29 September 2026

Pabrik Robot Humanoid China, Apa Dampaknya ke Proyek?

Pabrik di Liuzhou mengklaim satu humanoid setiap 10 menit. Kita beli mesin jadi, atau cuma jadi pasar suku cadang?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
28 September 2026, 14:10 WIB 4 menit baca 27 pembaca
Pabrik Robot Humanoid China, Apa Dampaknya ke Proyek?
Cruzr beroda mengangkut material di lantai pabrik Liuzhou. (UBTECH / TechEBlog.)

Pabrik Liuzhou bukan tontonan robot, ini soal tempo produksi

Di Kawasan Ekologi Utara Liuzhou, Guangxi, UBTECH Robotics meresmikan pabrik humanoid industri pada 12 September 2026. Klaimnya terdengar seperti iklan fiksi: satu mesin setiap 10 menit, kapasitas rencana lebih dari 10.000 unit setahun.

Itu yang membuat berita ini menempel. Bukan karena robot menari di panggung, melainkan karena rantai pasok alat kerja tiba-tiba bisa dicetak massal.

Lantai produksi yang dikutip media seluas 14.000 meter persegi, tinggi 13,8 meter. Kompleks lebih luas lagi: lahan sekitar 4,9 hektare, total bangunan 42.000 meter persegi. Satu gedung khusus humanoid industri. Dua lainnya untuk seri Wukong, produk pintar, dan gudang.

Yang keluar dari jalur itu dua keluarga mesin. Walker S berkaki dua untuk kerja pabrik. Cruzr beroda untuk angkut dan layanan. Keduanya duduk di line campuran yang fleksibel, bukan ban berjalan kaku seperti pabrik mobil lawas.

Apa arti slogan robot merakit robot di pabrik itu

Cruzr Y1 dan Cruzr S2 mengangkat palet, menyusun peti, mengisi stasiun suku cadang, dan memindahkan material. Forklift tanpa sopir, kendaraan logistik otonom, lengan kolaboratif, dan meja putar 360 derajat menolong rakit akhir.

Humanoid tidak merakit tubuh humanoid sendirian dari baut pertama sampai jalan sendiri. Analis yang lebih dingin menyebut slogan itu berlebihan jika dibaca sebagai pabrik gelap tanpa manusia.

Mitra digitalnya Siemens. Sistem MOM, software yang mengatur jadwal kerja, material, dan mutu di seluruh pabrik, digabung dengan kembaran digital, semacam replika pabrik di komputer sebelum besi benar-benar bergerak. Wakil presiden Siemens untuk peralatan mekanik, Liu Ruofeng, hadir saat plakat dibuka.

Gudang otomatis tiga dimensi hanya 65 meter persegi, menampung 112 robot jadi. Setiap unit melewati uji lebih dari empat jam, lalu terowongan lampu kelas otomotif. Perakitan satu tubuh menuntut lebih dari 2.000 pengencangan dan sekitar 50 jenis sekrup. Torsi tercatat digital.

Itu pabrik, bukan demonstrasi.

Dari robot pertama sampai target 10.000 unit per tahun

UBTECH berkantor di Shenzhen, emiten Hong Kong. Pendirinya Zhou Jian. Perusahaan masuk Liuzhou tahun 2022. Juni 2025, humanoid industri pertama Guangxi turun jalur. November 2025, Walker S2 mulai dikirim massal. 26 Desember 2025, unit ke-1.000.

Filing 2025 menyebut 1.079 humanoid ukuran penuh. Separuh tahun 2026, 921 unit terjual. Pendapatan kategori itu RMB 590,3 juta, naik 1.445 persen.

Walker S2 tingginya 1,76 meter, mengangkat 15 kilogram dari lantai sampai ketinggian 1,8 meter, memutar pinggang 162 derajat ke kiri dan kanan. Baterainya diganti sendiri dalam sekitar tiga menit. Itulah alasan perusahaan berani bicara operasi seharian.

