6 November 2026

Nikel Melimpah di Rumah, Pabrik Yadea Kok di Tetangga?

Enam bulan pabrik USD 100 juta Yadea sudah jalan di Vietnam. Karawang masih janji, Molinas baru pasang pagar, siapa yang ketinggalan?

S Sagara Pengelola Rubrik
3 September 2026, 12:03 WIB 5 menit baca 282 pembaca
Nikel Melimpah di Rumah, Pabrik Yadea Kok di Tetangga?
Pabrik pintar Yadea di Kawasan Industri Tân Hưng, Bắc Ninh, yang diresmikan 1 Maret 2026. (Yadea)

Yadea meresmikan pabrik pintar motor listrik di Bắc Ninh pada 1 Maret 2026. Investasi tahap pertama lebih dari USD 100 juta. Enam bulan kemudian, Indonesia baru merumuskan pagar Motor Listrik Nasional.

Itu bukan drama “pilih Vietnam, buang Indonesia.” Itu soal siapa yang lebih dulu menuntaskan pabrik, dan siapa yang masih menahan janji di papan proyek.

Vietnam sudah punya tapak yang hidup. Indonesia punya nikel, program nasional, dan rencana pabrik yang lebih mahal. Dua jejak itu berjalan bersamaan. Bedanya: satu sudah beroperasi, satu masih menuju 2026.

Tetangga sudah potong pita, kita masih menghitung syarat

Pelakunya Công ty TNHH Khoa học Kỹ thuật Yadea Việt Nam, anak Grup Yadea. Lokasinya Kawasan Industri Tân Hưng, Lạng Giang, Bắc Ninh. Lahan 232.200 meter persegi.

Kapasitas desain tahap pertama 1 juta unit per tahun. Bisa naik ke lebih dari 2 juta unit ketika tahap berikutnya selesai. Tenaga kerja tahap awal 800 sampai 1.000 orang, lalu sekitar 3.000 orang.

Pabrik itu memakai sistem manajemen digital SAP dan MES, plus kendali mutu dan robot las. Bahasa sederhananya: mesin dan perangkat lunak mengatur laju produksi agar tiap unit keluar dengan standar yang sama di jaringan Yadea.

Pada hari peresmian, Yadea mengeluarkan unit pertama model Osta untuk pasar Vietnam. Jarak tempuh diklaim hingga 180 kilometer per pengisian. Mereka juga menandatangani kerja sama dengan Grab Vietnam untuk armada ojek daring, layanan purnajual, dan stasiun tukar baterai.

Liu Jia, Direktur Jenderal Yadea Vietnam, mengatakan ke VnEconomy bahwa kapasitas 1 juta unit tidak mereka habiskan tahun ini. Target 2026 hanya sekitar 300.000 unit ke pasar, termasuk sedikit ekspor. Tahap kedua masih menunggu izin.

Vietnam jadi hub, bukan karena Indonesia kosong

Yadea masuk Vietnam sejak 2019. Pabrik lama berkapasitas sekitar 300.000 unit per tahun. Agustus 2025 mereka merayakan unit ke-400.000. Sekitar 10 persen output lama mengalir ke Indonesia, Thailand, Laos, Brasil, dan Meksiko.

Pangsa merek di segmen motor listrik Vietnam diklaim naik dari sekitar 10 persen menjadi 20 persen dalam dua tahun. Dalam wawancara VNA yang dimuat 9 Maret 2026, Liu Jia menyebut pabrik baru sebagai komponen kunci strategi global.

Tahap awal untuk pasar Vietnam. Kemudian ekspor ke negara tetangga. Ia menolak mengejar laba cepat. Ia mengejar skala, rantai pasok, dan posisi di ASEAN.

Lokalisi di Vietnam, menurut pernyataannya, sudah sekitar 70 persen: kerangka, cat, ban, motor, baterai graphene. Target 90 persen dalam tiga sampai lima tahun, termasuk rencana pabrik baterai di Bắc Ninh.

Mai Sơn, Wakil Ketua Tetap Komite Rakyat Provinsi Bắc Ninh, menyambut pabrik itu sebagai bukti kepercayaan investor. Ia berharap klaster baterai, motor, dan komponen elektronik tumbuh di sekitar tapak.

