21 September 2026

Ketika Mesin Hidrogen China Sudah Gali Tambang

Bukan merek global yang lebih dulu menempatkan excavator hidrogen di lapangan. Produsen regional Shanxi justru sudah mengirim unit operasional ke tambang.

HS Heru ST Pengelola Rubrik
13 Agustus 2026, 04:59 WIB 3 menit baca 148 pembaca
Ketika Mesin Hidrogen China Sudah Gali Tambang
Excavator TZCO dengan konfigurasi hidrogen di area pabrik. (Ilustrasi AI Generate)

Di showroom Shanxi TZCO Construction Machinery, sebuah excavator berdiri dengan tangki hidrogen berwarna abu-abu perak yang mencolok. Bukan konsep. Bukan prototipe. Unit ini sudah dikirim ke tambang dan beroperasi.

Sementara banyak produsen global masih memamerkan mesin hidrogen di pameran atau uji coba terbatas, perusahaan milik negara China ini mengklaim telah menempatkan excavator dan loader hidrogen di lapangan tambang sejak Maret 2026. Salah satu yang pertama di industri mining China.

Limbah Coking Jadi Bahan Bakar Mesin Berat

Shanxi merupakan produsen coking coal terbesar di China. Proses coking menghasilkan gas sampingan yang mengandung hingga 60 persen hidrogen. Di sisi lain, industri baja dan tambang di provinsi itu membutuhkan energi besar untuk armada mesin berat.

Perusahaan memanfaatkan surplus hidrogen lokal itu. Mereka membangun sistem daya baru, bukan sekadar mengganti mesin diesel. Fuel cell menghasilkan daya stabil, tapi excavator butuh lonjakan tenaga mendadak saat menggali. Solusinya: sistem penyangga yang menggabungkan baterai dan supercapacitor. Energi berlebih disimpan, lalu dilepas seketika saat dibutuhkan.

Liang Junfang, kepala pusat verifikasi dan peningkatan produk perusahaan, menjelaskan tantangan itu. “Banyak yang menganggap peralihan dari bahan bakar ke hidrogen hanya soal mengganti mesin. Tantangan sebenarnya terletak pada membangun ulang seluruh sistem daya dan menyesuaikannya dengan peralatan,” katanya dalam wawancara yang dilansir People’s Daily awal Agustus 2026.

Klaim Performa di Lapangan

Menurut data perusahaan, pengisian hidrogen hanya butuh lima menit. Mesin lalu bisa bekerja lima hingga delapan jam tanpa emisi, hanya mengeluarkan uap air. Model TZ240 yang beroperasi 15 jam sehari diklaim menghemat lebih dari 500 yuan atau sekitar USD 74 biaya harian dibanding versi diesel.

Bobot mesin juga dikurangi 8–10 persen dengan baja berkekuatan tinggi. Desain modular membuat pembongkaran lebih cepat 50 persen dan suku cadang lebih mudah diganti. Sistem cerdas mendukung perawatan prediktif yang memperpanjang umur mesin lebih dari 10 persen.

Pada Juni 2026, akun resmi perusahaan melaporkan loader hidrogen 5 ton sudah masuk operasi aktif di quarry. Klaimnya: efisiensi lebih tinggi 10 persen, penghematan tahunan sekitar USD 25.000, dan operator yang semula skeptis akhirnya percaya.

Unit-unit serupa, termasuk TZ350EH dan TZ958EH, juga dikirim ke tambang Jinshan di Hubei. Di sana mereka bekerja bersama truk tambang hidrogen, menutup rantai produksi-penyimpanan-pengisian-penggunaan.

Apa Artinya bagi Pasar Indonesia

Indonesia sedang mendorong dekarbonisasi di sektor konstruksi dan tambang. Diskusi lokal masih banyak berputar di solar, hybrid, dan baterai. Kehadiran unit hidrogen yang sudah beroperasi di lapangan, meski masih dari klaim produsen dan media resmi China, membuka pertanyaan baru.

Infrastruktur pengisian, rantai pasok hidrogen hijau, dan total biaya kepemilikan masih menjadi hambatan besar di luar China. Namun, jika teknologi ini terbukti andal, distributor dan kontraktor lokal mungkin perlu memasukkan opsi hidrogen ke dalam perhitungan jangka menengah.

Apakah pasar Indonesia akan menunggu merek global lebih dulu, atau mulai memperhatikan langkah pemain regional yang sudah “go live”?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.