Mesin ini sudah masuk atau diuji di BYD, Geely, FAW-Volkswagen, Dongfeng Liuzhou, Foxconn, SF Express. Airbus membeli unit evaluasi awal 2026. Liuzhou memang kota mobil. Dongfeng dan SAIC-GM-Wuling ada di halaman belakang.

Zhou Jian, pada 12 September, bilang mereka memilih Liuzhou karena kota itu mengerti industri dan cara menopang usaha dari nol. Pabrik, katanya, bukan cuma angka 10.000. Itu lonjakan sistem mutu dan fondasi digital.

Zhang Zhuang, sekretaris partai kota, membingkai lompatan unit pertama, seribu unit, kapasitas sepuluh ribu sebagai jalur riset di kota besar, rakit di Guangxi, pasar di ASEAN.

Pang Jianxin, wakil presiden UBTECH, kepada Global Times mengunci argumen yang paling keras: tanpa rantai pasok Tiongkok, merakit massal komponen rumit hampir mustahil kecuali harga dikorbankan.

Michael Tam, kepala merek, sebelumnya mengatakan ke New York Times bahwa desain pagi jam sembilan bisa jadi suku cadang cetak pada siang hari. Lebih dari 90 persen komponen dari dalam negeri. Chip pengendali masih impor.

Kapasitas pabrik belum otomatis masuk proyek konstruksi Indonesia

Pendapatan grup semester pertama 2026 RMB 1,269 miliar, naik 104,2 persen. Margin kotor 44,7 persen. Perusahaan masih rugi RMB 338,8 juta. Humanoid ukuran penuh sudah menyumbang 46,5 persen pendapatan.

Target yang beredar: sekitar 5.000 unit sepanjang 2026, 10.000 pada 2027. Liuzhou dibangun untuk menopang angka itu, bukan untuk membuktikan angka itu sudah tercapai hari ini.

Harga resmi Walker S2 tidak ada. Riset menyebut harga jual industri di kisaran RMB 600.000, biaya bahan turun ke sekitar RMB 180.000. Target jangka panjang perusahaan: biaya produksi di bawah USD 20.000 per unit sekitar 2030.

Itu masih jauh dari beli di dealer, langsung kerja di tapak.

Untuk Indonesia, celahnya telanjang. Belum ada kontrak publik UBTECH dengan kontraktor IKN, MRT, atau pabrik semen yang muncul sampai akhir September 2026. Walker S2 hidup dari proyek kustom. Cruzr beroda lebih masuk akal di gudang semen dan batching daripada kaki humanoid di tapak basah.

Kita membeli alat kerja utuh plus integrasi, atau kita hanya menjadi pasar aktuator, peredam putaran, baterai, dan kamera sembilan puluh persen lebih buatan Tiongkok?

Pemda Liuzhou sudah memasang pabrik ini sebagai pintu ASEAN. Itu sinyal ekspor. Bukan otomatis alih teknologi.

Kalau harga jatuh pada 2027–2030 karena kapasitas 10.000 unit, kontraktor yang menunggu nanti saja kalau murah bisa ketinggalan data lapangan. Yang beli sekarang menanggung biaya integrasi yang masih mahal. Pesaing volume seperti Agibot, Unitree, dan Iron milik XPeng juga menekan pasar. UBTECH unggul di humanoid industri ukuran penuh, ganti baterai sendiri, dan pabrik khusus, bukan di unit termurah.

TechRadar dan media lain mengulang angka 10 menit. Yang belum diulang cukup keras: line itu campuran kaki dan roda, dan tes sesungguhnya terjadi di pabrik pelanggan, bukan di upacara peresmian.

Kalau satu robot industri bisa keluar setiap sepuluh menit di Guangxi, apa yang masih kita tunggu di tapak sendiri, mesinnya, atau keberanian membayar integrasinya?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.