Indonesia tidak kosong. PT Yadea Teknologi Indonesia mengumumkan pabrik di Suryacipta, Karawang, investasi USD 150 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun. Lahan sekitar 27 sampai 37 hektare. Klaim kapasitas 2 sampai 3 juta unit per tahun.

Saat ini mereka masih merakit di pabrik mitra Cikarang. TKDN, atau tingkat komponen dalam negeri, dinyatakan sudah di atas 40 persen. Target 80 persen dalam tiga tahun. Wang Jiazhong, Presiden Yadea Technology Group, menyinggung investasi itu di IIMS 2025.

GT80 masuk pasar Indonesia 24–25 Juli 2026 dengan harga Rp 29,8 juta OTR Jawa. Varian dua baterai menambah Rp 6 juta. Klaim jarak hingga 190 kilometer. Andy Luo, VP dan GM Penjualan Yadea Indonesia, menempatkannya sebagai motor touring listrik, bukan hanya kendaraan kota.

Jadi paradoksnya bukan “tidak ada pabrik di Indonesia.” Paradoksnya: tapak Vietnam sudah memotong pita, tapak Karawang masih janji operasi tahun ini.

Nikel kita, desain mereka, armada site menunggu siapa

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekosistem Molinas pada 13 Agustus 2026 di pabrik ALVA, Cikarang. Menko Perekonomian Rosan Roeslani menyebutnya sinergi pemerintah, BUMN, dan perusahaan nasional. Cadangan nikel Indonesia sekitar 46 persen dari dunia.

Empat syarat Molinas disampaikan Atong Soekirman, Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, pada 20 Agustus 2026. TKDN di atas 60 persen pada powertrain, rangka, plastik, dan bodi. Desain dan rekayasa harus lahir di dalam negeri. Baterai harus berbasis nikel. Harga harus terjangkau.

Powertrain, dalam bahasa lapangan, adalah jantung penggerak: motor listrik, pengontrol, dan sistem yang membuat roda berputar. Tanpa itu dalam negeri, label “nasional” tidak menempel.

Permintaan motor listrik 2028 diperkirakan 1,5 juta unit. Basis Desember 2025: 145,25 juta motor bensin berbanding 229.554 motor listrik. Kemenperin mencatat 69 industri kendaraan listrik roda dua dan tiga, kapasitas terpasang sekitar 2,51 juta unit per tahun.

Pagar itu mengeraskan jarak. Yadea Vietnam bicara baterai graphene. GT80 di etalase ritel memakai baterai LFP, jenis fosfat yang umum untuk biaya dan daya tahan, bukan nikel. Desainnya bukan rekayasa dalam negeri. Secara definisi, unit itu belum otomatis masuk Molinas.

Raditya Wibowo, CEO Maka Motors, mengatakan ke CNBC Indonesia pada 1 September 2026 bahwa Molinas menjadi tonggak jangka panjang. Industri tetap membutuhkan kepastian peran lokal. Pasokan baterai nikel dalam negeri masih menjadi hambatan untuk TKDN 60 persen.

Bagi kontraktor dan pengembang yang mulai memikirkan armada site surveyor, pengawas, logistik ringan pilihan dekat tetap impor atau rakitan CKD merek asing. CKD berarti komponen datang hampir jadi, lalu dirakit di sini. Ekosistem komponen yang tumbuh di tapak sendiri menunggu 10 calon Molinas dan IKM pemasok naik dari puluhan ribu ke ratusan ribu unit.

Tidak ada bukti terbuka bahwa Yadea menolak membangun di Indonesia. Tidak ada bukti pabrik Karawang batal. Tidak ada bukti setiap GT80 di jalanan kita keluar dari jalur Bắc Ninh. Yang ada: dua investasi paralel, satu sudah menjadi hub, satu masih mengejar jadwal.

Kalau nikel ada di rumah sendiri, siapa yang harus lebih dulu menuntaskan pabrik? pemain asing yang sudah memotong pita di tetangga, atau merek nasional yang baru lolos kurasi?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.