Kenapa Rumah Sehat Diuji di Kampung Jakarta?
Toolkit rumah sehat GBCI–RUJAK diuji 19 September di Akuarium dan Muara Angke, bukan sertifikat mahal. IRT bisa pakai daftar ceknya?
Rumah sehat tahun ini tidak berdiri di cluster berpagar. Ia diuji di lorong kampung nelayan dan blok susun yang pernah rata digusur.
Pada 19 September 2026, Green Building Council Indonesia (GBCI) dan RUJAK Center for Urban Studies menurunkan toolkit Rumah Sehat, Rumah Hemat ke Kampung Susun Akuarium dan Kampung Muara Angke, Jakarta Utara.
Bukan ke unit contoh. Bukan ke rumah yang catnya masih baru.
Menurut HousingEstate, pendekatan itu berpijak pada hunian yang benar-benar diami orang. Ventilasi, cahaya, jalur gerak, limbah, material, dan air dinilai bersama penghuni.
Alatnya daftar periksa. Bukan plakat sertifikat.
Bedanya Toolkit Rumah Sehat dan Sertifikat Hijau
GBCI sudah punya jalur resmi GREENSHIP Homes. Versi 2.0 sedang diuji di perumahan formal. Ada yang tembus peringkat Platinum.
Toolkit kampung bukan pengganti itu.
GREENSHIP meminta dokumen, angka kredit, dan biaya proses. Toolkit ini meminta ibu rumah tangga melihat jendelanya sendiri: apakah angin silang masuk, apakah cahaya pagi sampai ke kamar, apakah got dapur mampet.
Perbaikan boleh bertahap. Tidak perlu panel surya di atap yang belum kuat menahan genteng.
Mei 2026, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar sudah menagih arah yang sama. Bangunan hijau, katanya, jangan hanya dibaca sebagai sertifikasi gedung besar. Manfaatnya harus terasa di penghematan energi, sampah, dan rumah yang lebih sehat.
September lalu GBCI menetapkan bulan itu sebagai bulan bangunan hijau. Jelajah Kampung di dua tapak Jakarta Utara menjadi ujian paling telanjang dari janji itu.
Uji Toolkit di Kampung Akuarium dan Muara Angke
Akuarium bukan tapak acak.
Warga tinggal di Pasar Ikan sejak 1970-an. Pada 11 April 2016, 241 bangunan rata. Sebagian menolak pindah karena laut dan kerja nelayan ada di situ. Mereka merancang ulang rumah bersama RUJAK, lalu menempati empat blok susun yang dikelola koperasi.
Uji toolkit di sini mengetes kampung vertikal hasil rancangan warga. Bukan rusun yang didesain dari meja gambar jauh.
Muara Angke beda lagi. Kampung nelayan di rawa reklamasi sejak 1960-an. Rob datang. Panas menekan. Air bersih terbatas. Ruang hijau hampir tidak ada.
Di situ penilaian dilakukan bersama pemilik rumah. Di Akuarium, peserta menyusuri kampung dulu sebelum masuk unit.
Mahasiswa kerja kelompok. Temuan dibahas. Rekomendasi disusun. Perangkat itu masih dihaluskan, belum diklaim sebagai standar pemerintah.
Itu batas yang perlu dipegang. Belum ada angka hemat listrik. Belum ada peringkat hijau untuk rumah yang disusur. File daftar cek lengkap juga belum beredar luas.
Yang sudah jelas: laboratoriumnya kampung, bukan ruang pamer.
Rumah Tinggal Jadi Kunci Net Zero 2060
Lima hari sebelum susur kampung, GBCI Yogyakarta menggelar Indonesia Green Building Festival di Universitas Atma Jaya.
Ketua GBCI Yogyakarta Ar. Daud Tjondrorahardja menolak menyamakan rumah berkelanjutan dengan rumah yang penuh perangkat pintar.
“Rumah yang dipenuhi perangkat smart home belum tentu menjadi rumah yang berkelanjutan apabila seluruh sistem tersebut hanya bekerja sendiri-sendiri,” ujarnya, 14 September 2026, seperti dikutip ANTARA.
Di Tribun Jogja ia menambah satu kalimat: rumah tidak harus melawan alam.
Net Zero 2060, dalam bacaan itu, dimulai dari mengurangi kebutuhan energi. Baru kemudian mengisi sisa kebutuhan dengan energi yang lebih bersih.
Di Yogyakarta contohnya rumah di Dusun Pajangan 11. Di Jakarta Utara contohnya jendela yang tidak ditutup lemari dan got yang tidak menyumbat saluran.
Satu pesan, dua skala.
Direktur RUJAK Elisa Sutanudjaja sudah lama menempatkan hunian layak sebagai hak, bukan barang dagangan. Desain pasif ventilasi, atap yang bernapas, dinding yang tidak menahan panas, ia dorong agar warga tidak bergantung pada pendingin ruangan.
Toolkit GBCI–RUJAK menarik garis itu ke kertas yang bisa dipegang di dapur.
Daftar Cek Rumah Sehat yang Bisa Dipakai IRT
Jangan samakan ini dengan daftar spesifikasi material premium.
Pertanyaannya sederhana. Apakah dua sisi rumah terbuka supaya angin jalan? Apakah pagi hari kamar tidak tetap gelap? Apakah orang tua masih tersandung di jalur ke kamar mandi? Ke mana air cucian pergi? Apakah atap dan dinding basah merusak kesehatan? Apakah air bersih cukup untuk masak dan mandi?
Itu pekerjaan rumah yang tidak membutuhkan show unit.
Kalau daftar cek ini bisa dipakai di dapur kampung, kapan rumah sehat berhenti jadi proyek percontohan dan mulai jadi cara kita membangun rumah di kota?***
Artikel Terkait
Diskusi Praktisi (0)
Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.