21 September 2026

Kenapa Rumah Modular BRIN Masih Utuh Saat Gempa M7,7?

Tiga rumah kecil di Manggarai Barat berdiri kokoh. Di sebelahnya, bangunan SD ambruk, apa rahasia di balik ketahanan itu?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
22 Agustus 2026, 14:15 WIB 3 menit baca 212 pembaca
Kenapa Rumah Modular BRIN Masih Utuh Saat Gempa M7,7?
Salah satu prototipe rumah modular interlock BRIN di Dusun Rangko, Manggarai Barat, yang tetap berdiri dan masih dihuni setelah gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026. (ANTARA/ BRIN)

Di Dusun Rangko, Manggarai Barat, tiga rumah sederhana berdiri tenang. Sementara bangunan SD di lokasi yang sama mengalami kerusakan struktural. Gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 dan ratusan susulannya menjadi ujian lapangan yang tak terduga.

Rumah-rumah itu bukan bangunan biasa. Mereka adalah prototipe modular interlock yang dikembangkan BRIN.

Dari riset panjang hingga ujian nyata di lapangan

Pengembangan dimulai sejak 2019 oleh BPPT, lalu dilanjutkan BRIN. Tim membangun dua unit di Tangerang, satu unit dua lantai di Lebak, dan tiga unit di NTT pada akhir 2021–2022. Rumah-rumah di Rangko difungsikan sebagai rumah dinas guru SD Negeri Rangko.

Setiap unit berukuran 36 meter persegi. Di dalamnya ada dua kamar tidur, ruang keluarga, kamar mandi, dan dapur. Sistemnya modular interlock komponen saling mengunci seperti puzzle dengan prinsip strong column and weak beam. Artinya, kolom dibuat lebih kuat daripada balok supaya kerusakan terkontrol dan struktur utama tetap stabil.

Materialnya ringan: panel sandwich EPS, stainless steel 316, rangka atap baja ringan, pondasi batu kali, dan kusen aluminium. Tingkat komponen dalam negeri melebihi 80 persen. Proses perakitan relatif cepat, rumah bisa siap huni dalam sekitar 30 hari.

Rahasia yang meredam guncangan

Pada generasi kedua, BRIN menambahkan rubber-bearing seismic. Ini adalah bantalan karet atau polimer elastis hasil riset Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN. Teknologi tersebut memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Saat gaya geser datang, bantalan itu menahan dan mengurangi getaran yang sampai ke dinding serta kolom.

Hasil pemantauan 16–18 Agustus 2026 jelas. Tidak ada retak struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi. Kerusakan hanya kosmetik: sebagian keramik kamar mandi lepas dan pecah.

Vian Marantha Haryanto, Perekayasa Ahli Muda BRIN, menegaskan dalam keterangan di Jakarta, 18 Agustus 2026: “Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini.”

Ia juga menjelaskan cara kerja rubber-bearing seismic: komponen itu meredam gaya geser sehingga dampak guncangan pada struktur berkurang. “Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut,” katanya. Keterangan itu dilansir Antara.

Saatnya memikirkan ulang cara membangun kembali

BRIN mendorong model ini direplikasi lebih luas untuk wilayah rawan gempa. Bukan hanya di NTT, tapi juga di kawasan lain yang berada di Ring of Fire. Teknologi ini bisa mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sekaligus meningkatkan ketahanan jangka panjang.

Validasi laboratorium masih akan dilakukan melalui uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di Pusat Riset Kekuatan Struktur. Hasil lapangan yang sudah ada tetap menjadi bukti empiris yang kuat.

Di tengah ribuan rumah yang rusak di berbagai kabupaten NTT, tiga unit kecil ini berdiri sebagai pengingat. Inovasi lokal bisa lebih tangguh daripada bangunan konvensional di lokasi yang sama.

Apakah kita siap menjadikan teknologi seperti ini sebagai standar baru saat membangun kembali rumah-rumah yang hancur?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.