6 November 2026

Mixer Beton Listrik Scania Buktikan Aplikasi Tersulit Bisa Dielektrifikasi

Salah satu duty-cycle paling berat di konstruksi sudah berjalan tanpa solar. Bukan pilot, tapi operasi harian.

S Sagara Pengelola Rubrik
9 Agustus 2026, 12:45 WIB 2 menit baca 159 pembaca
Mixer Beton Listrik Scania Buktikan Aplikasi Tersulit Bisa Dielektrifikasi
Unit mixer beton listrik penuh Scania-Liebherr yang sudah beroperasi harian di Denmark bersama Unicon. (Ilustrasi AI Generate)

Transportasi beton siap pakai selama ini dianggap hampir mustahil dielektrifikasi. Payload berat, rute acak termasuk jalan proyek yang rusak, plus drum yang harus terus berputar agar adukan tidak mengeras. Hampir semua armada masih mengandalkan mesin diesel untuk dua tugas sekaligus: menggerakkan roda dan memutar drum.

Kini fakta di lapangan membantah anggapan itu. Sejak Mei 2026, unit mixer beton baterai-listrik penuh sudah beroperasi dalam kegiatan harian Unicon di Denmark. Bukan uji coba terbatas, melainkan solusi yang sudah siap skala.

Tiga Tahun Kerja Sistem, Bukan Sekadar Pasang Baterai

Scania, Unicon, dan Liebherr-Mischtechnik menghabiskan tiga tahun mengembangkan pendekatan berbeda. Mereka tidak hanya menempelkan mixer listrik di atas chassis baterai. Seluruh sistem chassis, aplikasi, dan manajemen energi dirancang sebagai satu kesatuan.

Hasilnya, truck Scania baterai-listrik dilengkapi mixer terintegrasi dari Liebherr. Inti teknologinya adalah electric power take-off atau ePTO, sistem yang mengambil daya langsung dari baterai traksi untuk memutar drum. Tidak ada lagi mesin diesel auxiliary terpisah.

Kapasitas baterai mencapai 400 kWh dengan jangkauan operasional sekitar 200 kilometer pada rute distribusi tipikal. Konfigurasi itu dioptimalkan lewat simulasi rute nyata Unicon, bukan spesifikasi generik.

“Ini Bukan Pilot”

Pada 6 Mei 2026 Scania secara resmi mengumumkan dari Södertälje bahwa unit tersebut sudah masuk operasi harian. Unicon langsung memesan sepuluh unit tambahan.

Tobias Ejderhamn, Global Manager Transformation & New Business Scania, menyatakan dalam rilis resmi bahwa proyek ini membuktikan elektrifikasi tidak terbatas pada aplikasi standar. “It can be applied where it matters most,” ujarnya. Menurutnya, industri harus bergerak dari tahap pilot menuju solusi yang bisa di-scale.

Sementara Christian Elleby, Supply Chain & Procurement Director Unicon, menegaskan, “This is not a pilot, it is a solution designed for daily operations and future scale.” Target perusahaan jelas: armada zero-emission yang jauh lebih besar pada 2027 dan 100 persen bebas emisi pada 2035.

Peluang dan Hambatan di Indonesia

Industri ready-mix di Indonesia masih sangat bergantung pada diesel. Emisi armada mixer truck menjadi isu nyata di kota-kota besar. Range 200 kilometer sebenarnya cukup realistis untuk banyak rute distribusi lokal, asalkan pola pengisian baterai dikelola dengan baik.

Tantangan utamanya tetap ada di tiga sisi: infrastruktur charging di depot dan lokasi proyek, perhitungan total cost of ownership antara baterai plus listrik versus solar diesel, serta kesiapan jaringan servis dan operator. Namun data dari Denmark menunjukkan bahwa hambatan teknis paling berat sudah bisa diatasi. Apakah industri konstruksi Indonesia akan menunggu lebih lama lagi, atau mulai menghitung serius skema elektrifikasi untuk armada mixer truck-nya?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.