebih dari 20 developer dan kontraktor datang melihat robot itu bekerja di proyek aktif. Sebagian sudah memesan. Sobha menjadi nama pertama yang mereka umumkan.

Perusahaan itu menulis di LinkedIn: ini bukan uji coba, bukan penjualan pertama. Pembelian ulang, kata mereka, adalah validasi paling kuat.

Srinivas Pai, co-founder sekaligus CEO Pace Robotics, berkata pada rilis 21 September 2026 bahwa perusahaan tidak lagi datang hanya untuk melihat apa yang bisa dilakukan robot. Mereka menimbang di mana alat itu masuk ke jadwal proyek, bagaimana ia menyatu dengan kru yang sudah ada, dan seperti apa model operasinya.

Percakapan sudah bergeser. Bukan lagi apakah robot bisa bekerja di tapak, melainkan bagaimana cara memakainya dalam jumlah banyak.

Robot Finishing yang Dirancang untuk Tapak Tidak Rata

Centa Painter bukan robot pabrik yang hanya jalan di lantai rata dan listrik stabil.

Ayushmoy Roy, co-founder dan CTO Pace, menjelaskan alasan desainnya. Tapak konstruksi berubah setiap hari. Robot harus mengenali permukaan kerja dan hambatan, lalu merencanakan sendiri jalurnya. Ia tidak bergantung pada pemindaian ruang yang sempurna atau denah yang sudah dimasukkan lebih dulu.

Modulnya bisa ditukar. Satu platform mengerjakan beberapa proses finishing. Tinggi kerja sekitar tiga meter. Mencampur bahan, mengisi pompa, dan menempatkan robot di titik awal tetap dikerjakan orang. Yang diambil alih robot adalah aplikasi bahan dan navigasi.

Poin yang paling dekat dengan kondisi Indonesia: operatornya tukang cat yang sudah ada, bukan insinyur robotik. Pace menampilkan itu sebagai syarat jual, bukan fitur sampingan.

Pai sudah mengulang argumen yang sama sejak wawancara Circuit Digest pada Maret 2026. Tenaga terampil di konstruksi India menipis. Real estat mereka diproyeksikan mendekati USD 1 triliun sekitar 2030. Orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan finishing tidak bertambah secepat bangunannya.

Jadi robot tidak menunggu upah setara Eropa. Ia harus menang di pasar yang tenaganya masih relatif murah.

Klaim 10 Kali Lebih Cepat vs Fakta yang Sudah Terbukti

Pace memasang angka yang enak dikutip: hingga 10 kali lebih cepat, tenaga turun sampai 80 persen, biaya turun hingga tiga kali di India, dan bisa lima kali di pasar upah lebih tinggi seperti Arab Saudi.

Angka itu klaim perusahaan. Belum ada uji pihak ketiga yang dirilis bersamaan.

Wawancara sebelumnya justru memberi rentang lebih hati-hati. Umpan balik uji coba sempat disebut lima sampai tujuh kali lebih cepat dari kerja manual. Pai juga memakai contoh operasional: pekerjaan 50.000 kaki persegi per bulan yang dulu butuh 12 orang menjadi dua orang. Produktivitas harian yang mereka sebut sekitar 2.000 kaki persegi untuk robot, versus sekitar 200 kaki persegi untuk tim manual.

Yang sudah terbukti secara komersial lebih sederhana, dan justru lebih kuat.

Ada developer merek besar yang membeli, memakai di proyek, lalu membeli lagi. Robot itu dioperasikan tukang yang sudah ada. Percakapan pelanggan bergeser dari coba lihat ke di slot mana alat ini masuk.

Empat tahun riset, empat putaran produk, uji di tapak yang berulang kali kacau di bulan pertama. Roy sendiri mengakui: setiap prototipe baru dibawa ke lapangan, bulan pertamanya chaos. Semua yang mereka kira akan salah, memang salah.

Dari situ mereka sampai ke penjualan akhir 2025 dan pembelian ulang 2026. Itu jalur yang lebih jujur daripada video pameran.

Pelajaran Otomasi Tapak untuk Industri Konstruksi Indonesia

Tapak India lebih mirip kita daripada pabrik finishing di Tiongkok. Debu, lantai tidak rata, listrik naik-turun, kru yang tidak bisa diganti semalaman.

Kalau robot finishing sudah laku sebagai bisnis di pasar upah menengah, masih uji coba mulai terdengar seperti jeda yang terlalu lama.

Pace lahir dari inkubasi kampus dan modal industri cat. Pidilite masuk sejak 2021. Mereka tidak menunggu negara membiayai semua eksperimen. Mereka menjual ke developer yang peduli mutu, lalu memakai pembelian kedua sebagai bukti.

Kalau India sudah berani membeli robot finishing untuk kedua kalinya di tapak yang berdebu dan upahnya tidak mahal, kapan kita mulai menghitung robot sebagai alat kerja harian bukan sebagai atraksi peresmian proyek?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.